
Mia mencoba mengingat dengan keras apa yang dia katakan semalam, dia ingat kalau mereka berciuman tapi tidak ingat apa yang di katakannya. Saat bangun tadi dia sudah tidak melihat Donny di sampingnya, tentu saja, sekarang jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Donny mungkin sudah sibuk di ruang kerjanya.
“Aduh kepalaku, aku minum berapa banyak sih. Habis wine nya benar-benar enak”. Mia meringis memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
Saat keluar dari kamar mandi, Mia sudah melihat Bu Mira membersihakan tempat tidur. Dengan jubah mandi yang masih melekat di tubuhnya, Mia mendekati Bu Mira yang sedang mengganti seprei tempat tidur.
“Maafkan saya, Nyoya. Saya sudah mengetuk pintu tadi. Sarapan anda sudah ada di atas meja, silahkan”. Ucap Bu Mira dengan sopan.
“Mas Donny mana, Bu?”
“Tuan ada di ruang kerjanya bersama sekertaris Al, Nyonya”. Mia hanya membulatkan bibirnya, seperti yang dia duga. Mia lalu meninggalkan Bu Mira menuju ruang ganti.
“Apa ada yang anda butuhkan, Nyonya” tanya Bu Mira saat melihat Mia sudah berganti baju dengan pakaian rumahannya.
“Nggak ada. Makasih ya Bu, sejak saya datang ke rumah ini Bu Mira selalu baik sama saya”. Ucap Mia dengan tulus.
“Anda adalah istri Tuan Donny, tentu saja saya akan melayani anda dengan baik”. Jawab Bu Mira, wanita paruh baya itu memberi senyum hangat pada Mia.
“Kalau saya buka istri Tuan Donny”. Mia menaikkan sebelah alisnya menunggu jawaban Bu Mira. “Apa Bu Mira masih tetap baik sama saya?”
Bu Mira terkekeh, Mia takjub di buatnya. Itu pertama kalinya dia melihat wanita itu memamerkan gigi ratanya di depan Mia.
“Anda bicara apa Nyonya, anda adalah istri Tuan Donny dan selamanya akan menajdi Nonya Muda di rumah ini”. Mia hanya memanyunkan bibirnya, jawaban Bu Mira tidak memuaskan hatinya.
Bu Mira lalu berjalan keluar kamar, “anda mau kemana?” tanya Bu Mira saat melihat Mia mengikutinya keluar kamar.
“Mau cari Mas Donny”.
__ADS_1
“Tapi sarapan anda”.
“Nanti”, jawabnya yang sudah menjauh. Mia tidak terlalu lapar, perutnya masih kenyang dengan makanan kemarin yang Donny kirim ke kontrakan. Pusing di kepalanya juga sudah hilang saat dia mengguyurnya dengan air dingin tadi. Sekarang dia sangat ingin bertemu dengan suaminya.
Mia membuka pintu kayu itu ketika terdengar sahutan dari dalam saat ia mengetuknya tadi. Donny langsung berdiri dan mendekati istrinya, sedangkan Al melanjutkan pekerjaannya.
“Sudah tidak pusing lagi?” Mia menggeleng. “Mas lagi kerja ya, ini kan hari minggu”. Mia sudah menarik tangan Donny menjauh dari ruang kerjanya.
“Mas, semalam aku ngelantur nggak jelas yah”. Donny menautkan alisnya, pura-pura bingung.
“Waktu aku mabuk, aku bilang apa aja?”. Donny terkekeh, “kamu tidak bicara apa-apa”. Ucap Donny bebohong.
“Benarkah?”, Donny mengangguk. “tapi apa yang kamu lakukan, apa kamu juga lupa?”. Donny mencoba menahan senyum melihat wajah semerah tomat istrinya.
“Mas…”Mia memukul dada Donny dengan malu-malu. Mereka lalu bergandengan tangan kembali ke kamar mereka.
“Siapa bilang saya tinggal sendirian. Ada Bu Mira dan para pelayan yang lain”. Donny membuka handle pintu, mereka lalu masuk bersama.
“Rafael bahkan tidak mau tinggal disini karena menurutnya rumah ini terlalu ramai dengan pelayan. Dia tidak suka banyak orang yang berlalu lalang di hadapannya”.
