Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 55 Isi hati yang sebenarnya


__ADS_3

Donny langsung menuju Aprtemen begitu Natasya mengirimkan pesan bahwa dia ingin bertemu. Mereka harus bertemu untuk menyelesaikan yang tersisa di antara mereka.


Natasya menunggu dengan tidak sabar, rasa percaya dirinya kembali mendominasi. Dia yakin Donny akan kembali padanya setelah mengetahui  dia melakukan pengorbanan besar untuk menyelamatkan hubungan mereka. Amelia menemaninya sambil menunggu kedatangan Donny.


Natasya mendengar seseorang membuka pintu, dia berdiri melihat apakah benar itu Donny. Senyum merekah di bibirnya melihat Donny, tidak lama setelah dia mengirimkan pesan dan laki-laki itu benar-benar ada di hadapannya sekarang. Amelia menunduk sopan tapi Donny mengabaikannya membuat wanita memakinya dalam hati.


“Terima kasih sudah mau datang”, Ucap Natasya tulus. Donny lalu duduk bersandar di sofa dengan memangku kakinya.


“Aku membatalkan kontrak itu, Don. Aku memilih kamu”. Donny menghela nafasnya “Terlambat, Na. kamu sudah terlambat”.


“Kenapa, ini bahkan belum beberapa bulan sejak kamu menikah”.


“Saya meminta kamu memilih hari itu, tapi kamu hanya diam dan saya menganggap kamu lebih memilih kontrak itu”. Bibir gadis itu terbuka, dia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak terima.


“Kamu tanya apakah saya jatuh cinta padanya? Iya, saya jatuh cinta padanya pada wanita yang mau menikah dengan saya”. Cairan bening sudah mengenagi pelupuk matanya.


“Sejak kapan? Sejak kapan kamu mulai mencitainya?”


“Saya tidak tahu, sejak kapan rasa yang dulu ada untuk kamu berpindah padanya. Saya juga baru menyadarinya”. Natasya masih tidak percaya, tidak mungkin cinta yang di pertahankan selama enam tahun berpindah begitu saja. Mereka baru bertemu beberapa bulan, tidak mungkin.


“Kamu hanya bimbang, Don. Karena saya tidak berada di dekat kamu”. Donny menghela nafasnya, “Maafkan saya Natasya, saya datang hari ini hanya untuk mengatakan bahwa kita sudah tidak bisa lagi seperti dulu. Jalani hidup kamu dengan baik, Na. Kamu masih bisa mengandalkan saya jika kamu membutuhkan seseuatu”. Donny lalu berdiri meninggalkan gadis itu yang masih terpaku di tempatnya. Dia terus menggeleng, tidak terima Donny meninggalkannya.


Amelia lalu masuk setelah melihat mobil Donny keluar dari area parkir. Dia melihat pemandangan yang pernah di lihat sebelumnya. Adiknya itu sedang dudduk terpaku di sofa menjatuhkan butiran-butiran bening dari matanya tanpa suara.


“Dia jatuh cinta pada gadis itu, dia bilang mencitainya”. Ucapnya dengan sendu.


“Lalu kau hanya akan menangis seperti itu?” Natasya mendongak menatap kakaknya, gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya..

__ADS_1


“Kau benar, aku akan mengambilnya kembali, Donny hanya milikku” Dia berdiri dan menghapus air matanya. “Aku akan menemui gadis itu, aku tidak akan membiarkannya mengambil apa yang harus jadi milikku”. Gadis itu membenahi riasannya yang berantakan karena air mata lalu meninggalkan apretement itu.


“Mia sudah pulang, Bu?” tanya Donny saat memasuki rumah.


“Belum, Tuan”. Jawab Bu Mira sopan.


“Ambilkan wine dan bawa ke kamar, Bu”. Bu Mira menaikkan alisnya, sesaat pandangannya bertemu dengan Alfandy, laki-laki itu mengangguk pelan pada Bu Mira seolah berkata lakukan saja sesuai perintahnya.


Tidak lama Donny naik ke kamar, Mia masuk ke dalam rumah. Alfandy tersenyum menyapanya sambil menundukkan kepalanya.


“Eh Bu, apa itu” menunjuk pada nampan yang di pegang Bu Mira walaupun dia tahu itu apa.


“Tuan Donny memintanya, Nyonya”. Mia menaikkan alisnya, “Benarkah?” tanyanya antusias.


“Iya, Nyonya”.


