Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.82 (Tiga pria yang akhirnya bertemu)


__ADS_3

Reynald yang sempat terpaku, mulai menegapkan posisinya seraya menunjuk Melvin dan Tasya yang masih terdiam dengan posisi yang sama. "Apa yang kalian lakukan!"


"Aduduh mata ku perih sekali," ucap Tasya tiba-tiba seraya memberi isyarat kepada Melvin untuk mengikuti rencananya.


"I-ini mata Tasya kelilipan." Melvin melepaskan tangannya dari rekuk leher Tasya, menghampiri sang Kakak dan langsung memeluknya. "Aku rindu sangat rindu kamu, Kak."


"Hey bocah, kau tidak merindukan ku?" sahut Jack yang berdiri di samping Reynald.


Melvin melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Jack. "Wah Kak Jack sudah mirip bule padahal baru sampai ya, haha."


"Apa kamu sudah bisa bahasa Inggris, ajari aku dong Bule di sini cantik-cantik ternyata, haha," ucap Jack tanpa sadar.


Tentu saja Viola tidak tinggal diam, ia segera medekat dan menginjak kaki Jack dengan keras. "Wah Melvin kamu apa kabar, makin tampan saja." Viola menjabat tangan Melvin dan berpura-pura tidak tahu jika sedang menginjak kaki Jack.


Jack terlihat meringis kesakitan namun ia tidak bisa menarik kakinya. "Vi-viola kamu menginjak kaki ku, sakit sekali."


Viola segera menjauhkan kakinya. "Ah sorry, aku tidak sengaja," ucapannya dengan. raut wajah berpura-pura sedih.


Tasya pun juga segera beranjak memeluk Mama dan yang lain. Seolah mengalihkan pembicaraan, Melvin dan Tasya berusaha untuk membuat keluarga mereka tidak mengungkit masalah tadi. "Loh Raffa mana?" tanya Tasya saat melepaskan pelukan dari Elisa.


"Raffa sedang tidur di kamar sama Bi Nini," jawab Elisa yang berusaha menahan senyumnya karena terlihat begitu jelas jika Tasya sedang mengalihkan fokus mereka.


"Be-benarkah, aku sangat merindukan Raffa, Ma, Kak El, Kak Vio ayo kita lihat Raffa." Tasya menarik tangan sang Mama dan Elisa menuju kamar. Sungguh ia sangat malu karena hampir saja berciuman dengan Melvin di depan keluarganya.


Saat ini tinggal Jack, Reynald dan Melvin yang ada di ruangan itu. Melvin melangkahkan kakinya duduk di sofa ruang tamu, menyadarkan tubuhnya di sana seraya menghela napas panjang.


Jack dan Reynald saling menatap seolah mempunyai pemikiran yang sama. Mereka melangkah menghampiri Melvin dan langsung duduk di sampingnya. "Hey, jujur saja kamu tadi itu mau apa, hah?" tanya Jack tiba-tiba.

__ADS_1


Melvin menoleh kearah Jack. "Ehm maksud, Kak Jack apa?"


"Kami tau tadi itu mata Tasya tidak kelilipan kan?" Reynald memicingkan matanya seraya menahan tawa melihat wajah pucat sang adik.


Melvin mencoba berpikir alasan apa yang harus ia berikan. Namun rasanya percuma, jika ia berbohong sang Kakak pasti tau. "Ya, baiklah. Aku menyerah, tadi itu aku memang mau menciumnya, tapi itu karena dia mendesak."


"Wahaha, kamu benar-benar sudah mulai goyah ya. Ingat tujuan utama kamu ke sini, Kakak saja sampai tercengang mendengar harga sewa apartement ini, awas saja kalau kamu dan Tasya membuat Elisa kecewa." Reynald melototi Melvin hingga adiknya itu tertunduk lemas.


"Huft, aku ini keturunan ayah. Aku tidak akan menyetuh wanita ku sebelum sah. Pokoknya kalian tenang saja, aku janji tidak akan keluar batas." Melvin kembali menyadarkan tubuhnya. "Tadi kami baru saja mau melakukannya untuk pertama kali tapi kalian menggagalkannya."


Prakk..


"Aw sakit Kak." Melvin mengelus bagian kepalanya yang di jitak Reynald.


