Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 40 Mabuk


__ADS_3

Pagi ini Mia bangun sangat terlambat karena tidak bisa tidur semalam. Dia lalu memberi kabar kepada menagernya kalau hari ini dia akan datamg terlambat karena diare. Alasan yang bagus pikirnya.


Dia sarapan sendiri di meja makan panjang itu. Bu Mira bilang Donny berangkat pagi sekali. Dia tahu Donny pasti sedang menghindarinya.


Sementara itu di kantornya Donny tertidur, di kursi kebesarannya. Alfandy sampai menghubungi Dokter Rafael dan menceritakan keadaan berantakan Donny saat ini. Dia tidak pernah sampai tidur di kantor seperti ini. Alfandy tidak berani membangunkannya. Rapat yang di jadwalkan pagi itu terpaksa di tunda dan menunggu instruksi Donny untuk jadwal berikutnya.


“Mia, dipanggil Ibu Mauren ke ruangannya”. Beritahu salah satu temannya di bagian administrasi.


Mia mengehla nafas dalam sebelum membuka kenop pintu.


“Siang, Bu” sapanya sopan. 


“Ini bukan perusahaan kamu Mia, kamu tidak bisa datang seenaknya. Bahkan Pak CEO dan para Direktur selalu datang tepat waktu, kamu yang hanya karyawan biasa tapi selalu datang terlambat”. Wanita itu bahkan tidak mempersilahkan Mia duduk dan langsung mengoceh saat Mia menutup kembali pintu ruangannya.


“Ini adalah terakhir kalinya, Mia. jika kau mengulanginya, maka serahkan surat pengunduran dirimu. Sekarang keluarlah”.


“Baik, Bu. Maafkan saya, ini tidak akan terulang lagi”.


Mia keluar dari ruangan Manager itu, sama sekali tidak memasukkan di hati apa yang di katakannya. Sejak awal dia di tempatkan menjadi Manager di bagain administrasi, wanita berusia sekitar tigah puluh tahun itu memang tidak menyukainya. Dia sering sekali memberi pekerjaan yang lebih banyak pada Mia dari pada yang lain, tapi sekalipun gadis itu tidak pernah mempermasalahkannya. Dan malah menyukainya.


Ingatan lalu kembali pada kejadian semalam. Dia lalu tiba-tiba merindukan Donny, dia tidak mau Donny mengabaikannya. Dia tidak mau membuat  hubungan yang tersisa dua bulan lagi itu menjadi canggung. Bukankah Donny semalam minta maaf padanya, toh hanya sebuah ciuman. Mia tidak akan mempermasalahkannya.


Hari ini Mia kembali makan malam sendirian, Donny mengatakan pada bu Mira akan pulang larut malam. Kali ini dia ingin makan di meja makan, tidak di bawa kamar saat dia harus makan sendiri.


“Bu, ayo makan bersama, kalian juga temani aku makan”. Serunya pada BuMira dan dua pelayan lain.


“Kami akan ada di sini menemani anda makan, Nyonya”. Gadis itu berdecak, dia merasa tidak enak orang-orang itu menungguinyan makan. Dia lalu menyelesaikan dengan cepat makan malamnya dan meningalkan ruang makan itu.


“Apa anda ingin di bawakan sesuatu, Nyonya?” Bu Mira melihat Mia makan hanya sedikit tidak seperti biasa saat Donny menemaninya makan, gadis itu makan banyak sekali.

__ADS_1


Mia berpikir sejenak. “mmm… salad buah, apa boleh?”


“Tentu saja, Nyonya. Saya akan mengatntarnya ke kamar anda”.  Bu Mira menundukkan kepalanya sopan saat Mia berlalu dari hadapannya.


Tidak berapa lama menunggu salad buah pesanannya sudah datang. “terima kasih, Bu”. Mia menaikkan sebelah alisnya saat Bu Mira tidak keluar dari kamarnya dan tetap berdiri di depannya.


“Tuan meminta saya menemani Anda”, ucap Bu Mira menjawab pertanyaan di kepala Mia.


“Kenapa? Aku juga biasanya sendiri”. Mulai ketus.


 “Mungkin anda akan membutuhkan sesuatu, Nyonya”.


“Aku masih punya tangan dan kaki, Bu. Bu Mira keluar aja”. Bu Mira lalu menunduk hormat, “saya ada di depan kalau anda membutuhkan saya”. Ucapnya sebelum berlalu.


