Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.37 (Mimpi yang ingin aku lanjutkan)


__ADS_3

Tak lama setelah kepergian Elisa, Reynald segera keluar dari kamar untuk mencari keberadaan sang istri. Saat sampai di lantai bawah, ia menanyakan keberadaan Elisa kepada seorang pelayan yang lewat di hadapannya.


Menurut penuturan pelayanan itu, Elisa sedang berada di taman belakang Mansion. Ia pun segera beranjak pergi menghampiri sang istri. Semenjak pengakuan perasaan mereka satu sama lainnya ia mencoba lebih banyak belajar tentang menghadapi wanita.


Sebuah situs media cetak pernah menerbitkan sebuah artikel terkait sikap wanita sebelum dan sesudah jatuh cinta. Seorang wanita yang tidak mempunyai perasaan apapun kepada pria terdekatnya, ia akan cenderung cuek dan tidak peduli.


Namun berbeda jika perasaan cinta mulai muncul, maka bersiaplah wahai para pria wanita mu akan berubah menjadi orang yang maha benar, ingin selalu di mengerti tanpa harus bertanya dan ingin di perlakukan istimewa di bandingkan orang lain.


Sejak awal kemunculan Elisa dalam hidupnya, menawarkan perjanjian, menawarkan pernikahan dan hubungan atas dasar simbiosis mutualisme ia tidak pernah menyangka akhirnya mereka sampai ke tahap ini, tahap di mana mereka saling melibatkan perasaan dan mulai menghilangkan maksud perjanjian.


Sesampainya di taman belakang, ia bisa melihat Elisa sedang duduk termenung di kursi taman. Dengan langkah mengendap-endap, ia mendekat dan langsung duduk di samping istrinya itu.


"Kamu kenapa kesini?" tanya Elisa dengan wajah cemberutnya.


"Tentu saja aku ingin menyusul istri ku, aku tidak bisa membiarkannya marah dan kecewa ... El, aku akan berusaha menghapus foto-foto itu tapi nanti aku akan cari caranya," jawab Reynald yang berusaha merayu sang istri.


Elisa menghela napas panjang kemudian beralih menatap suaminya. "Mungkin jika itu wanita lain dan bukan dia aku tidak akan seperti ini ... kamu tau, ibunya adalah wanita yang menjadi selingkuhan Papa ku dulu, ya memang tidak sampai menikah tapi karena perselingkuhan itu, Mama ... Mama bunuh diri karena frustasi.


Reynald terpaku sesaat ketika mendengar penuturan Elisa. Akhirnya ia mengerti kenapa Elisa begitu emosional saat melihat Sofia dan juga susah membuka hati untuk orang lain. "Kenapa kamu baru cerita sekarang?"


"Itu hanya aib masalalu yang ingin aku buang jauh-jauh tapi semakin aku mencoba takdir malah semakin membuat aku mendekat ... seperti sekarang, aku malah jatuh cinta dengan seorang pria yang berkaitan dengan masalalu ku," ujar Elisa lalu kembali menatap ke depan.


"Kamu menyesal karena mengenal ku?" tanya Reynald tiba-tiba.


"Tidak, aku sudah terlanjur mencintai kamu, aku mengantungkan satu harapan saat memulai hubungan kita, aku berharap kamu benar-benar berbeda dari papa," jawabannya.

__ADS_1


Reynald menghela napas pelan kemudian merangkul Elisa. "Maaf ya aku sudah membuat kamu marah. Kamu tau cinta pertama belum tentu menjadi yang terakhir, dia hanya bagian kecil dari perjalanan ku, tapi kamu adalah akhir dari perjalanan ku. Aku tidak minta kamu percaya tapi setidaknya lihat lah apa yang aku usahakan kedepan bukan melihat dari masalalu."


Elisa menatap Reynald dengan serius hingga akhirnya bibirnya mulai tertarik keatas, akhirnya ia bisa tersenyum juga saat dari mata sang suami ia bisa melihat ke tulusan yang menyentuh relung hatinya. "Baiklah, kita lihat saja kedepannya apa yang bisa kamu lakukan."


"Aku ingin sekali mengembangkan usaha di bidang otomotif ... semua hanya rencana tapi belum bisa aku realisasikan sekarang. Dulu aku pikir untuk apa juga aku berusaha keras yang penting uang ku cukup untuk biaya sekolah Melvin tapi saar kamu hamil, pikiran ku kembali terbuka, aku tidak bisa seperti ini terus," tutur Reynald lalu tersenyum kepada Elisa.


"Untuk apa kamu berpikir seperti itu, aku punya segalanya untuk kita dan juga adik kamu," ujar Elisa.


