
Mobil yang di kendarai supir Elisa berhenti di depan ruko yang sudah nampak sepi di pukul tujuh malam tersebut. Dahinya mengeryit heran karena tidak biasanya bengkel sudah tutup begitu cepat.
Perlahan ia turun dari dalam mobil, melangkah masuk ke bagian dalam ruko yang juga tidak terkunci, suasana remang-remang membuat Elisa ragu untuk melanjutkan langkahnya, hingga tiba-tiba Jack tiba-tiba muncul dan mengagetkan Elisa.
"Huh, Kak Jack mengangetkan saja." Elisa mengelus dada seraya menghela napas panjang.
"Hehe, maaf. Kalau kamu cari Reynald, dia ada di atap ruko." Jack menujuk ke lantai atas.
"Untuk apa dia malam-malam begini pergi ke atap ruko?" Elisa nampak heran, karena biasanya saat ia datang ke bengkel sang suami selalu siaga menunggunya di teras depan.
"Emm itu, dia membereskan kardus yang berserakan di sana." Jack melihat jam di tangannya. "Wah ini sudah jam tujuh ya, aku ada janji temu dengan Viola, sampai jumpa lagi Nona muda." Ia melangkah pergi seraya melambaikan tangannya kepada Elisa.
Elisa memandangi kepergian Jack hingga menghilang dari balik pintu ruko. Ia melanjutkan langkahnya naik ke lantai atas ruko. Sesampainya di atap, ia kebingungan karena tempat itu sangat gelap, di nyalakannya senter ponsel sebagai penerangan dan terus memanggil-manggil nama Reynald.
"Rey, kamu dimana."
Di tengah kebingungannya, ia tersentak kaget saat tiba-tiba saja lampu-lampu tumber light warna warni yang mengantung di atasnya menyala satu persatu. Ia mendongakkan kepalanya melihat cahaya warna warni dari lampu itu.
Saat pandangannya kembali menatap lurus ke depan, ia menutup mulutnya dengan tangan ketika melihat sang suami tengah berdiri tidak jauh darinya. Di tangan Reynald terdapat sebuah cake kecil dengan lilin di atasnya.
Penampilan Reynald malam ini jauh berbeda dari biasanya. Ia memakai setelan jas yang begitu formal layaknya seorang mempelai pria yang sedang menunggu pengantin wanitanya. Perlahan ia melangkah mendekati sang istri yang menatapnya dengan raut wajah penuh haru.
"Rey, kamu." Elisa masih saja menatap reynald tak percaya.
__ADS_1
"Happy anniversary satu tahun pernikahan sayang, aku ingin kamu tahu baik sekarang ataupun tahun-tahun selanjutnya cinta ku tidak akan pernah berubah, perjalanan kita masih panjang, aku harap kamu tidak akan pernah bosan bersama ku." Reynald mendekat dan langsung mendaratkan satu kecupan manis di kening Elisa.
Elisa menyeka air matanya kemudian menatap manik sang suami yang juga berkaca-kaca. "Kan anniversary kita masih besok."
"Aku sudah tidak sabar melihat kamu menangis seperti ini." Reynald kembali menyeka air mata sang istri. "Terimakasih sudah bertahan sejauh ini, terimakasih juga karena sudah menghadirkan Raffa untuk melengkapi kebahagiaan kita."
Elisa tidak bisa berkata-kata karena rasa haru yang menyesakkan rongga dada. Lagi-lagi ia Reynald berhasil menyentuh relung hatinya dengan hal sederhana namun amat bermakna. Tanpa aba-aba ia langsung memeluk sang suami, dengan tangis yang kembali pecah.
Satu tahun, ya sudah satu tahun berlalu dengan penuh tawa dan air mata. Jalan yang berlika liku belum sepenuhnya berakhir, kekuatan dan pondasi rumah tangga yang harmonis adalah kunci untuk melaluinya.
"Thank you, you are the most valuable person I have don't ever get tired of my attitude." Ucap Elisa tanpa sadar.
