Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.53 (Kisah-kisah baru)


__ADS_3

Keesokan harinya. Elisa dan Reynald sudah sampai di depan lapas tahanan kota A. Hari ini mereka bersama seorang pengacara akan mengurus kasus tabrak lari yang melibatkan Eva menjadi seorang tersangka utama.


"Pengacaranya sudah di dalam, kamu siap?" tanya Reynald kepada Elisa.


Elisa menghela napas panjang kemudian menatap sang suami. "Ya, aku siap." Sebenarnya begitu berat untuknya memutus ini, setelah semua hal buruk yang sudah di lakukan sang tante. Namun lagi-lagi saat hati nurani telah bicara maka terjadilah.


Reynald menggenggam tangan sang istri yang saat ini sedang berdiri di sampingnya. "Ayo kita masuk." Mereka melangkah saling beriringan. Jika Elisa sudah pernah datang untuk menemui sang Tante, maka ini adalah kali pertama Reynald datang ke tempat itu.


Bukan karena marah atau tidak sudi bertemu orang yang sudah membuatnya celaka. Tetapi saat itu , Reynald benar-benar ingin fokus memulihkan dirinya, memulihkan separuh ingatan yang tiba-tiba saja hilang pasca kecelakaan itu.


Sesampainya di dalam ruangan, terlihat pengacara Elisa sedang mengobrol dengan seorang petugas kepolisian. "Selamat siang Tuan dan Nona silahkan duduk," ucap polisi itu kepada Elisa dan Reynald.


"Jadi benar anda ingin menarik kasus ini, saya ingin Tuan dan Nona meyakinkan diri sebelum memutuskan. Hal ini bukanlah perkara yang sepele," ujar Pak polisi itu lagi.


"Kami sudah memutuskannya dengan matang. Istri saya dan saya sendiri yakin akan menarik kasus ini. Tante Eva adalah bagian dari keluarga kami, saya rasaw sudah cukup beliau melewati tiga bulan di tempat ini," jelas Reynald.


"Baiklah, kalau begitu tapi proses pembebasan akan memakan waktu empat sampai lima hari kedepan, bagaimana Tuan dan Nona?" tanya petugas itu lagi.


"Baik Pak, tidak masalah," ucap Elisa.


Reynald dan Elisa terlibat obrolan yang cukup panjang bersama petugas dan juga pengacara Elisa. Semoga keputusan mereka ini sudah tepat. Dan Eva tidak lagi mengulangi perbuatannya.


...**...


Setelah selesai dengan beberapa dokumen yang harus di tanda tangani, Reynald dan Elisa pergi untuk menemui Eva, karena memang waktu sudah menunjukkan jam kunjungan.


Saat melihat kedatangan Reynald dan Elisa, Eva nampak kaget. Ia terlihat malu untuk bertemu dengan Reynald setelah apa yang sudah ia lakukan. Pelahan ia melangkah duduk di hadapan Elisa dan Reynald.


"Untuk apa kalian datang melihat Tante lagi, Tante malu jika harus bertemu kalian ... terutama kamu, Reynald," ucap Eva sambil menundukkan wajahnya.


Elisa dan Reynald nampak kaget. Mereka tidak menyangka Tante yang dulu bersikap begitu sombong dan angkuh kini begitu lembut dan terlihat penuh penyesalan.


"Tante, kami datang kemari karena saya dan Elisa sudah memaafkan Tante, kami harap Tante tidak lagi melakukan kesalahan yang sama seperti beberapa bulan yang lalu," tutur Reynald.


"Tante tidak perlu merasa malu. Maafkan aku karena sudah mengatakan hal-hal yang kejam saat pertama kali menjenguk Tante di sini. Itu hanya emosi sesaat, apapun yang terjadi aku Tante tetaplah keluarga kami," sambung Elisa.


Perlahan Eva menegapkan kepalanya. Ia menatap Elisa dan Reynald secara bergantian. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kata maaf setelah apa yang sudah ia lakukan.


Selama di dalam penjara, ia lebih banyak merenung. Tentang sikap dan tingkah laku jahat yang selama ini bersemayam dalam dirinya. Ia ingin mengubah semuanya, sebelum terlambat karena usia yang tak lagi muda.


"Terimakasih, Elisa dan kamu juga Reynald dan Tante juga ingin mengucapkan selamat atas kelahiran anak kalian, Tante sudah melihat foto dan videonya di ponsel Tasya, sangat tampan," ujarnya yang berusaha terlihat twgar.


"Terimakasih Tante, namanya Raffa. Apa Tante ingin melihatnya secara langsung, pasti Raffa sangat senang bertemu neneknya," ujar Elisa.


