
Elisa sedang duduk berhadapan dengan Eva yang hanya diam dan menatapnya dengan acuh. Rasanya untuk marah dan memaki sudah tidak cukup untuk menggambarkan rasa kecewa yang saat ini Elisa saat ini.
"Jika kamu datang cuma untuk diam, maka pergilah dari ini. Aku tidak suka melihat wajahmu seperti itu." Akhirnya Eva bicara juga, ia merasa tidak nyaman melihat Elisa yang hanya diam seperti sekarang.
Elisa yang ia kenal adalah wanita yang selalu berteriak dan berkata kasar saat marah. Namun kali ini Eva melihat ekspresi yang sama seperti dua belas tahun yang lalu tergambar jelas dari wajah keponakannya itu.
Ekspresi saat Elisa kehilangan Mama untuk selamanya. Dua belas tahun yang lalu Elisa juga pernah duduk seperti ini sebagai anak kecil yang menatap Eva dengan rasa kecewa karena merasa di abaikan dan tidak di cintai.
"Dua belas tahun yang lalu. Saat Mama meninggal, aku berharap meskipun Papa mengabaikan ku, aku masih punya tante yang menyayangi ku. Setiap hari setelah pulang sekolah aku selalu berdiri di depan pintu kamar Tante, berharap Tante membukanya dan langsung memelukku yang masih berduka. Aku hanya ingin Tante berkata 'Elisa kamu akan baik-baik saja, ada tante disini' hanya itu saja," tutur Elisa dengan mata yang berkaca-kaca.
Mendengar penuturan Elisa, Eva hanya diam terpaku dengan ekspresi wajah yang tak bisa di artikan. Baru kali ini ia melihat Elisa seperti ini, ia pikir saat datang tadi keponakannya itu akan marah dan memukulnya.
"Terkadang aku bingung, kenapa kita menjadi seperti ini. Tasya dan Tante adalah keluarga ku yang tersisa, apa pada akhirnya kita harus berakhir seperti ini. Saling membenci, mengabaikan apa ini yang tante mau?"
Eva mencengkram erat kedua tangannya. Ia merasa sangat tersudut, hatinya bagai tersayat, namun lagi-lagi ego yang begitu tinggi membuatnya tidak bisa mengungkapkan isi hatinya saat ini.
"Kamu, Mama kamu sudah merebut segalanya dari Tante. Kami anak yatim piatu, hanya Papa kamu yang Tante punya. Tapi sejak bertemu Mama kamu, sejak kelahiran kamu ... tante mulai di abaikan."
Elisa menghela napas berat, hembusannya terasa bergetar. Ia bahkan tidak punya tenaga lagi untuk marah dan memaki. "Kenapa aku harus terlahir dari keluarga Eduardo, jika aku hanya akan di benci Papa dan Tante ku sendiri." Ia kembali menangis, hancur sudah pertahanan diri yang ia bangun selama ini.
Setelah beberapa saat, Elisa menyeka air matanya lalu berdiri dari tempat duduknya. "Aku tidak tau harus bersikap seperti apa lagi, jalani hukuman ini karena semua akibat dari ulah tante sendiri, aku harap suatu saat nanti Tante sadar jika aku bukan musuh, bukan saingan tapi aku ini keluarga Tante."
Elisa berbalik arah dan hendak melangkah pergi. Namun tiba-tiba sang Tante kembali bersuara, sontak ia kembali berbalik.
"Papa kamu tidak membenci kamu, dia sebenarnya sangat merindukan kamu ... surat-surat yang ingin dia kirim ke asrama kamu di Melbourne, tante sembunyikan semuanya di laci meja kerjanya di Mansion."
"A-apa." Elisa menatap sang tante tak percaya.
__ADS_1
"Tante tahu kamu tidak akan memaafkan tante, tapi setidaknya kamu harus memaafkan Papa kamu." Akhirnya Eva menurunkan egonya. Selama ini ia sudah terlalu banyak membuat ke kacaun demi obsesinya kepada sang Kakak.
Mulai dari mengfitnah kakak iparnya sendiri, membuat sang Kakak terlibat perselingkuhan, dan menyembunyikan surat-surat yang harus di kirim untuk Elisa. Apa akhirnya Eva menyesal? ... Ya, mungkin tapi semua itu masih tertutup kabut ego diri yang masih begitu tinggi.
~
Di tempat berbeda. Setelah malam itu Sofia menyesal karena sudah bersikap bodoh. Sore ini ia kembali pergi ke bengkel, ia harap Reynald berada di sana dan akan memaafkannya.
Sesampainya di depan ruko, yang ia dapati hanya Jack yang baru saja keluar dengan pakaian rapi, sementara bengkel tidak buka.