Reynald menepuk punggung sang istri dengan sebelah tangannya, semantara tangan yang satunya masih memegang cake anniversary mereka. Ia menghela napas panjang ketika Elisa bicara dengan menggunakan bahasa Inggris. "Kamu sering sekali memakai bahasa Inggris, sudah tau suami mu ini cuma tau yes no saja."
"Aku sudah terbiasa mendengar teriakkan mu, kamu tidak perlu menjadi orang asing untuk terlihat baik, jadilah dirimu sendiri karena apa adanya kamu lah yang membuat ku jatuh cinta, I love you Nona Arogan." Reynald kembali terkekeh bersama Elisa.
Reynald melepaskan pelukan Elisa dari tubuhnya. "Ayo buat harapan dan tiup lilinnya."
Elisa dan Reynald memejamkan mata mereka. Saling mengucapkan harapan dalam hati mereka masing-masing. Semoga segala yang mereka harapkan bisa terwujud di awal tahun baru dalam rumah tangga mereka.
Mata mereka kembali terbuka dan dalam hitungan satu sampai tiga mereka meniup lilin kecil itu secara bersamaan. Mata yang menatap lekat dan senyum simpul yang tergambar jelas satu bukti bahwa mereka memliki perasaan yang sama di tahun pertama pernikahan.
Reynald berbalik dan melangkah meletakkan cake itu di atas meja kecil yang ada di sana. Ia meraih ponselnya dan memutar musik romantis yang sudah terhubung di sebuah speaker bluetooth.
__ADS_1
Reynald kembali menghampiri sang istri dan mengulurkan tangannya. "Berdansa lah dengan ku, malam ini."
Elisa kembali terkekeh mendengar ucapan Reynald. "Pantas saja penampilan kamu sangat rapi malam ini, memangnya kamu tahu cara berdansa?"
"Untuk itulah kamu ada di sini, tolong ajari suami mu ini. Aku sampai membeli setelan jas agar bisa berdansa dengan istri ku." Reynald mengedipkan sebelah matanya dengan tangan yang bergerak minta di raih.
Elisa kembali terkekeh lalu meraih uluran tangan sang suami.
Reynald mengalungkan tangan kanannya ke pinggang sang istri. Ia nampak sangat kaku saat Elisa mulai mengajarinya untuk berdansa. Tetapi lama kelamaan ia mulai bisa mengimbangi.
Tubuh mereka melekat tanpa jarak dan dahi mereka saling bertumpu. Mata mereka saling terpejam menikmati alunan musik yang menambah romantis suasana.
Kamu lelaki ku, lelaki yang dulu tidak pernah ada dalam bayangan kini hadir dan mendominasi hati dan pikiran ku. Aku tidak tahu pasti bagaimana caranya menjadi wanita yang kamu inginkan, tetapi aku juga terus berusaha menjadi istri yang terbaik untuk mu sebagaimana kamu yang selalu berusaha membahagiakan ku, batin Elisa.
Aku laki-laki biasa yang tak punya tahta apalagi harta, tidak pernah bermimpi memiliki kamu yang begitu sempurna. Kamu tahu aku terbuai dengan kamu yang tidak palsu untuk segala hal, kamu yang selalu bersikap apa adanya dan tidak pernah mendramatisir keadaan, selalu menjadi diri sendiri itu adalah kamu. Aku mencintai kamu dengan apa adanya dirimu bukan karena kata orang, batin Reynald.
Reynald menggerakkan tangannya, meraih tekuk leher sang istri dan mendaratkan ciuman hangat di bibir mungil nan merah muda itu.
Kamu percaya bahwa cinta sejati itu ada?
Seharusnya kamu percaya. Banyak cara untuk kamu bertemu dengan cinta sejati mu dan banyak pula cara untuk cinta sejati mu itu menunjukkan bahwa kamu istimewa. Jangan mengharapkan hal yang sama yang orang lain punya kepada pasangan mu.
Karena sejatinya setiap orang menunjukkan perasaannya dengan cara yang berbeda-beda. Cintai dia apa adanya, jangan menuntut hal di luar batas kemampuannya, itu adalah cara sederhana untuk hidup bahagia. Percaya? Ya seharusnya kamu percaya dan membuktikannya sendiri.
__ADS_1
Bersambung π