“Maksud aku, tidak ada keluarga yang bisa Mas Donny ajak cerita”.
“saya menganggap mereka semua seperti keluarga sendiri, terutama Bu Mira yang sudah bekerja di rumah ini sejak saya masih kecil”. Mia mengangguk-angguk.
“Terus, apa Bu Mira sudah menikah?”
“Sudah”. Mia membulatkan matanya, entah sejak kapan dia menjadi tertarik dengan kehidupan orang lain.
__ADS_1
“Suaminya meninggal bersama Opa dalam sebuah kecelkaan”. Mia diam, dia jadi mengingat ayahnya yang juga meninggal dalam sebuah kecelakaan. Donny memeluknya, ingat kalau mertuanya juga meninggal karena hal yang sama.
“Kenapa sarapannya nggak di makan”. Donny melirik makanan yang masih utuh di atas meja.
“Mas Donny lupa kemarin Mas Donny kirim makanan banyak banget, aku sama Fiona sampai kewalahan ngabisin. Bahkan masih ada lebihnya”. Donny terkekeh. “ Saya cuma tidak mau kamu kelaparan”.
“Tapi itukan kemarin, hari ini juga beda”. Donny melirik jam tangannya, sudah pukul dua belas lewat. “Ayo, makan siang mungkin sudah siap”. Mereka lalu kembali bergandegan tangan keluar kamar.
Senin pagi selalu menjadi hari yang paling tidak di sukai Mia sejak masih sekolah, itu berarti akhir pekan masih beberapa hari lagi. Tapi senin pagi ini berbeda dari biasanya. Donny memberinya kecupan selamat pagi saat dia membuka mata, dan itu memberi semangat luar biasa padanya.
Mia akan membiarkan hubungannya dengan Donny mengalir bagai air. Ciuman lembut Donny atau kecupan singkat sudah dia anggap biasa dan tidak lagi membuat canggung di antara keduanya. Mia merasakan ketulusan dan kasih sayang Donny sudah berbeda belakangan ini, dia lebih menunjukkan perasaan laki-laki kepada wanita dari pada perasaan kakak pada adiknya seperti di awal pernikahan mereka. Dan Mia menyukainya.
Pagi ini Donny kembali mengantar Mia, dan gadis itu tidak banyak protes lagi saat mobil Donny berhenti tepat di depan pintu utama gedung Wijaya Mandiri.
“Saya akan pulang agak terlambat malam ini, kamu makan malam sendiri ya”. Donny membelai lembut pipi istrinya, Mia memanyunkan bibirnya lama kemudian baru mengangguk.
Leo turun dan membukakan pintu untuknya. Mia tetap melenggang dengan santai bahkan ketika puluhan pasang mata sedang tertuju padanya bertanya-tanya siapa yang tadi mengantarnya dengan mobil mewah.
Dan tanpa ada yang menyadari ada sepasang mata yang melihatnya dengan hati yang terluka. Donny benar-benar sudah mulai menunjukkannya pada orang-orang.
“Kamu hanya sedang bimbang, Don. Aku yakin yang kau rasakan padanya bukan cinta, kamu hanya kesepian karena aku tidak berada di sampingmu. Mulai sekarang aku tidak akan meninggalkan kamu, aku mau menikah dan hidup selamanya dengan kamu”. gadis itu berucap lirih sambil menguatkan cengkramannya pada setir mobilnya.
Natasya sudah menunggunya sejak tadi, dia mendapatkan informasi kalau Mia bekerja disini. Dia akan menemui gadis itu dan memintanya meninggalkan Donny.
“Donny milikku, hanya milikku. Aku tidak mau milikku di ambil orang lain apalagi itu hanya gadis yang tidak ada apa-apanya seperti dirimu”. Natasya lalu memakai kaca mata hitam dan maskernya agar tidak ada yang mengenalinya, dia keluar dari mobilnya dan memasuki gedung Wijaya Mandiri.
Proporsi tubuhnya yang mencolok serta barang-barang bermerk yang melekat di tubuhnya tetap membuatnya menjadi pusat perhatian walaupun dia sudah berpenampilan sesedarhana mungkin. Dia mendekati receptionis dan mengatakan maksud kedatangannya.
__ADS_1