
Donny dan Johan berlari memasuki rumah sakit menuju ruangan dimana istri mereka di rawat. Dari jauh Rafael sudah terlihat menyambut kedatangan Donny dan Johan.
“Don, Pa”. sejak orang tuanya meninggal, Rafael sudah menganggap Johan dan Laura sebagai orang tuanya dan begitupun sebaliknya.
“Bagaimana keadaan mereka?” Tanya Donny yang dia angguki cepat oleh Johan “Bagaiana Mama kamu dan Mia?”.
“Mereka tidak apa-apa. Mia mengalami kram perut ringan mungkin karena terkejut sedangkan Mama, punggungnya agal lebam karena benturan tapi tidak sampai mengalami patah tulang”. Rafael mengantarkan Donny pada Mia sedangkan Johan sudah tahu di mana istrinya berada.
Donny terlihat menghelanafas dengan berat. Dia ingin marah, ingin sekali. Tapi dia tidak mungkin tega marah pada istri cantiknya. Melihat wajah damainya yang tertidur lelap melunturkan semua amarahnya.
“Obatnya tidak menimbulkan kantuk, mungkin dia kelelahan jadi tertidur. Ah, kalau dia bangun kamu harus memaksanya makan. Sedikit saja asal dia punya tenaga”. Ucap Dokter Rafael.
“Jangan memarahinya, dia sangat takut tadi kalau kamu akan marah padanya”. Donny menyelipkan rambut yang menutupi sebagian pipi istrinya lalu membelai pipinya dengan lembut “mana mungkin aku tega memarahinya”.
“Apa orang itu sengaja melakukannya?” Donny mengalihakan pandangan dari wajah istrinya, memandang sepupunya itu penuh tanya lalu kembali memandang istrinya.
“Kenapa banyak sekali orang yang ingin menyakitinya, Raf. Saya merasa gagal melindunginya”. Ucapnya penuh sesal.
“Bukan salahmu, kau sudah berusaha yang terbaik untuk menjaga dan melindunginya. Jangan menyalahkan dirimu”. Ucap Dokter Rafael menepuk bahu sepupunya.
Pintu kamar terbuka, Laura dan Johan masuk bersama. Donny dan Rafael beridiri menghapiri mereka. “Maafkan Mam, Don. Seandainya Mama tidak mengajak Mia keluar, semua ini pasti tidak akan terjadi”. Laura menyesal, dia merasa bersalah sudah mengajak Mia jalan-jalan.
“Bagaimana keadaan Mama?” Donny mengabaikan rasa sesal Mamanya, dia tahu kalau Mamanya hanya ingin menghibur Mia.
“Mama tidak apa-apa”. Jawab Laura. Mereka lalu mengalihkan pandangannya pada wanita yang bergerak-gerak di tempat tidur.
__ADS_1
“Mas…”, Mia terkejut melihat suaminya sudah ada di depannya saat dia membuka mata. “Maaf”, ucapnya dengan menunduk melihat wajah yang di tampilkan suaminya.
“Apa ada yang sakit”. Mia mengangkat kepalanya melihat wajah suaminya yang sudah kembali hangat. Dia memang tidak menampakkan kemarahan dengan kata-kata tapi wajahnya tidak bisa dia sembunyikan kalau dia sedang sangat marah. Tapi marahnya hanya beberapa detik saja, melihat istrinya yang menunduk takut melihatnya membuat amarahnya kembali hilang.
Mia melihat Johan dan Laura, dia ingin berdiri menghampiri mertuanya tapi Donny menahan tangannya. Lalu mertuanya berjalan mendekat.
“Mama tidak apa-apa”, Mia tadi melihat mertuanya melindungi perutnya agar tidak terbentur lantai.
“Mama tidak apa-apa sayang” ucap Laura melegakan Mia. “Makasih, Ma”. Ucapnya dengan tulus. Dia tidak bisa membayangkan kalau Laura tadi tidak menariknya mungkin dia sudah jatuh tergulung-gulung di tangga eskalator. Mia langsung memegang perutnya.
“Bayinya tidak apa-apa”. Ucap Donny melihat istrinya memegang perutnya.
Johan dan Laura meninggalkan anak dan menantunya, Dokter Rafael tadi menyuruhnya agar jangan banyak bergerak. Sekarang di kamar itu tinggallah Mia dan Donny.
“Mas, siapa orang-orang yang tempo hari menghadang ku di jalan?” Mia sebenarnya sudah melupakan kejadian tempo hari, tapi saat melihat dengan samar orang yang mendorongnya tadi dia jadi kembali mengingat kejadian itu. mungkin orang itu tidak puas jika belum melihatnya terluka parah atau bahkan mati.
