
Mia menatap tidak percaya pada seorang wanita yang tengah duduk dengan begitu anggun di depannya. Wanita itu benar-benar cantik, tingginya mungkin melebihi Donny. Dia hanya pernah melihatnya di media sosial saat mencari tahu tentangnya. Tapi sekarang wanita itu benar-benar ada di depannya.
Ternyata wanita ini yang sudah membuat seorang Donny Adriano menunggunya, dia benar-benar layak untuk di tunggu. Semua laki-laki mungkin akan dengan senang hati menunggu untuknya.
Tiba-tiba Mia jadi merasa kecil. Wanita di hadapannya itu sangat sempurna dari segala sisi, sangat pantas bersanding dengan seorang Donny Adriano di bandingkan dirinya.
Wanita itu menelisik Mia dengan seksama, “Kamu memang cantik, tapi apa kamu pikir kamu pantas berdiri di sampingnya?” Mia meremat tangannya, apa yang coba wanita itu katakan padanya.
“Kami saling mencintai selama enam tahun, kamu tahukan. Apa kamu tahu kalau dia juga terpaksa menikah dengan kamu karena paksaan Om Johan”. Raut muka Mia berubah pias, dia takut Natasya akan menyinggung perjanjian pernikahan yang dia buat dengan Donny karena itu akan menjadi kelemahannya.
‘Apakah Mas Donny menceritakan tentang perjanjian kami?’ tanyanya pada dirinya sendiri.
Natasya mengambil kesempatan ini untuk menyudutkan Mia, dia tahu gadis itu mulai terpojok. “Aku tidak tahu seperti apa hubungan yang kalian jalani. Aku hanya akan mengambil apa yang menjadi milikku”. Mia menundukkan kepalanya lalu dia ingat pada janji yang dia buat, dia akan berjuang mempertahankan apa yang ingin dia miliki dan itu memberinya kekuatan.
“Tapi aku dan dia sudah menikah, walaupun itu terpaksa tapi aku istrinya sekarang. Apakah anda tidak punya cukup harga diri untuk mengatakan bahwa dia milik anda”. Natasya mengepalkan tangannya kuat.
“Aku tidak perduli dia pernah menikah dengan kamu atau bahkan kalian sudah tidur bersama, aku tidak perduli. Aku…”
“Lalu kenapa anda tidak menikah dengannya, seharusnya anda meperjuangkannya sebelum dia menikah denganku bukan”. Natasya semakin mengepalkan tangannya. Ternyata gadis ini cukup tegar.
“Ayo berjuang bersama”. Natasya menatapnya tajam. “Perjuangkan dia. Aku akan mempertahanknya di sisiku dan anda akan mengambilnya kembali, kita lihat ke mana dia akan pergi”. Kata Mia dengan yakin.
__ADS_1
Natasya terlihat menimbang, dia memang harus berjuang bukan. “Baiklah”. Katanya menyetujui ide yang menurutnya cukup adil.
“Tapi bila dia datang padaku, aku harap anda tidak akan pernah menggangu ku dan dia lagi”.
“Dan bila dia kembali padaku, aku harap kau pergi yang jauh ke tempat dia tidak bisa menemukanmu”. Mia terdiam, dia jadi takut kalau Donny akan memilih Natasya dari pada dirinya. Apakah dia harus kembali mengalamai patah untuk yang kedua kalinya.
Natasya menaikkan sebelah alisnya menunggu jawaban Mia, lalu dengan berat Mia mengangguk menyetujui. Bukankah dia juga punya syarat pada wanita itu. Mia lalu meninggalkan wanita itu lebih dulu, sudah cukup lama dia meninggalkan kantor. Dia akan menggantinya dengan jam makan siangnya nanti.
Mia terus memikirkan percakapannya dengan Natasya hingga membuatnya tidak berkonsentrasi pada pekerjaannya. Managernya itu melemparkan kertas-kertas yang baru dia print tadi membuatnya terlonjak kaget.
“Apa yang ada dalam pikiranmu, Mia. Hanya mengerjakan pekerjaan sepele kau bahkan tidak becus”. Mia memungut kertas yang berserakan di lantai, Cilla dan yang lainnya membantunya. Ini adalah kesalahan pertama yang dia lakukan semenjak tiga tahun bekerja di perusahaan itu.
“Kau tahu aku di marahi habis-habisan karena kesalahanmu yang tidak teliti”. Cilla ingin maju dan membantah tapi Mia memegang tangannya.