"Ucapanmu persis seperti yang di katakan Jack. Seharusnya kamu mendukung ku, berikan aku semangat ... sejujurnya aku malu bersanding dengan seorang pewaris perusahaan besar seperti kamu. Aku tidak punya apapun untuk di banggakan, sekolah saja hanya lulus SMA," jelas Reynald yang tiba-tiba saja berubah sendu.


Elisa mengerti yang dirasakan Reynald saat ini apalagi saat hubungan mereka di ketahui banyak orang, suaminya itu pasti tertekan dengan komentar orang. "Baiklah aku akan mendukung, aku akan menjadi investor pertama untuk usaha otomotif kamu, bagaimana?"


"Ka-kamu serius?" tanya Reynald.


"Ya tentu saja, aku tau kamu tidak mau menerima uang dari ku kan. Anggap saja sekarang kita berbisnis. Aku menanam modal dan kamu yang kembangkan, bagaimana?" tanya Elisa.


"Ayolah jangan ragu, aku hanya menanam modal dan kamu akan mengembalikannya kan tidak ada yang cuma-cuma," ucap Elisa lalu meraih tangan Reynald. "Kamu harus setuju."


"Iya baiklah, terimakasih kamu memang yang terbaik," ujar Reynald lalu memeluk sang istri. Ia bersyukur memiliki Elisa dalam hidupnya, entah orang akan menganggapnya aji mumpung atau apa yang jelas ia sangat mencintai Elisa bukan karena harta dan tahta tapi karena hati telah bicara.


...**...


Minggu pagi, untuk membuat keceriaan sang istri kembali. Reynald mengajak Elisa kesebuah Mall. Elisa ingin sekali masuk ke sebuah toko barang branded tapi ia mengurungkan niatnya dan memilih mengikuti langkah Reynald menuju sebuah time zone.


"Kamu suka main di sini, ini kan untuk anak kecil," ujar Elisa.

__ADS_1


"Ini bukan hanya untuk anak kecil, di sini juga ada permainan untuk orang dewasa. Lagi pula kelak kita akan sering kesini saat anak kita lahir kan, ayo masuk," tutur Reynald lalu menarik tangan Elisa agar melangkah mengikutinya.


Setelah beberapa saat akhirnya Elisa mulai terbawa suasana. Ia pikir akan membosankan namun ternyata seru juga karena di lakukan bersama orang yang di cintai. "Aku mau main lempar bola basket itu, ayo kita ke sana."


Reynald hanya menurut saja saat Elisa menarik tangannya. Ia senang sang istri bisa tersenyum karena hal kecil yang ia tawarkan. Meski ia belum bisa memberikan kemewahan namun kelak ia pasti akan memberikan semua itu dengan hasil kerja kerasnya sendiri.


"Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku mau ke toilet," ucap Reynald kepada Elisa.


"Oh oke, jangan lama," ucap Elisa lalu kembali melempar bola kedalam ring.


Reynald melangkah cepat meninggalkan sang istri. Sebenarnya pergi ke toilet hanyalah alasan, sebenarnya ia ingin membeli sesuatu sebagai hadiah permintaan maaf.


Sepuluh menit berlalu, namun Reynald belum juga kembali. Elisa memutuskan untuk mencari, ia melangkah keluar dari time zone itu dan mulia menggedarkan pandangan ke sekeliling Mall. "Sebenarnya dia kemana, kenapa lama sekali."


Di tengah kebingungannya, ia kaget ketika merasakan seseorang menepuk pundaknya dari belakang, sontak ia langsung berbalik. "Rey, kamu ...."


Elisa tak bisa membendung rasa harunya saat melihat Reynald membawa satu buket besar bunga mawar merah dan langsung di ulurkan kepadanya.


"Aku tidak tau kamu suka bunga apa selain edelweiss jadi aku beli ini untuk kamu, bunga mawar merah melambangkan cinta yang tulus, aku harap kamu percaya dengan ke tulusan ku, Elisa," ucap Reynald.


Elisa meriah buket bunga itu dan langsung memeluk sang suami. "I'm very happy, thank you."


"Sama-sama, jangan ngambek lagi ya," ucap Reynald seraya mengusap pucuk kepala Elisa perlahan.


Saat sepasang suami istri tengah berbahagia. Dari kejauhan seorang wanita memandangi mereka dengan tatapan penuh amarah. "Kenapa mereka makin lengket saja, tega kamu, Rey."

__ADS_1


Bersambung πŸ’•


Jangan lupa dukungannya ya reader terimakasih.


__ADS_2