Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 82 Di lamar


__ADS_3

Seseorang sedang mengamuk di aprtemennya , semua barang yang ada di dekatnya sudah hancur berkeping-keping seperti masa depannya. Videonya yang sedang beradegan panas di atas ranjang tersebar luas. Bukan hanya dengan satu lelaki tapi dengan puluhan laki-laki. Dan parahnya video itu terupload dengan memakai media sosial pribadinya.  


Video itu sudah tersebar di seluruh penjuru negeri bahkan sudah sampai keluar negeri.


“Dasar orang-orang tidak berguna”, makinya terntu saja pada orang-orang yang sudah dia bayar sangat mahal untuk menculik Mia. Dia mengepalkan tangannya, dia tahu siapa dalang di balik itu semua. Donny Adriano, siapa lagi.


Dia tahu Mia adalah kelemahan Donny dan akan memanfaatkan kelemahan itu untuk memerasnya sebanyak mungkin sekaligus membalas sakit hatinya karena sudah membongkar semua kebusukannya, tapi dia tidak menyangka orang suruhannya malah gagal dan berakhir di tangan Donny.


Suara ketukan pintu terdengar semakin keras, dia mendengarnya sejak tadi tapi mengabaikannya.


“Kami tahu anda ada di dalam, silahkan buka pintunya atau kami dobrak”. Suara seseorang teriak dari luar, wajahnya berubah cemas. Dengan langkah tertatih dia berjalan ke arah pintu dan membukanya.


“Saudari Amelia” tanya salah seorang yang berpakaian seragam polisi


“I iiya, saya”, jawabya terbata.


 “Anda kami tahan atas tuduhan percobaan pembunuhan dan juga penyebaran video asusila”. Amelia terpaku, dia membeku. Tidak cukupkah Donny menyebarkan video panasnya dan sekarang laki-laki itu malah akan memenjarakannya.


Natasya, dia harus meminta bantuan Natasya untuk membujuk Donny. Dia yakin Natasya akan membantunya. Walau Natasya marah padanya, dia masih mengirimkan uang untuk kakaknya.


“Pak, boleh saya menghubungi seseorang”, tanyanya. Amelia sudah duduk di depan seorang petugas untuk di periksa. Polisi itu memandangnya dengan jijik lalu mengangguk.  Amelia sudah memegang ponsel, tapi dia mengurungkan niatnya. Semua orang tahu bahwa Natasya adalah adiknya dan Donny mengupload video nya tanpa berfikir reputasi Natasya. Sudah pasti Natasya tidak akan bisa meluluhkan hati Donny.


‘Brengsek’ makinya dalam hati. Dia tidak punya siapa-siapa lagi untuk meminta tolong, dia bahkan mendapat ancaman dari laki-laki yang menjadi teman tidurnya karena sudah mengupload video panas mereka.


Amelia sudah di masukkan ke dalam penjara, dia tidak punya pengacara untuk membelanya. Akhirnya dia pasrah pada nasibnya.

__ADS_1


“Amelia”, Amelia berjalan mendekat. “saya”


“Ada yang ingin bertemu denganmu”, kata polisi itu dengan ketus.


Amelia mengepalkan tangannya, matanya tajam menatap laki-laki yang sedang duduk di kursi menunggunya. Tapi laki-laki itu malah tersenyum membuatnya semakin di bakar amarah.


“Kamu mengabaikan peringatan saya Amelia. Kamu berani mencoba menyakiti Nyonya muda tentu kamu sudah memikirkan konsekuensinya”. Alfandy tergelak melihat kilatan amarah di mata Amelia.


“Video kamu sudah hampir terhapus semua, sebagian teman tidur kamu ternyata orang-orang yang berpengaruh juga. tapi kamu harus menunggu tuntutan mereka akan datang secara beruntun”. Amelia mengepalkan tangannya, ingin rasanya dia membunuh laki-laki di hadapannya dengan kedua tangannya.


“Jika kamu fikir ini hanya sampai disini, kamu salah. Banyak yang sudah menanti kamu di dalam sana”. Amelia sudah tidak bisa lagi menahan dirinya, dia berdiri dan hendak memukul Alfandy tapi Alfandy menghindar dengan cepat. Polisi segera datang dan membawa Amelia kembali ke ruang tahanan.


Alfandy merapikan jasnya lalu berjalan meninggalkan kantor polisi dengan senyum puas yang mengembang di wajahnya. Dia masuk ke dalam mobilnya dan melihat buket bunga mawah merah dan kotak kecil. Dia lalu melajukan mobilnya dangan perasaan senang.