“Mas, apa menurut Mas Donny aku orang jahat? Apa aku tidak pantas bahagia? Aku bahkan menjadi penyebab Ayahku meninggal”. Donny tercengang dengan perkataan istrinya. “Kenapa kamu bicara seperti itu?”
“Kenapa banyak orang yang mau mencelakai aku”. Ucapnya lirih. Donny membalikkan tubuh istrinya menghadapnya, dia memegang kedua bahunya dan menatapnya dalam penuh cinta.
“Kamu wanita dengan hati terbaik yang pernah saya temui. Jangan pernah berkata seperti itu lagi. Mmm”. Donny memeluk istrinya dan mngusap surainya dengan lembut.
“Kamu lihat siapa yang mencoba mendorong kamu?” Mia menggeleng, tidak mau mengatakannya pada suaminya. Dia takut suaminya mungkin saja menyakiti orang itu.
Selalu memikirkan orang lain, lalu masih bertanya apakah dia orang jahat. Bukan salahnya bila orang-orang mencintainya. Dia tidak pernah mengemis cinta pada siapapun. Dia bahkan menjauhkan dirinya dari cinta selama bertahun-tahun, menutup rapat hatinya dan membangun tembok yang kokoh yang tidak bisa di tembus siapapun.
__ADS_1
Lalu seseorang datang menghancurkan tembok itu, apakah salahnya menerima kehadiran seseorang yang perlahan-lahan menyembuhkan luka di hatinya. Dia hanya mencoba mempertahankan miliknya, apa dia salah tentang itu.
Juga ada orang lain yang ternyata masih mencintainya. Apakah itu juga salahnya sehingga orang itu masih mencintainya walaupun dia sudah tidak mungkin kembali padanya.
Mia terisak, Donny memeluknya dan menanangkannya. “Sayang, jangan menangis. Mas Donny berjanji kalau tidak akan ada lagi yang akan menyakiti kamu”. Hatinya ikut merasakan sakit melihta istrinya menangis. Dia merasa sudah benar-benar gagal melindungi istrinya.
“Mas, aku lapar”. Katanya di tengah isaknya. Donny terkekeh dia mencium pipi basah istrinya lalu menghapus air mata yang masih menempel di sana.
“Kamu mau makan apa?”
“Aku mau makan ayam goreng tepung dengan soas lombok dan mayonise, aku juga mau ayam goreng kecap dengan banyak bawang bombay aku juga mau….” Mia menyebutkan banyak jenis makanan, Donny sekali lagi terkekeh lalu menghubungi Bu Mira agar segera menyediakan semua pesanan istrinya.
Membayangkan semua makanan yang dia sebutkan tadi membuat wajahnya terlihat lebih cerah. Donny sampai mengkerutkan keningnya melihat perubahan mood istrinya. tadi dia menangis terisak dengan sedihnya dan sekarang dia bertepuk tangan dengan riang setelah Donny menyebutkan kembali dengan benar semua pesanannya pada orang di sebrang telepon.
Mia mungkin melupakannya, tapi Donny mengingat dengan jelas bagaimana istrinya menangis tadi. Donny yakin Mia tahu siapa yang mendorongnya, dia menyembunyikannya pasti karena tidak mau Donny menyakiti orang itu.
Donny mencium keningnya, dia tidak bohong mengatakan kalau Mia punya hati yang baik. wanitanya itu memang memiliki hati yang baik, tapi tidak dengan dirinya. Dia tidak akan melepaskan dengan mudah orang yang sudah menyakiti istrinya.
Makanan pesanan Mia sudah datang, dia terlihat makan lahap sekali. Donny meminta Mamanya menemani Mia sebentar. Dia ingin menghubungi Al, tapi tidak ingin Mia mendengarnya.
“Apa….” Johan berteriak marah saat Donny menceritakan tentang Amelia yag mencoba menyakiti Mia, Papanya sama dengannya dalam hal melindungi yang dia sayangi. Tidak ada maaf.
“Bagus, Don. Dia memang pantas mendapatkannya”. Ucapnya setelah Donny mengatakan hukuman yang dia berikan pada Amelia.
“Hampir saja aku membunuhnya dengan kedua tanganku, Pa. Aku seperti hilang kendali saat melihat istriku berdarah”.
__ADS_1
“Kau tidak perlu mengotori tanganmu, biarkan Alfandy yang mengurusnya”. Ucap Johan.
“Lalu siapa yang mendorong Mia?” Tanya Johan. Donny menghela nafasnya. Mia benar, kenapa banyak orang yang ingin menyakitinya.