Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis 76 Berhasil melupakannya?


__ADS_3

“Istrinya Mas Donny yang cantik sedang apa”. Mia meletakkan ponselnya di atas nakas saat melihat Donny masuk ke dalam kamar. Kecupan singkat Donny berikan di setiap sisi wajahnya dan berakhir dengan ciuman mesra bibir manisnya.


“Fiona bilang kangen sama aku, jadi kita janjian mau ketemuan besok”. Mia berdiri dan membantu suaminya melepas  dasi danjasnya.


“Bolehkan?” Donny mencium keningnya, lalu mengangguk dengan senyuman. Mia menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu kamar mandi.


“Kenapa pakai baju kotor, di ruang ganti kan banyak kemeja yang bisa kamu pakai”. Kata Donny terkejut melihat Mia memakai kemeja yang tadi dia pakai.


“Aku suka, ada baunya Mas Donny”. Donny tergelak “Mas Donny kan ada di samping kamu, jadi kenapa harus pakai baju kotor”. Mia membulatkan matanya lalu gantian tergelak.


“Biasanya bilang saya, kok ganti jadi Mas Donny?”


“Benarkah?” Donny pura-pura berfikir membuat Mia gemas dan mengecup bibirnya.


“Ayok, aku sudah lapar”. Mia menarik tangan suaminya.


“Bukannya kamu di rumah seharian? Kenapa bisa lapar?” Bu Mira yang sudah menunggu mereka di meja makan mendapat tatapan tajam dari Donny.


“Bu Mira, bukankah saya sudah bilang menjaga istri saya dengan baik. kenapa dia sampai kelaparan”. Bu Mira terkejut mendengarnya, bagaimana bisa kelaparan padahal yang di lakukan Mia sejak  bangun tidur hanya makan.


“Maafkan saya, Tuan”. Bu Mira hanya minta maaf tidak mau bicara, dia lalu melihat Mia yang sedikit aneh menurutnya.


‘Mungkinkah Nyonya sudah?’ Bu Mira lalu tersenyum dan kembali melihat Nyonya Mudanya itu.


 


“Tapi aku lihat Tuan Donny baik-baik saja, malah terlihat seperti anak muda yang sedang jatuh cinta”, komentar Al setelah Fiona menceritakan tentang masa lalu Mia yang kembali datang dan ingin bertemu dengannya.


“Benarkah” seru Fiona tidak percaya. “Heemm… kemarin saat rapat Tuan Donny malah tergelak dan sesekali tersenyum saat berbalas pesan dengan Nyonya”.  Fiona jadi membayangkan bagaimana reaksi orang-orang melihat Donny yang tiba-tiba tergelak di tengah rapat.


“Fiona…” panggil Al dengan lembut.

__ADS_1


“Hemm”. Jawab Fiona mengalihkan pandangannya pada Al. Alfandy sedang mengantar Fiona untuk menemui Mia.


“Aku percaya Tuan sangat mencintai Nyonya, dan hubungan mereka semakin baik setiap hari”. Fiona mengernyit saat Al menepikan mobil padahal mereka belum sampai di tujuan.


Al menatap dalam manik coklat Fiona, “Bisakah jangan terlalu banyak berfikir tentang kebahagian Nyonya, kau juga sudah harus berfikir tentang kebahagiaanmu”, ucap Al dengan tulus. Sepanjang mereka berhubungan, Fiona lebih banyak membahas tentang Mia tentang harapan-harapan tulus agar sahabatnya itu bisa bahagia.


“Aku berhutang banyak padanya Al, aku berjanji pada diriku untuk selalu menjaganya”.


“Aku juga sama seperti mu, Fiona. Sebelum aku mulai tertarik padamu, yang aku fikirkan hanya Tuan Donny. Aku sudah berjanji untuk selamanya hanya berdiri di belakangnya sampai aku sudah tidak berdaya lagi”. Al diam sejenak, semakin memperdalam tatapannya membuat Fiona mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia baru kali ini melihat Alfandy menatapnya sedalam itu.


“Tapi semuanya berubah saat aku mulai merasa ada seseorang yang juga ingin ku muliki. Aku juga ingin selalu berada di sampingnya”.


“Oleh sebab itu, aku mulai memikirkan tentang diriku tentang kebahagian yang ternyata sangat manis. Dan itu semua tidak bisa tanpamu, Fiona”. Al menjeda lagi, menarik nafasnya dalam “maukah kau melakukan hal yang sama, membuatku menjadi alasan untuk berfikir bahwa kau juga ingin bahagia bersamaku?”.


Tiba-tiba Fiona tergelak, membuat Al mengernyit tidak suka. Dia sudah mengucapkan kata-kata yang sarat akan makna tapi Fiona bukan terharu tapi malah menertawakannya.