“Tidak perlu”, Sergah Bu Mauren. “Risa, kerjakan ini dengan baik”. dia menyerahkan kertas-kertas yang tadi sudah dia lemparkan itu pada teman Mia yang lain lalu masuk kembali ke dalam ruangannya.
“Kamu kenapa, Mia? Biasa kamu yang paing teliti di antara kita”. Mia mengangkat sebelah bahunya, gadis itu menutup matanya dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
“Kamu kenapa juga masih kerja sih, suami kamu kan yang punya perusahaan ini. Harusnya kamu nikmati saja menjadi Nyonya Muda”. Mia hanya mengehela nafasnya, seandainya saja Cilla tahu seperti apa keadaanya sekarang.
Mia langsung pulang begitu jam pulang kantor tiba, dia hanya ingin segera sampai di rumah dan menunggu Donny. Hatinya akan tenang melihat laki-laki itu, apalagi berada dalam pelukannya benar-benar membuat ahtinya damai.
__ADS_1
Mia merendam dirinya dengan air hangat, rasanya sangat segar sampai-sampai dia tidak ingin keluar dari bathtup.
Setelah merendam dirinya cukup lama, Mia keluar dari kamar mandi dan hanya memakai handuk yang menutup di atas dadanya. Donny akan pulang terlambat malam ini pikirnya. Dia masuk ke ruang ganti, matanya tertuju pada kemeja-kemeja Donny yang berjejer dengan rapi. Dia menghampiri lemai tanpa pintu itu, mengambil satu yang berwarna putih.
Kemeja itu terlihat kedodorang di tubuh kecilnya, panjangnya menutupi sepotong paha mulusnya. Nyaman, dia merasa kemeja itu sangat nyaman di tubuhnya. Bau parfum Donny juga masih melekat walaupun sudah di cuci.
Pintu ruang ganti di ketuk, Mia dengan santai membukanya. Kelopak matanya membulat melihat Donny berdiri di depan pintu. Donny melihat Mia dengan pandanganyang tidak terbaca, sementara Mia masih Mia masih terpaku di tempatnya.
“Mas Donny, katanya mau pulang terlambat”. Donny mendekatinya membuat Mia refleks mundur, tapi Donny terus maju hingga Mia bersandar pada tembok.
“Mas, Mas Donny marah aku pakai kemajanya. Aku cuma co….”. Donny menempelkan bibirnya membuat Mia tidak bisa melanjutkan ucapannya. Mia terperanjak sungguh tidak siap dengan ciuman tiba-tiba Donny.
Setelah bisa mengendalikan dirinya Mia lalu mengalungkan lengannya di leher Donny dan perlahan-lahan membalas sentuhan lembut bibir Donny di bbirnya.
Ciuman itu semakin dalam dan semakin panas, Donny melepas bibirnya dari bibir Mia tapi itu tidak berhenti sampai di situ. Ciuman itu turun ke leher jenjang Mia, Donny menghirup bau harum dari tubuh istrinya membuatnya semakin menginginkan sesuatu yang lebih.
Donny menggendong Mia dan meletakkannya hati-hati di tempat di tidur. Mia melihat tatapan Donny sangat berbeda. Mia meremat seprei dengan kuat ketika Donny kembali menyatukan bibirnya. Pelan-pelan kecupan itu sudah berpindah ke leher Mia lalu semakin turun… Donny mendongakkan wajahnya, “Bolehkah saya melakukannya?”
Mia tergugu, matanya berkedip-kedip dengan lucunya. Lalu kemudian dia tersadar bahwa dia sedang ingin berusaha mempertahankan laki-laki ini tetap disisinya. Mia mengangguk, seutas senyum terbit di bibir Donny.
Dia melepaskan kancing kemaja Mia satu demi satu lalu menenggelamkan wajahnya di d*d* istrinya. Mia memejamkan matanya membiarkan Donny melakukan apapun pada tubuhnya. Dia akan mengorbankan sesuatu yang paling berharga dalam dirinya, jika itu bisa membuat Donny tetap disisnya, kenapa tidak. Status mereka saat ini juga adalah suami istri kan. Untuk kali ini dia ingin melakukan sesuatu untuk keinginannya. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia benar-benar akan berjuang untuk apa yang ingin dia miliki.
__ADS_1
Donny mengecup, mencecap dan meninggalkan banyak tanda kemerahan di sekita d*d* Mia membuat Mia meringis. Donny melakukannya dengan hati-hati karena itu adalah yang pertama untuk Mia, Donny tahu itu. Tapi Mia tidak tahu kalau itu juga yang pertama untuk Donny.
Mereka akhirnya menikmati malam pertama mereka, benar-benar menjadi malam yang pertama bagi mereka berdua.