Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 59 Di pecat


__ADS_3

Mia duduk lemas di kursinya setelah keluar dari ruangan Bu Maureen. Managernya itu memintanya menyerahkan surat pengunduran diri.


“Bukankah saya sudah mengatakan kepada kamu saat terakhir kali kamu terlambat bahwa itu benar-benar menjadi yang terakhir”. Wajah Bu Maureen sudah menunjukkan kalau tidak ada tawar menawar lagi dalam hal ini.


“Mas Donny harus tanggung jawab, gara-gara dia aku sampai terlambat ke kantor”. Dengan wajah yang kesal Mia meninggalkan Wijaya Mandiri, dia belum bilang apa-apa pada teman-temannya karena berharap Donny akan membantunya untuk kembali bekerja di perusahaan itu.


“Leo, kita ke kantor nya Mas Donny, ya”. Leo dengan cepat membuka pintu mobil untuk Mia. Mia sudah menghubunginya tadi, memintanya menunggu di depan pintu utama.


Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai, itu bila dalam keadaan lenggang. Kalau dalam keadaan yang ramai seperti di pagi hari mungkin membutuhkan waktu lebih dari itu.


“Mas Donny pasti telat banget ke kantor kalau antar aku dulu”, gumamnya. “Tuan Donny kan Bossnya, jadi tidak masalah Tuan mau datang jam berapapun”. Gumamam Mia ternyata di dengar Leo. Mia hanya mencibir. Dia memang boss, batinnya.


Mobil sudah sampai, Mia menunggu Leo membuka pintu untuknya. Penjaga keamanan yang mejaga di depan pintu utama menunduk hormat begitu melihatnya, dia mengenali wanita yang pernah di genggam tangannya oleh Tuan Donny.


“Nyonya, tunngu”. Leo berlari kecil mengejar Mia, dia akan mengantar Mia sampai di dalam ruangan Donny seperti perintah Donny waktu itu. Reseptionis yang mengenalinya juga menundukkan kepala memberi salam hormat padanya. Mia hanya tersenyum canggung dengan sedikit menundukkan kepalanya.


“Apa Tuan ada di dalam?” Leo bertanya sopan pada sekertaris Donny, kedua sekertaris itu menundukkan kepala melihat Mia.


“Tuan Donny ada di dalam, mari saya akan mengantar anda”. Salah satu sekertaris itu menuntun Mia menuju ruangan suaminya. Leo sudah meninggalkan Mia begitu melihat sekertaris itu membukakan pintu untuknya.


Donny mendongak melihat ke arah pintu yang terbuka, lalu berdiri secepat kilat ketika melihat istrinya ada di sana. Sekertaris itu menunduk hormat pada keduanya lalu menutup pintu dengan pelan.


Seperti ada yang kurang dalam ruangan Donny. Mia melihat dengan teliti sekali lagi, benar, sekertaris yang selalu berdiri di belakang suaminya. Dia tidak melihatnya di sana.


“Sekertaris Al di mana, Mas?”

__ADS_1


“Kamu cari Al atau cari saya?” Mia berdecak memutar bola matanya, dia paling malas meladeni orang yang menjawab pertanyaanya dengan pertanyaan.


“Al ada di ruangannya, kamu mau saya antar ke ruangannya”, Mia menatap Donny dengan terkejut. “Jadi Al punya ruangan sendiri juga, aku pikir dia satu ruangan sama Mas Donny”. Mia menutup mulutnya yang terkekeh.


Donny membawa istrinya duduk di sofa panjang yang ada di ruangannya lalu dia ikut duduk di samping istrinya.“Kenapa tidak istirahat saja di rumah”.Tawanya terhenti ketika mengingat tujuannya datang menemui suaminya. Raut wajahnya sudah di ubah dengan raut wajah memelas, tangannya juga sudah melingkar di lengan suaminya.


“Aku mau minta tolong”. Donny menaikkan sebelah alisnya. “Aku di pecat”. Katanya dengan memajukan bibirnya.


Tawa donny seketika pecah dan menggema di ruangan presdir, Mia sampai terkejut di buatnya. “Siapa yang berani memecat istri saya?” katanya di sela tawanya. “Sepertinya saya harus menaikkan jabatannya karena melakukan pekerjaan yang tidak bisa saya lakukan”.


“Mas…" sudah mulai merajuk "aku butuh pekerjaan itu”. Donny yang sudah bisa mengendalikan dirinya membelai lembut pipi istrinya, kini raut wajahnya lebih serius. “Kamu sudah menyerahkan yang paling berharga dari diri kamu, kenapa masih ragu bersandar sepenuhnya sama saya?” Mia terdiam, bibirnya sedikit terbuka, bulu mata lentiknya bergerak naik turun dengan cepat.