"Wah kamu tau bagaimana perjuangan aku dan Reynald untuk sampai ke sini. Aku sampai minum obat anti mabuk karena takut mabuk udara, tapi kamu malah bertingkah begini," ujar Jack kepada Melvin.


"Maksud kamu janda muda yang jualan bubur ayam itu?" tanya Rumah sambil terkekeh geli.


"Apa sih Kak, bukanlah. Itu sih Kak Jack, kalau kesana pasti cuma mau liatin mbaknya," ucap Melvin seraya menunjuk Jack.


"Hey kenapa aku. Itu kan dulu, mulai sekarang jangan sebut janda itu lagi, tadi saja aku hanya salah bicara, Viola sampai menginjak Kaki ku. Sekarang saja masih sakit," ucap Jack seraya menunjukkan kakinya kepada Melvin dan Reynald.


"Kak Vio, maksudnya sekarang Kakak dan Kak Vio sudah pacaran?" tanya Melvin menatap Jack serius.


"Tentu saja, dia tergila-gila pada ku. Dia bisa memeluk ku sampai berjam-jam bahkan di depan kantor, dia agresif sekali," ucapannya dengan wajah sombong seperti biasa.


"Jangan dengarkan, dia itu melebih-lebihkan," bisik Reynald pada Melvin.

__ADS_1


Melvin menatap Jack yang masih tersenyum-senyum sendiri. "Wah aku senang Kak Jack sudah tidak jomblo lagi tapi kenapa dia semakin sombong saja, apa coba yang Kak Vio suka dari barang antik ini," ucap Melvin lalu menggeleng perlahan.


"A-apa barang antik? Hey kau sini! Kau tidak pernah merasakan jitakkan ku kan." Jack mengarahkan tangannya untuk menjitak Melvin.


Tentu saja Melvin langsung berdiri dari posisinya, barlari mengelilingi Sofa demi menghindari kejaran Jack. Reynald hanya bisa terkekeh melihat pertengkaran adik dan sahabatnya itu.


Rasanya sudah begitu lama mereka tidak selengkap ini. Jauh sebelum bertemu Elisa, hanya Melvin dan Jack yang selalu menemani hari-hari seorang Reynald. Sedih, senang mereka lalui bertiga.


Mungkin kelak saat Jack dan Melvin sudah berkeluarga. Hal seperti ini akan semakin jarang terjadi. Karena hidup itu berputar, sadar atau tidak kamu akan sampai pada suatu masa di mana kamu mulai sibuk dengan dunia yang baru dan meninggalkan dunia yang telah membesarkan mu.


"Hey berhentilah aku lemas karena sejak pagi tidak makan nasi," ucap Jack yang kembali duduk di samping Reynald.


Melvin pun menghentikan larinya dan ikut duduk di samping, Jack. "Sebagai permintaan maaf, malam ini aku akan masak nasi goreng untuk kalian."


Jack kembali menegapkan posisinya, menatap Melvin yang duduk di sampingnya. "Kamu punya beras?"


"Kamu dapat dari mana?" tanya Reynald juga penasaran.


"Tentu saja, bukan cuma beras, aku juga punya kerupuk dan bawang goreng, sambal dan lainnya. Di dekat sini ada minimarket khusus produk dari negara kita, ya walaupun harganya berkali-kali lipat, tapi aku tetap beli karena aku tidak bisa makan roti dan pasta setiap hari," ujar Melvin.


Jack menghembuskan napas lega, ia langsung memeluk Melvin yang duduk di sampingnya. "Akhirnya aku selamat. Aku pikir aku akan mati karena kehilangan nasi dalam hidupku, ternyata di negeri kangguru ini masih ada yang menjual beras."


"Apa Kakak bisa melepaskan ku. Kebiasaan sekali suka memeluk orang sembarangan, Kakak Jack bau tau," ucap Melvin seraya terus mencoba melepaskan diri.


"Ayolah, kamu merindukan bau tubuh ku kan," ucap Jack yang masih memeluk Melvin dengan erat.


"Najis!!" teriak Melvin yang tidak juga bisa melepaskan diri.

__ADS_1


Bersambung πŸ’•


__ADS_2