“Apakah kau sekertaris Al?” ledek Fiona. Al menyalakan mesin mobil dan melanjutkan perjalanannya  sementara Fiona masih dengan gelak tawanya.


“Aku juga mau bahagia bersamamu Al, aku juga selalu memikirkan tentang diriku. Jadi aku menunggu bukti dari semua ucapanmu tadi”. Mereka sudah sampai di café tempat Fiona dan Mia janjian ketemu. Fiona memberi kecupan singkat di pipi Al sebelum keluar dari mobil. Wajah keduanya tampak berseri-seri dan kekesalan sudah hilang di wajah Alfandy.


“Pasti habis di gombalin sama Al, makanya sampenya lama”, cibir Mia. Dia sudah menunggu hampir satu jam, Donny mengatakan padanya bahwa Al sudah pergi sejak tadi mengantar Fiona.


Raut wajah Fiona tiba-tiba berubah mengingat tujuannya bertemu Mia.


“Kamu sudah ketemu Mas Dimas?” tanyanya langsung, Mia hanya mengangguk pelan.


“Dia bilang apa aja?”


“Maaf”


“Cuma itu?”. Mia mengangguk, “memangnya apa lagi yang mau dia bilang”.

__ADS_1


“Kamu baik-baik aja kan?” Tanya Fiona lagi, walaupun Al mengatakan hubungan Mia dan Donny semakin membaik, tapi dia tetap ingin memastikan.


“Dia berubah Fi, aku seperti tidak mengenalnya lagi. Dia sangat dingin padaku”. Fiona mengangguk sependapat dengan Mia. “Dia memang jadi dingin banget”. Mia mengernyit, “kamu sudah ketemu?” tanyanya terkejut.


“Dia datang mencariku kemarin”. Kata Fiona, “Untuk apa?”


“Hanya bertanya tentang kabar kamu”. jawab Fiona sedikit bohong, padahal tujuan sebenarnya Dimas mencarinya adalah untuk meminta Fiona agar mempertemukannya dengan Mia.


“Saat pertama kali melihatnya di Mall hari itu aku merasa ingin berlari dan memeluknya, aku pikir aku masih sangat merindukannya. Tidak aku benar-benar merindukannya”.  Mia kembali mengingat dia berperang dengan hatinya saat pertama kali melihat Dimas.


“Tapi saat aku melihat suamiku hari itu, semua yang menyeruak di hatiku kembali menghilang. Rasa sayangnya padaku mengubur cinta yang sempat kembali hadir mengusikku, menyembuhkan luka yang berdarah lagi”.


“Aku mungkin sudah merelakannya, semua rasaku tentangnya sudah ku kubur bersama kenangan manis dan juga luka yang dia torehkan”. Fiona memperhatikan raut wajah Mia, tidak ada mendung yang menyelimutinya.


“Aku bangga padamu Mi”, ucap Fiona membuat Mia terkekeh. “apa yang membuatmu bangga?” tanyanya mencibir dirinya sendiri.


“Kau berhasil melupakannya, bagaimanapun kenangan kalian sangat manis aku saja iri padamu. Kamu memiliki semua yang orang inginkan”. Bukan hanya Fiona, bahkan teman-temannya juga banyak yang iri melihat kebahagiannya dulu.


“Bagaimana denganmu, apa kau tidak ingin bertemu orang tuamu?” Tanya Mia dengan hati-hati, Fiona paling sensitif bila berkaitan dengan orang tuanya.


“Bukankah kamu sudah melupakan orang yang membuatmu terluka, aku juga melupakan orang yang membuatku terluka”. ucap Fiona tersenyum getir, dia memang tidak pernah lagi memikirkan orang tuanya.


Mereka berdua lalu kembali bercerita tentang rencana masa depan, berharap rencana mereka kali akan berjalan sesuai yang mereka inginkan.


“Aku ada urusan sebentar, kamu pulang duluan aja”. Kata Fiona yang menolak ketika Mia menawarkan tumpangan


“Iya, aku ngerti. Yang lagi jatuh cinta”. Ledek Mia, “Sok tahu, Al mau antar suami kamu pulang tahu”.


“terus kamu mau ke mana?” tanya Mia penasaran.


“Ada deh, mau tahu aja”. Fiona lalu masuk ke dalam taksi online yang baru saja tba, dia sudah memesannya tadi.

__ADS_1


Mia tersentak saat ada seseorang yang memegang tangannya saat akan masuk ke dalam mobil. Leo yang melihatnya menarik tangan orang itu dengan kasar lalu memberi bogem mentah di pipinya hingga orang itu jatuh tersungkur. Lalu dia semakin terkejut melihat orang yang sedang memegangi pipinya yang mengeluarkan darah.


“Mas Dimas”. Serunya.


__ADS_2