"Tapi bagaimana caranya, kalian tidak membawanya kemari kan," ucap Eva bingung.


"Bukan di sini Tante, tapi di Mansion. Tante akan segera bebas dan bertemu Raffa," sahut Reynald.


"A-apa maksud kalian?" tanya Eva yang masih nampak bingung.

__ADS_1


Reynald dan Elisa saling menatap sesaat lalu kembali melihat kearah Eva. "Kami sudah mencabut laporan untuk kasus tabrakan itu, hari ini. Dan empat hari lagi Tante akan bebas," jawab Elisa.


Eva tidak bisa membendung air matanya. Ia menangis tersedu-sedu di hadapan Elisa dan Reynald. Sungguh ia menyesali semua yang telah ia lakukan. Ia tidak menyangka, keponakan yang ia benci adalah orang yang baik dan dengan suka rela membebaskannya dari jeruji besi.


"Terimakasih, Elisa, Reynald. Tante tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikan kalian," ujar Eva yang masih sesenggukan.


"Kami hanya ingin Tanta berubah, kita adalah keluarga sudah sepantasnya saling memaafkan, bukan," ujar Elisa.


"Tentu saja, Tante janji mulai sekarang Tante akan menjadi orang yang lebih baik lagi," tutur Eva seraya menyeka air matanya.


...**...


Di tempat berbeda, Jack yang sedang beristirahat bersama karyawan yang lain tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. Bagaimana tidak ia kaget saat melihat kedatangan Viola ke bengkelnya.


Entah sejak kapan, mereka mendadak dekat. Apa lagi saat Elisa dan Reynald di rawat mereka lebih sering bertemu. Tanpa pikir panjang, Jack melangkah menghampiri Viola yang saat ini sedang melambaikan tangan kepadanya.


"Vio, kok nggak ngabarin mau kesini," ucap Jack saat sudah sampai di hadapan Viola.


"Oh ini Kak, aku mau mengembalikan sandal jepit yang aku pinjam waktu itu di rumah sakit," jawab Viola seraya menyodorkan sandal jepit berwarna hitam kehadapan Jack.


"Oh ini, sudah lama sekali ya, kamu masih ingat saja, padahal aku sudah lupa," ucap Jack.


"Ah aku yang lupa mengembalikannya, Kak. Maaf ya," ucap Viola penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa, ayo duduk dulu di sana," ajak Jack.


"Tidak usah Kak, aku masih harus ke kantor, banyak kerjaan lembur," tolaknya.


"Besok ya, ada Kak. Kan besok hari Minggu," jawab Viola.


"Kamu mau jalan sama aku nggak? Makan-makan atau mungkin menonton film," ucap Jack yang terlihat ragu-ragu.


Mendengar hal itu, sontak wajah Viola memerah. "Bo-boleh, jam berapa?"


"Jam satu siang, akan aku jemput besok ya," jawab Jack yang terlihat sangat antusias. Akankah kali ini ia akan mengakhiri ke jombloannya.


...**...


Menjelang malam di Mansion utama. Melvin yang baru saja pulang dari kampus, mampir ke Mansion untuk menemui Tasya. H-5 sebelum keberangkatan, mereka sudah mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk di bawa ke Melbourne.


"Eh Vin baru pulang kampus?" tanya Elisa yang baru saja turun dari lantai dua.


"Iya kak, ada beberapa berkas yang harus aku berikan ke rektor sebelum pindah," jawabnya.


"Kamu kesini pasti mau ketemu Tasya ya, dia ada di kamarnya. Langsung saja ya, Kakak mau ke dapur dulu," ujar Elisa.


"Oh iya Kak, Raffa dan Kak Rey mana?" tanya Melvin.


"Di kamar, tadinya Kakak kamu mau tidurin Raffa, eh dianya juga ikut ketiduran," jawab Elisa lalu tekekeh bersama Melvin.

__ADS_1


"Kalau gitu aku ke atas dulu ya Kak," ucap Melvin lalu melangkah menaiki tangga menuju lantai dua.


Sesampainya di atas, ia menuju sebuah kamar di mana Tasya berada. Kamar itu terletak di bagian paling bojok kanan ruangan.


Tok.. tok.


"Sya, kamu di dalam, ini aku Melvin."


Klek.


Tak lama pintu kamar itu terbuka, Tasya muncul dari dalam dengan wajah sumringah karena melihat kedatangan orang yang dia tunggu sejak tadi. "Ayo masuk, aku lagi beres-beres barang buat di bawa ke US." Tanpa menunggu persetujuan, Tasya langsung menarik tangan Melvin untuk masuk kedalam kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar. Melvin terperangah melihat pakaian-pakaian yang berserakan di lantai. "Astaga, Sya. Kamu perempuan kok kamarnya berantakan banget gini sih."


