Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.39 (Akhir dari perjanjian, suami sewaan)


__ADS_3

"Jadi Elisa marah sampai berteriak gara-gara foto-foto masalalu kamu sama Sofia?" Wajah Jack nampak pias saat mendengar cerita Reynald.


"Iya, aku bingung dari mana dia tau nama akun facebook ku dan juga waktu itu ... dia tau dari mana aku bertemu Sofia di cafe depan." Reynald menghela napas panjang jika mengingat kejadian kemarin dan beberapa bulan yang lalu.


Jack memaki dirinya dalam hati. Andai sahabatnya itu tahu jika dirinya adalah informan Elisa, mungkin ia akan berakhir di got depan bengkel. "I-itu tandanya dia sayang sama kamu, Rey. Insting wanita sangat kuat, apalagi sekarang dia sedang hamil."


"Iya kamu benar, semoga saja Sofia nggak datang menemuin aku lagi ... aku nggak nyangka, dunia ku terbalik begitu cepat, dulu aku berharap Sofia kembali tapi sekarang aku mau dia menghilang."


Sekuat apapun perasaan Reynald pada Sofia, dulu. Nyatanya cinta itu bisa berbalik arah karena seseorang yang selalu ada dan memberi gambaran baru kepada Reynald bahwa ia akan menjadi yang terbaik di mata orang yang tepat dan menghargai keberadaannya.


Sesal yang Sofia rasakan saat ini hanya bagian dari kehilangan yang ia sadari karena yang selalu ada kini telah melangkah mundur perlahan, hingga menghilang dari dunianya. Untuk kesekian kali berusaha manarik Reynald kembali, tapi usahanya berkahir sia-sia.


"Kamu beruntung, Rey. Dulu kamu memperjuangkan batu akik tapi di sia-siakan dan sekarang di ganti dengan berlian, itu buah dari kesabaran."


"Iya juga ya, sekarang aku sadar kenapa aku bodoh banget bucin sama cewek kayak gitu." Reynald terkekeh sendiri jika mengingat apa yang ia korbankan berakhir sia-sia. Waktu yang terbuang, hati yang di gantung adalah bagian dari perjalanan yang tentu saja tidak mudah.


Jack yang juga ikut terkekeh bersama Reynald mendadak berhenti, ia berdiri dari posisinya saat melihat sebuah mobil sport memasuki area bengkel.


Reynald juga ikut berdiri dari posisinya, matanya fokus memandangi orang yang ada di dalam mobil itu, "Melvin, mobil siapa lagi yang bawa."


"Tadi pagi sepertinya dia naik motor butut mu seperti biasa ... apa mobil temannya kali." Jack melangkah mendekat bersama Reynald saat Melvin keluar dari dalam mobil.


"Selamat sore kakak-kakak ku yang tamvannn," sapa Melvin yang nampak sangat senang karena baru saja mendapatkan mobil baru dari kakak iparnya, Elisa.


Reynald dan Jack memperhatikan mobil itu, baik bagian dalam dan juga interior dalam. Jelas mobil itu adalah mobil baru, kursi dalamnya saja masih di selimuti plastik. "Ini mobil siapa, Vin? Kakak sudah bilang jangan memakai mobil orang sembarangan, nanti kalau lecet atau rusak gimana."


"Kakak kamu betul, apa nggak cukup dulu kamu pernah buat mobil customer lecet," sambung Jack.


Melvin menghela napas panjang kemudian kembali menatap kedua pria di hadapannya seraya menggeleng perlahan. "Aku nggak akan mengulangi hal seperti itu lagi kakak-kakak ku yang tamvannn. Mobil ini adalah hadiah dari seorang crazy rich Elisa Eduardo, kakak ipar ku yang sangat murah hati."


"Apa!" seru Reynald dan Jack secara bersamaan.

__ADS_1


"Mo-mobil ini memiliki atap yang bisa terbuka dan di dalam kap mesinnya juga terpasang mesin V8 berkapasitas 4.297cc yang mampu menghasilkan tenaga sebesar 412 kw pada 7.500 rpm dan torsi mencapai 755 Nm pada 4.750 rpm," ujar Reynald dengan ekspresi tak percayanya.


"Tenaga yang dikeluarkan juga sangat besar. Bisa melaju dari 0-100 km/jam dalam waktu 3.6 detik. Luar biasa, bisa-bisanya Sultan Elisa memberikan mobil kepada bocah tengil ini," sambung Jack saat jiwa otomotifnya meronta-ronta melihat mobil baru Melvin.