Sorang gadis cantik sedang duduk di sebuah taman yang berada di tengah kota, taman itu tidak terlalu ramai karena masih siang walaupun akhir pekan. Kening gadis itu berkerut ketika melihat kekasihnya datang dengan membawa seikat bunga mawar merah.


“kenapa tiba-tiba memberiku bunga?”. Tanpa basa-basi Alfandy lalu berlutut di depannya dengan sebuah kotak kecil di tangannya, dia membuka kotak itu, Fiona membulatkan matanya “Menikahlah dengan ku Fiona”. Fiona menengok kiri kakan, tapi untungnya tidak ada yang memperhatikan mereka.


“Al, bangun” Fiona membatu Al berdiri. “Kamu mau kan menikah denganku”. Fiona memukul bahu Al dengan keras, membuat laki-laki itu mengaduh pura-pura merasa sakit.


“Siapa yang mengajarimu melamar seseorang dengan cara seperti ini?” Fiona kesal setengah mati, cara Al berlutut lebih terlihat seperti orang yang sedang memohon ampun.


“Aku membacanya di internet”, ucap AL dengan malu-malu. Fiona tertawa terbahak-bahak lalu memukul-mukul bahu Al.


“Kenapa kau tertawa?” Al mengkerutkan kening melihat reaksi Fiona.

__ADS_1


“Mereka menuliskan di sana kalau aku harus berlutut di depan gadis yang akan ku lamar dengan memberinya cincin dan juga membawa bunga, aku sudah melakukannya tapi kenapa kau malah menertawaiku”. Al mulai kesal dengan Fiona yang masih tertawa.


“Kau melihat bagaimana cara mereka berlutut”. Al menggeleng “Aku buru-buru tadi”. Alfandy hanya membaca artikel itu sedikit dan yang dia tanggap dia hanya memerlukan bunga dan cicin. Tentu saja mudah baginya mendapatkan kedua benda itu.


 “Alfandy, kau harusnya membaca dengan lebih jelas. Seperti memilih tempat, kata-kata yang harus kau ucapkan dan juga” Fiona kembali tertawa “tidak seperti itu caranya berlutut saat melamar seseorang”. Tawa gadis itu kembali pecah


Fiona lalu memberi contoh pada Al, tapi baru saja dia akan menunduk Alfandy dengan cepat menarik tangannya. “Apa yang kau lakukan?” tanya Alfandy, “memberimu contoh”. Alfandy berdecak kesal.


“Baiklah aku akan membacanya lagi”. Katanya dengan kesal dan memasukkan kembali cincin itu ke dalam saku jasnya.


Fiona berdehem, merapikan rambut dan bajunya lalu mengulurkan jari jemarinya ke depan Alfandy.


“Pakaikan aku cincinnya”. Ucapnya dengan malu-malu. “Maksud kamu?” tanya Alfandy tidak mengerti. “Kamu mau menikah denganku?” Fiona mengangguk pelan dengan wajah yang berseri. Alfandy tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Dia mengeluarkan kembali cincinnya dan memakaikan cincin itu di jari manis Fiona. Alfandy mencium keningnya lalu mereka berpelukan.


“Kau harus berjanji pada ku satu hal, Al” Al mengurai pelukannya, sekarang mereka berdiri berhadapan.


“Jangan menduakan aku. Jika kau jatuh cinta pada wanita lain suatu hari nanti, kau bisa bilang langsung padaku dan aku akan pergi”


“Apa maksudmu?”


“Aku sudah menceritakannya padamu kan, orang tuaku saling mengkhianati. Aku tidak mau hidup bersamamu ketika kau mencintai orang…” Al mencium bibir Fiona tiba-tiba membuat gadis itu tidak bisa melanjutkan ucapannya.


“Kau tahu, aku orang yang sangat setia. Aku tidak akan membagi kesetiaaku dengan wanita manapun”. Wajah cantiknya mengukir senyum. Dia tidak menyangka akan semudah itu memberikan cinta dan kepercayaannya pada laki-laki yang awalnya dia anggap sebagai orang paling kaku yang pernah dia temui.


“Aku akan mengganti lamaranku hari ini dengan memberikan pernikahan yang sangat indah untukmu”. Mereka berjalan bergandengan tangan dengan Fiona memeluk bunga yang tadi Al berikannya padanya.

__ADS_1


“Kau ingin pernikahan yang seperti apa?” sepanjang perjalanan pulang mereka hanya membahas tentang pernikahan. Al tidak ingin menunggu lebih lama, dia takut gadis itu akan mengubah hatinya dan berpaling darinya.


Dia tahu Fiona memiliki banyak penggemar, selain cantik gadis itu juga pintar dan ramah. Alfandy bersyukur bisa memenangkan hatinya.


__ADS_2