"Aku sudah bilang lagi packing-packing barang buat di bawa ke Melbourne. Biasanya juga kamar aku rapi kok," ujar Tasya dengan sorok mata tajamnya.


Tidak cukup sampai di situ. Lagi-lagi Melvin terperangah saat melihat segitiga bermuda milik Tasya teronggok di lantai. "Astaga, sepertinya keputusan ku untuk masuk kedalam kamar ini salah, cepat singkirkan benda itu." Ia menunjuk segitiga bermuda yang tergelatak di depan lemari.


Tasya yang mengikuti arah telunjuk Melvin pun sontak membulatkan matanya. Ia melangkah dengan cepat memasukkan benda sakral itu kedalam lemari. "Ya ampun lebay banget, kayak nggak pernah liat begituan aja."


"Ya aku memang sering melihat seperti itu tapi milik Kak Rey dan Kak Jack. Pacaran saja belum pernah apalagi melihat begituan. Mata ku ini masih suci jangan kamu kotori, ," ucap Melvin kesal lalu duduk di tepi ranjang berwarna merah muda itu.


Mendadak jiwa kepo Tasya meronta-ronta. "Jadi kamu belum pernah pacaran, Vin?" tanyanya saat ikut duduk di samping Melvin.


"Wajah Melvin nampak memerah karena Tasya yang begitu dekat dengannya. "I-ya belum pernah ... tapi aku pernah menyukai seseorang, tapi sekarang aku sadar diri saja, kalau aku tidak pantas untuknya."


"Siapa wanita itu? ... kenapa dia berani-beraninya menolak orang sebaik kamu," ucap Tasya.


"Ya adalah. Pokoknya aku tidak mau berharap lagi. Kenapa jadi ngomongin ini sih, tadi aku kesini kan buat liat kelengkapan berkas-berkas kamu untuk di kirim ke universitas di Melbourne besok," ujar Melvin yang berusaha menggali perhatian Tasya.


"Oh iya, tunggu aku ambil laptop ku dulu ya." Tasya melangkah menuju nakas yang ada di pojok ruangan. Di ambilnya sebuah laptop dari dalam tas lalu kembali duduk di samping Melvin.


Tasya membuka laptopnya untuk memperlihatkan semua persyaratan yang sudah ia kerjakan. "Aku tidak tau ini benar atau salah, coba kamu cek lagi."


"Kamu aneh, jelas-jelas kamu lebih pintar dari ku. Seharusnya aku yang bertanya seperti ini," ujar Melvin lalu meraih laptop itu dari tangan Tasya.


Saat Melvin nampak sangat serius memperhatikan layar laptop. Tasya malah sibuk memperhatikan wajah Melvin. Ya, sebenarnya alasan memanggil Melvin untuk memeriksa berkasnya hanyalah sebuah alasan.


Entah sejak kapan, Tasya ingin selalu bersama dengan pria yang dulu ia anggap teman kini perasaannya mulai berpaling arah. Semakin di lihat kamu semakin tampan saja, sungguh aku tidak mau kamu anggap adik, Vin, batin Tasya.


"Jadi ini su--" Melvin tidak bisa melanjutkan ucapannya saat ia menoleh, ia mendapati Tasya sedang menatapnya dengan lekat. "Kamu kenapa melihat ku seperti itu. Apa ada sesuatu di wajah ku?


"Vin, kamu serius hanya menganggap ku adik? ... Aku masih bingung kenapa kamu menganggap ku adik, padahal kita ini seumuran dan aku ini seorang perempuan, apa aku nampak ke kanak-kanakan, apa aku kurang cantik?" tanya Tasya tiba-tiba.


Melvin sampai tidak berkedip mendengar Tasya bicara. Ia merasa ucapan Tasya mengarah pada satu kata, yaitu kenapa Melvin tidak menyukainya sebagai seorang wanita. Melvin berpikir seperti itu, namun ia tidak ingin terlalu percaya diri hingga berakhir sakit hati seperti sebelumnya.


Ya, ia sudah terlalu sering salah paham atas perhatian Tasya kepadanya. Hingga ia lelah untuk terus berharap.


"Maksud kamu apa suh, Sya?" tanya Melvin pada akhirnya.

__ADS_1


"Aku tidak mau kamu anggap adik, Vin. Aku mau kamu melihat ku sebagai seorang wanita dewasa I'm hard to be twenty years old now," ujar Tasya.


Bersambung πŸ’•


__ADS_2