"Hey kakak-kakak sekalian jangan iri ya, ini rejeki anak baik," ucap Melvin dengan bangganya.


"Tapi bagaimana bisa ... kamu minta sama Elisa?" tanya Reynald menatap Melvin dengan tajam.


"Tidak, Kak El sendiri yang memberikannya, kami bertemu di pinggir jalan saat motor ku mogok. Saat di showroom Kak El mau membelikan aku yang paling mahal untung saja aku masih tau diri," tutur Melvin.


"Keren, aku mau mencobanya," ujar Jack.


"Berikan kuncinya, kamu tidak bisa menerima mobil semahal ini, lagi pula kamu belum punya SIM," sahut Reynald seraya mengulurkan tangannya ke hadapan Melvin.


Melvin segera memasukkan kunci mobil itu kedalam saku celananya. "Nggak akan, Kak El bilang ini untuk ku, kenapa harus di kembalikan. Be-besok aku akan mengurus pembuatan SIM," ujar Melvin lalu berlari masuk kedalam ruko.


Reynald hanya bisa memandangi kepergian sang adik dengan perasaan campur aduk. Ia tahu Elisa hanya ingin membahagiakan Melvin tapi ia merasa itu terlalu berlebihan.


...**...


"Kamu kenapa membelikan mobil semahal itu untuk Melvin?" tanya Reynald saat menghampiri Elisa yang tengah duduk bersantai di taman belakang di sore hari.


Elisa meletakkan cangkir tehnya lalu mendongakkan kepala untuk melihat sang suami. "Duduklah dulu."


Reynald menuruti Elisa. Ia beranjak duduk lalu kembali bertanya. "Kamu kenapa membelikan mobil semahal itu untuk Melvin?"


"Memangnya kenapa? Adik kamu, adik ku juga kan," jawab Elisa singkat.


"Tapi itu terlalu berlebihan untuk anak seumuran Melvin, umurnya baru sembilan belas tahun," jelas Reynald lagi.


"Rey, apa kamu tidak lihat bagaimana ekspresi dia saat mendapatkan hadiah itu. Biarkan saja, masa remaja tidak akan datang dua kali, kamu cukup mengontrol saja," ucap Elisa.

__ADS_1


"Tapi, El ak--" Reynald tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Elisa tiba-tiba saja menyadarkan tubuhnya di pundak Reynald.


"Aku juga punya hadiah untuk kamu," ucap Elisa.


"Hadiah? ... Apa itu?" tanya Reynald penasaran.


Elisa berdiri dari duduknya, ia mengulurkan tangan ke hadapan sang suami. "Ayo ikut aku."


Reynald meraih uluran tangan Elisa dan mengikuti langkahnya.


~


Sesampainya di dalam kamar, Elisa memberikan sebuah map kepada Reynald. "Ini untuk kamu?"


Reynald mengerutkan keningnya, saat melihat map berwarna coklat itu. "Ini apa?"


Mata Elisa tiba-tiba saja berkaca-kaca, tapi ia tetap berusaha tersenyum. "Itu ... surat perjanjian kita. Aku mau mengakhiri perjanjian itu sekarang. Aku menginginkan kamu selamanya, di sisiku."


Reynald menatap Elisa dengan raut wajah tidak percaya. Ia terlalu bahagia hingga melupakan satu fakta bahwa di luar perasaan cinta, mereka masih terikat satu perjanjian. "Kamu yakin?"


Elisa menganggukkan kepalanya mantap. "Jangan ragu, ayo akhiri sekarang."


Reynald menatap map itu sesaat. Ia tiba-tiba saja menjadi emosional hingga cairan bening keluar dari sudut matanya. Dengan tangan bergetar, ia mengambil secarik kertas dari dalam map itu dan mulai merobeknya menjadi potongan-potongan kecil.


Di saksikan sang istri, ia menghempaskan potongan-potongan kertas itu ke udara. Mereka saling menatap dengan satu perasaan yang sama, perasaan lega akan janji palsu yang selama ini membentengi diri telah mereka runtuhkan.


Reynald memeluk Elisa dan mencium pucuk kepalanya beberapa kali. Jalan untuk menemukan cinta sejati memang bermacam-macam. Tidak selamanya mudah dan tidak juga sesulit yang di bayangkan.


Cukup ikuti arus yang di takdirkan, biarkan semesta yang menunjukkan bahwa kamu akan mendapat kebahagiaan di akhir perjalanan. Biarkan masalalu terpuruk dalam penyesalan karena setiap karma memang untuk seseorang yang telah mempermainkan tanpa perasaan.


Bersambung πŸ’•

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya readers.


__ADS_2