“Istirahat saja Bu, saya bisa mengurus diri saya”. Bu Mira menutup pintu kamar dengan pelan, dia tetap menunggu di depan pintu seperti yang di perintahkan Donny padanya.


 Dia memberi ciuman hangat pada Donny saat mereka bertemu, Donny melepaskan ciuman Natasya merasa kalau ciuman itu tidak lagi terasa hangat seperti biasa.


“Aku berhasil Don…”, Natasya memberi sebuah dokumen berbahasa asing pada Donny, laki-laki itu mengambil dan membacanya.


“Apa maksudnya ini?” tanya Donny menggenggam erat kertas itu.


“Aku mendapatkan kontark itu, impian sepanjang hidupku. Akhirnya aku mendapatkannya”. Donny melempar dokumen itu hingga berhamburan di atas meja.


“Bukankah saya sudah mengatakan kalau ini kesempatan terakhir kamu, saya tidak bisa menunggu kamu lagi bahkan bila itu hanya beberapa bulan Natasya”. Donny marah, membuat Natasya terdiam. Donny tidak pernah marah padanya apapun keputuusan yang dia ambil.


Natasya mendapatkan kontrak eksklusif dengan brand ternama dunia sebagai salah satu brand ambasador internasional bersama para model papan atas kelas dunia. Di kontark itu tertulis dia tidak boleh menikah selama masih menjadi brand ambasador mereka.


“Saya akan memberi kamu pilihan sekarang. Saya atau kontrak itu”. Natasya diam, dia tidak mau kehilangan keduanya.

__ADS_1


Donny mengangguk, “Saya mengerti”, dia meninggalkan Natasya yang masih terdiam di tempatnya. Donny bahkan masih menunggu Natasya di depan pintu apartemen, menunggu gadis itu mengejarnya. Lalu akhirnya Donny benar-benar meninggalkannya.


“Ke Aprtement Rafael, Al”. perintahnya.


“Baik, Tuan” jawab Alfandy.


Donny langsung turun begitu mobil berhenti, dia tidak menunggu Al membukakan pintu untuknya.


“Kenapa datang tanpa memberitahu sebelumnya”, Donny langsung masuk dan membuang tubuhnya ke sofa.


“Saya butuh minum, Raf”. Rafael mengambilkan segelas air mineral pada sepupunya, Donny langsung menatapnya tajam.


Rafael mengerti lalu membawakan sebotol wine dan juga gelas kaca. Dia tidak akan menemaninya minum, Rafael akan ke rumah sakit saat Donny pulang nanti.


Donny meminum wine itu langsung dari botolnya sambil menceritakan apa yang terjadi dengannya. Kesabarannya pada Natasya benar-benar berakhir. Rasa jenuh pada hubungan yang tidak pasti membuatnya lelah. Cukup sudah. Hubungan enam tahun akan dia akhiri dengan yakin. Tiba-tiba laki-laki itu teringat pada Mia, teringat pada ciumannya. Hatinya yang tadi panas jadi menghangat.


“Kamu sudah mabuk, Don”. Rafael mengambil dengan paksa botol itu dari tangan Donny. Toleransinya pada alkohol sangat rendah, tapi dia menghabiskan hampir setengah botol.


Rafael sangat prihatin melihat keadaan sepupunya,Donny selalu datang padanya setiap kali Natasya menolak permintaannya untuk menikah. Dan ini adalah yang terparah dan membuatnya sampai mabuk. Rafael akan setuju Donny meninggalkannya.


Rafael menghubungi Alfandy agar naik ke unitnya untun membantunya memapah Donny dan membawanya pulang.


“Kenapa Tuan sampai mabuk begini, Dokter?” Alfandy panik melihat Tuannya sampai setengah sadar karena mabuk.


“Bantu saya, Al!” Al, lalu membantu Dokter Rafael memapah Donny, mereka mendudukkan Donny dengan hati-hati ke dalam mobil.


“Saya percayakan dia padamu, Al”. Alfandy menunduk sopan lalu membawa mobil itu meninggalkan apartemen Dokter Rafael.


“Semoga Mia mengurusmu dengan baik”. Dokter itu tersenyum samar lalu kemabli ke unitnya. Dia harus segera kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2