Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 73 Kejujuran


__ADS_3

Mia sudah lebih tenang pagi ini, suaminya memeluknya semalaman mengalirkan kekuatan padanya. Dia suadah makan walaupun hanya sedikit, Donny mengancam melarangnya ke Bandung jika dia tidak mau makan.


“Maafin aku ya, Mas”. Donny membelai pipinya dengan sayang, “Kenapa minta maaf”.


“Aku nyusahin Mas Donny lagi, Mas Donny pasti banyak kerjaan”, Donny memeluk istrinya, saat ini mereka sudah dalam perjalanan ke Bandung.


“Saya kan suami kamu, masak kamu mau repotin Leo”. Sebuah garis melengkung tergambar di bibirnya. Donny ikut tersenyum melihatnya.


“Mia, kamu mau berjanji satu hal sama saya?”, Mia mendongak menatap suaminya. Donny melepaskan pelukannya dan menuntun Mia untuk menatap manik gelapnya.


“Jangan pernah meninggalkan saya”. Mia terpaku, matanya memerah seperti ingin menagis lagi, bukan karena sedih tapi karena dia terharu mendengar permintaan suaminya. Dia mengangguk cepat. Lalu kembali memeluk suaminya.


Ada rasa takut di hati Donny yang tiba-tiba saja mengusiknya ketika melihat istrinya menangis. Bukankah luka itu hadir karena cinta, dan pasti cinta itu begitu dalam hingga membuat luka yang juga dalam.


Mia paling jarang memperlihatkan air matanya. Bahkan ketika dia menamparnya dulu, wanita itu tidak menangis di depannya. Dan sekarang wanita itu malah menangis dengan begitu pilu di depannya, luka itu pasti sangat dalam kan?


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, Mia menenggelamkan kepalanya di dada suaminya sementara Donny tidak melepaskan pelukannya.


Mobil sudah sampai di depan gerbang pemakaman umum. Donny menuntun istrinya keluar dari mobil.


Mia meletakkan seikat mawa r putih di atas makam Ayahnya, Leo yang singgah membelinya tadi. Mia menunduk kembali menjatuhkan air matanya. Donny tidak meninggalkan istrinya, dia masih berdiri di sampingnya.


“Ayah, Mia hidup bahagia sekarang” menjeda sejenak, mengusap air mata yang mengenagi matanya yang membuat pandangannya buram. “Ayah senang kalau Mia bahagia kan?”. Tanyanya pada batu nisan yang bertuliskan nama Ayahnya.


‘Dia kembali Yah, Mas Dimas ada disini. Mia melihatnya kemarin bersama seorang anak. Itu pasti anaknya dengan Monika’ ucapnya lirih dalam hatinya.

__ADS_1


‘Mia rindu padanya, rindu pada Ayah juga. Ayah tahu, setelah melihatnya kemarin Mia menyadari ternyata Mia tidak pernah benar-benar membencinya. Mia hanya kecewa padanya’.


‘Ayah lihat laki-laki di samping Mia, dia adalah malaikat baru yang Tuhan berikan untuk Mia, dia menyayangi Mia. Walaupun dia belum pernah mengatakan mencintai Mia’.


Mia memegang tangan Donny yang melingkar di pinggangnya, lalu mengajaknya duduk di pinggiran makam Ayahnya.


“Aku merasa tidak pernah pantas untuk bahagia setelah kematian Ayah”. Mia mulai bercerita tanpa Donny minta. Donny mendengarkannya tanpa menyela.


“Saat aku tahu Nenek menjual rumahnya untuk biaya rumah sakit dan kebutuhan kami yang lain, aku merasa sangat bersalah. Lalu saat itu aku bejanji akan mengembalikkan rumah penuh kenangan itu pada Nenek”, Mia berhenti sejenak menarik nafas dalam lalu melanjutkan ceritanya.


“Dan setelah aku mengembalikan rumah itu pada Nenek”, dia kembali diam pandangannya mengarah pada nisan Ayahnya lalu menarik sudut bibirnya penuh makna. “Aku akan menyusul Ayah dan meminta maaf secara langsung padanya”. Donny menggenggam tangannya mengalirkan kekuatan pada istrinya, walaupun sejujurnya dia tidak suka mendengar apa yang baru saja wanita itu ucapkan.


“Tapi itu berubah saat aku menyadari ada sesuatu yang mau aku perjuangkan, ada hal lain yang ingin aku miliki. Yaitu kamu, suamiku”. Mia melepaskan tangang Donny dari genggamannya berganti dia yang menggenggam tangan itu.