Menyadari kedatangan Sofia. Jack nampak malas untuk meladeni namun ia juga tidak mungkin menghindar. "Kamu ngapain lagi kesini?"
"Bengkel kenapa tutup, Reynald tidak datang ya hari ini?" tanya Sofia.
"Reynald kecelakaan malam tadi, dia di tabrak orang dan kamu tau ternyata yang nabrak tantenya Elisa, sekarang dia koma di rumah sakit. Kamu nggak usah dateng buat jenguk aku takut Elisa makin sedih, cukup doain aja biar Reynald cepat sadar," jelas Jack kepada Sofia.
"A-apa, koma," lirih Sofia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Dasar, wanita tua sialan. Kenapa kamu malah menyakitinya, batin Sofia.
...**...
Setelah pulang dari kantor polisi, Elisa kembali Mansion untuk mandi dan berganti pakaian sebelum malam nanti kembali lagi ke rumah sakit. Ia sudah memutuskan akan menjaga suami sampai sadar, ia berharap suaminya akan segera sadar sebelum anak mereka terlahir ke dunia.
Saat naik ke lantai dua, langkahnya terhenti di ujung tangga. Ia memandang ke sebuah pintu yang terletak di di paling sudut dekat jendela. Ruangan itu adalah ruang kerja sang Papa.
Percaya tak percaya, ia ingin membuktikan semua ucapan sang Tante. Ia meraih handel pintu dan langsung membuka pintu ruangan.
__ADS_1
Saat melangkah di dalam, aroma khas dari ruangan itu masih sama seperti itu. Semenjak kembali dari luar negeri baru kali ini ia masuk lagi keruangan itu.
Elisa menggedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, ia kembali teringat akan semua kenangan buruk yang ada di tempat itu. Ya, masa kecilnya memang lebih banyak di penuhi dengan kisah pilu.
Elisa melangkah menuju kursi kebesaran sang Papa dan langsung duduk di sana. Ia memeriksa beberapa laci yang ada di sana sampai akhirnya menemukan sebuah kotak berisi puluhan atau mungkin ratusan surat, tulisan tangan dari Papanya.
Hatinya kembali tersentak, karena semua benar papanya menulis semua surat itu untuk di kirim kepadanya. Namun karena ke egoisan Tante Eva, semua surat itu berkahir di dalam laci.
Ya, Asrama tempat Elisa tinggal melarang semua akses media sosial, mereka hanya di perbolehkan menelpon menggunakan telepon umum dan mengirim surat. Dulu Elisa begitu sedih saat semua temannya mendapatkan surat, tapi ia tidak punya satupun.
Dari semua surat itu, ia menemukan satu surat yang terdapat tanggal pada bulan sang Papa meninggal dunia. Ia membuka selembar kertas yang ada di dalam amplop itu dengan tangan bergetar.
Untuk Elisa, anak kesayangan Papa. Apa kabar kamu di sana, Nak. Apa asrama di sana cukup nyaman dan kamu punya banyak teman, sampai kamu tidak sempat membalas semua surat Papa.
Elisa, seperti yang sudah Papa katakan di surat sebelumnya, penyakit Papa semakin parah, Nak. Papa tahu kamu pasti sangat membenci Papa karena peristiwa di masalalu.
Entah berapa lama lagi Papa akan bertahan, Papa cuma mau kamu tahu kalau Papa sangat menyayangi kamu, maafkan Papa.
Papa menyesali semuanya, Papa merindukan kamu. Jika kamu punya waktu, pulanglah lah Nak. Papa membutuhkan kamu sekarang.
Elisa tidak bisa menahan sesak di dadanya saat membaca semua surat yang di tulis sang Papa. Karena keegoisan sang tante, ia tidak bisa melihat dan merawat Papa di saat-saat terakhirnya.
"Papa, maafkan Elisa." Tangisnya kembali pecah. Setelah kecelakaan Reynald, kali ini ia kembali terpukul oleh kenyataan lain yang membuatnya merasa jika selama ini ia di permainkan oleh takdir.
Duka dan duka kembali menyelimuti hati sang putri, yang mengira akhirnya menemukan kebahagiaan setelah bertemu pangeran impiannya. Namun ternyata mimpi buruk baru saja di mulai, ia di kembali di paksa untuk melalui semuanya sendiri dengan kondisi tubuh yang mengharuskannya tetap tegar demi calon bayi dalam kandungan.
Jangan lupa dukungannya ya reader, dengan cara like+komen+vote. Terimakasih π
__ADS_1
Sampai jumpa besok di bab selanjutnya... love you all.
Bersambung π