Bu Mira membuka pintu dan menyimpan tas Mia di tempat tidur lalu meninggalkan mereka, Mia tidak melihat Donny di manapun. Dia lalu berjalan lebih dalam dan menemukan laki-laki itu sedang berdiri di balkon kamar dengan tangan yang terlipat di atas perutnya.


Mia meletakkan hati-hati nampan itu di atas meja yang ada di balkon. “Mas lagi mikirin apa?”. Donny berbalik mendapati Mia sudah berada di belakangnya. Lalu matanya bergulir melihat winenya sudah ada di atas meja.


“Kapan kamu datang?”, tanyanya lembut.


“Baru saja” Jawab Mia. “Mas kok mau minum nggak ajak-ajak aku”.


“Memang kamu bisa minum?” Mia berdecak, “Aku mungkin minum lebih baik dari pada Mas Donny”.


“Oh ya”. Mia mengangguk yakin. Mia lalu masuk ke kamar mengambil gelas yang ada di atas nakas. Donny lalu menuangkan wine itu ke dalam gelasnya lalu ke gelas Mia. Gadis itu menghabiskan minumannya hanya dalam sekali teguk. Sedangkan Donny hanya meyesapnya sedikit.

__ADS_1


“Ini wine apa, enak banget”. Donny terkekeh, “Benarkah, kamu bisa menghabiskannya kalau kamu mau”.


Mia mengibas-ngibaskan tangannya, “Aku nggak mau sampai mabuk”.


Donny kembali mengisi gelas Mia, kali ini gadis itu minum dengan elegan menikmati rasa wine yang baru kali ini dia coba. Semakin dia meminumnya semakin tidak mau berhenti mencoba, sementara Donny bahkan gelas pertamanya hanya berkurang sedikit.


Setengah botol sudah habis dan wajahnya semakin memerah, tapi dia masih menyodorkan gelasnya pada Donny. Donny mengambil gelasnya dan menyimpannya di atas meja.


“Kamu sudah mabuk, Mia”. Donny berdiri dari duduknya dan duduk di samping Mia untuk menyanggahnya agar tidak jatuh.


“Mas, apa aku serakah kalau aku mau memiliki kamu seutuhnya?” Donny tercenganng,  sangat terkejut dengan apa yang Mia ucapkan.


“Aku mau menjadi istri kamu, bukan adik kamu”. Mia hendak mengambil botol wine tapi Donny menghentikan tangannya. Donny tahu Mia sudah mabuk, tapi bukankah perkataan orang yang mabuk adalah isi hatinya yang sebenarnya.


“Sejak kapan” Mia menatapnya dengan mata sayu, “Aku nggak tahu”. Donny tersenyum, wajahnya sekarang sudah sama merahnya dengan wajah Mia walaupun dia tidak mabuk sama sekali.


Sekarang Donny menjadi tahu isi hati Mia, dan itu semakin membuatnya yakin bahwa dia harus membuang perasaan apapun pada Natasya. Walalupun dia sempat goyah saat Natasya mengatakan kalau dia hanya bimbang karena mereka tidak selalu bersama karena Natasya tidak berada di dekatnya. Dia sempat kembali meragukan perasaannya pada Mia.


Mendengar gadis itu mengungkapkan isi hati yang sebenarnya membuat keyakinannya pada cintanya untuk istrinya kembali dan semakin kuat.


Donny menangkup kedua pipi Mia, dia terkekeh melihat keadaannya yang berantakan. Dia memberi kecupan singakt di bibir istrinya. Lalu kecupan singkat itu berubah menjadi ciuman yang lembut. Donny memindahkan satu tangannya ke tengkuk Mia semakin memperdalam ciumannya. Mia memejamkan matanya, tangannya bergerak memeluk leher suaminya.


Mia membalas ciuman Donny, mereka saling mengulum dan mencecap di bawah sinar rembulan. Cukup lama mereka berpagut sebelum saling melepaskan karena membutuhkan oksigan, lalu setelah di rasa cukup menghirup oksigen mereka kembali melanjutkan ciumannya yang semakin dalam dan semakin menuntut.


Donny tahu Mia mungkin belum siap untuk yang satu itu, dan dia tidak mau melakukannya apa lagi dalam keadaan Mia yang setengah sadar walaupun kali ini hasratnya sangat ingin di salurkan.


Dia akan menunggu, iya menunggu sekali lagi sampai Mia benar-benar siap menjadi wanitanya. Dan dia berharap hari itu akan segera datang. 

__ADS_1


__ADS_2