“Seperti Mas Donny yang punya seoseorang yang pernah Mas Donny cintai, aku juga punya seseorang yang pernah aku cintai” Ucapnya. Donny masih diam menoba menebak apa maksud di balik ceritanya.


“Dengan kasih sayang yang Mas Donny berikan padaku, aku mulai melupakannya. Luka itu perlahan mengering dan tidak terasa sakit lagi.” Mia kembali menjeda ceritanya, menatap dalam iris gelap suaminya.


“Tapi aku melihatnya kemarin, semua yang sudah terhapus dari ingatanku seakan kembali dengan utuh dan itu mengangguku”. Mia mengungkapkan semuanya pada suaminya, tentang apa yang dia rasakan saat ini. Dia tidak mau menyembunyikan apapun dari suaminya.


Pelukan dan kehangatan yang dia rasakan memberikan ketenangan luar biasa, tapi dia tidak bisa mengabaikan rasa yang kembali hadir di permukaan hatinya.


Donny menghela nafasnya dalam, dia mengerti. Istrinya mungkin sedang bimbag dengan perasaannya sendiri pada laki-laki itu. Dia pernah merasakan perasaan seperti itu dulu dan berakhir dengan meninggalkan Natasya.


“Mas Donny mau membantuku?” Donny menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


“Jangan lepaskan aku”. Donny memeluk istrinya lalu membantunya berdiri. “saya tidak akan melepaskan kamu, walaupun kamu ingin pergi saya akan melakukan semua yang bisa saya lakukan untuk menahankamu. Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkan saya?”.


“Terima kasih”, ucap Mia dengan tulus.


“Saya yang harus mengatakan terimakasih, karena kamu sudah menceritakan semuanya. Terimakasih untuk kejujuran kamu”.


Kejujuran adalah pondasi utama dalam sebuah rumah tangga, bila kejujuran tidak ada lagi mungkin rumah tangga itu akan hancur hanya dengan sedikit masalah yang menerpanya.


Mia tidak mau menciptakan kesalah fahaman dengan suaminya, itulah sebabnya dia menceritakan kegundahan hatinya, agar suaminya itu bisa terus memberi keyakinan padanya bahwa hanya suaminya yang dia butuhkan, hanya suaminya yang dia inginkan.


Sementara Donny tidak menyangka Mia akan mengatakan semua itu padanya, dia bahkan tidak menutupi perasaannya pada laki-laki itu. Sekali lagi Donny di buat terpesona olehnya. Dia memiliki istri yang luar biasa.


Donny tidak keberatan, ketakutannya berubah menjadi sebuah keyakinan. Seperti Mia yang mau memperjuangkanya dulu, sekarang dia yang akan memperjuangkan istrinya. Dia akan membuat Mia benar-benar melupakan laki-laki itu, seperti Mia yang membuatnya melupakan Natasya.


“Kita pulang ya”. Langit semakin cerah, hari juga semakin siang. Saat berangkat tadi Matahari masih belum menampakkan semua sinarnya. Mia kemudian mengangguk.


“Ayah, Mia dan Mas Donny pulang dulu. nanti kami pasti datang lagi”. Mia pamit pada Ayahnya begitu juga Donny.


Mereka berjalan bergandengan tangan keluar dari area pemakaman. Langkah Mia terhenti, dia mengeratkan genggaman tangannya di jemari suaminya.


Di depannya ada seseorang yang berdiri mematung dengan memegang seikat bunga lily. Pandangan mereka bertemu, cukup lama mereka saling menelusuri dalamnya hati mereka lewat tatapan. Lalu pandangan orang itu bergulir pada jemari yang saling bertautan.


“Kamu mau bicara padanya?” suara Donny lagi-lagi mengembalikan kesadarannya. Donny tahu orang  itu, Alfandy pernah memperlihatkan fotonya.


Natasya bilang padanya kalau Mia memberinya kesempatan untuk mengambil dirinya dari Mia, sekarang Donny melakukan hal yang sama. Bukan memberi kesempatan laki-laki itu mengambil istrinya, tapi memberi kesempatan pada istrinya untuk menyelesaikan masa lalunya agar tidak ada lagi kegundahan yang tersisa di hatinya.

__ADS_1


Agar istrinya bisa menjalani pernikahan mereka tanpa bayang-bayang dari masa lalu. Toh cepat atau lambat mereka pasti bertemu. 


__ADS_2