Seperti ada angin yang berhembus di hatinya, memberi kesejukan dan ketenangan. Kata-kata Donny barusan mengandung makna yang dalam untuknya. Dia sudah menyerahkan miliknya yang paling berharga, lalu apa lagi yang dia takutkan. Natasya, dia bahkan berada beberapa langkah di depan wanita itu.


Tangan Donny terus bergerak menyusuri wajah istrinya dengan lembut, matanya bergulir di bibir Mia yang terbuka, dia mendekatkan wajahnya lalu mempertemukan bibir mereka. cukup lama sampai akhirnya Donny melepaskan pagutannya, dia menghapus jejak-jejak basah yang menempel di bibir istrinya.


Laki-laki itu berdiri menuju mejanya, dia mengambil sesuatu dari dalam laci.


“Apa ini?” Donny menyerahkan sebuah map padanya. Mia mebukanya, kelopak matanya membulat sempurna setelah melihat isi dari map putih itu. Dia memeluk suaminya, air matanya jatuh menetes. Rasa haru menyeruak di dalam hatinya.


Tujuan hidupnya sekarang ada di tangannya, hal yang membuatnya melanjutkan hidupnya kini sudah ada di genggamannya. Tapi setelah dia jatuh cinta pada suaminya yang entah sejak kapan, tujuan hidupnya pun berubah.


‘Apa tidak terlalu serakah kalau aku mau memiliki kamu selamanya’ ucapnya lirih di dalam hatinya.


“Saya akan meminta Al mengurus renovasinya, kamu hanya tinggal memperlihatkan padanya kamu ingin rumah itu di ubah seperti apa?”. Air mata yang tadi sudah bisa di kendalikannya kini jatuh menetes lagi. Suaminya ini benar-benar malaikat tanpa sayap untuknya.

__ADS_1


Mia mengangguk, rasa haru yang masih menyeruak tidak bisa membuatnya berkata apa-apa. Donny mencium pucuk kepalanya dengan lembut.


“Mau makan atau minum sesuatu?”


“Mau air mineral aja”. Donny membuka lemari pendingin yang ada di sudut ruangannya lalu mengambil sebotol air dari sana. Dia membuka penutup botolnya lalu memberikannya pada istrinya.


“Jadi aku bikin apa seharian kalau tidak kerja”, katanya sambil menyimpan botol air yang hanya di minumnya seteguk.


“Diam di rumah menunggu saya pulang”, Mia menundukkan kepalanya malu saat Donny mengatakannya dengan intonasi yang bisa Mia tebak arahnya. Donny terkekeh, wajah malu istrinya sangat manis dimatanya.


“Kamu bisa jalan ke mall, berbelanja seharian. Terserah kamu”. Mia mengerucutkan bibirnya kali ini.


“Temanku semuanya kerja, aku mau main sama siapa. Lagi pula kalau aku ke mall setiap hari, Mas Donny pasti bangkrut”.


“Memangnya kamu mau beli setiap Mall yang kamu datangi beserta isinya?”


“Boleh Juga”. Mereka lalu tertawa bersama.


Donny menyahut setelah terdengar ketukan pintu, Al masuk dengan tablet di tangannya. Dia menunduk hormat pada Donny lalu pada Mia.


“Tuan, Anda ada janji makan siang dengan Pak Menteri”. AL mengingatkan, dia takut Donny melupakan janji pentingnya.


“Aku pulang aja”. Mia lalu beridri, dia tidak mau mengganggu Donny dengan pekerjaannya. Padahal tanpa dia sadari, Donny sudah meninggalkan banyak pekerjaan pentingnya dan menemaninya tadi. Dengan berat hati Donny membiarkan istrinya pulang, seandainya yang mengundangnya bukan seorang menteri Donny pasti sudah membatalkannya dan memilih makan siang bersama istrinya.


“Aku mau makan siang sama Fiona aja, Fiona nggak sibukkan”. Donny menangguk lalu meminta AL mengantar Mia pada Fiona. Donny memberi kecupan singkat di bibirnya sebelum Mia meningalkan ruangannya. Al membulatkan matanya lalu seketika membuang pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


‘hubungan mereka sudah sejauh itu ternyata’ ucapnya dalam hati. Al tidak tahu kalau hubungan Tuan dan Nyonya mudanya bahkan sudah lebih dari hanya sekedar kecupan di bibir.


__ADS_2