
Elisa melihat jam di tangannya. Ia menghela napas lega, karena waktunya untuk pulang. Sudah beberapa hari ia tidak pernah meninggalkan Raffa, kali ini mau tidak mau ia harus masuk kantor karena banyak pekerjaan yang terbengkalai.
Di raihnya blazer yang tergabung di belakang kursi dan juga tas yang ada di atas meja kerja. Ia melangkah keluar dari ruang itu dan langsung beranjak menghampiri Viola yang masih sibuk di belakang meja kerjanya.
"Vio, aku pulang duluan ya, jangan lupa malam ini antar berkas kerjasama itu ke Mansion ku," ucap Elisa seraya memasang blazernya.
"Baik Nona ... oh iya, bukannya hari ini adalah hari yang spesial," ujar Viola.
"Hari yang spesial ... ah iya besok dua puluh tujuh April ya. Bagaimana bisa aku lupa." Elisa menepuk jidatnya sendiri karena melupakan hari ulang tahun pernikahannya yang ke satu tahun.
"Apa Nona ingin membuat pesta di Mansion atau malam ini kita buat pesta barbeque?" tanya Viola.
"Aku ingin lebih dari pesta kecil. Aku mau pesta yang di gelar di hotel berbintang, kamu tahu selama satu tahun pernikahan ini kami lewati dengan berbagai macam halangan dan rintangan, tentu saja harus di rayakan dengan mewah," tutur Elisa.
Jika mengingat awal pertemuan mereka, siapa yang menyangka pada akhirnya mereka akan benar-benar jatuh cinta satu sama lain. Dulu Reynald hanyalah sosok asing yang ia sewa demi harta warisan keluarga Eduardo.
Dulu hubungan mereka hanyalah hubungan simbiosis mutualisme atau atas dasar saling membutuhkan. Tetapi kini mereka saling mencintai, berjanji untuk memegang satu komitmen hingga akhir hayat nanti.
"Siapakan tempat di hotel biasa, aku mau besok malam semua sudah siap, ingat jangan beritahu Reynald tentang hal ini, aku mau membuat kejutan," ujar Elisa lalu melangkah pergi meninggalkan Viola yang saat ini sedang terpaku dan mencoba meresapi ucapan bosnya itu.
"Jadi besok malam semua harus sudah selesai ...." Viola memukul jidatnya sendiri. "Bagaimana bisa aku mengurus pesta dengan waktu mepet begitu. Tapi kalau tidak aku kerjakan Nona Elisa bisa marah, lebih baik aku telpon manager hotel wings dulu."
Viola segera meraih ponselnya untuk mengurus tempat, catering dan juga dekorasi pesta ulang tahun pernikahan Reynald dan Elisa. Sepertinya malam ini dan besok ia harus kembali lembur untuk memastikan semuanya berjalan lancar.
...*...
Di bengkel, Reynald tiba-tiba saja mengumpulkan para karyawannya di depan bengkel, termaksud Jack juga. Semua karyawan bertanya-tanya kenapa bos mereka itu tiba-tiba meminta mereka berkumpul.
Ada yang menyangka akan mendapatkan bonus dan ada pula yang menyangka di antara mereka akan di pecat. Jack yang sudah tidak sabaran terlihat Reynald terdiam sejak tadi akhirnya memutuskan untuk bertanya. "Sebenarnya ada apa, Rey. Apa kamu mau membagikan bonus untuk kami, ya nggak?" tanya Jack pada semua karyawan di belakangnya.
__ADS_1
"Betul!!" seru para karyawan secara bersamaan.
Reynald yang sejak tadi berpikir untuk menyampaikan maksudnya, akhirnya mulai angkat bicara. "Sebenarnya, maksud ku mengumpulkan kalian semua di sini untuk bertanya sekaligus berdiskusi."
"Diskusi apa sih, Rey?" tanya Jack yang sudah tidak sabaran.
"Aku tahu kalian semua sudah menikah kecuali si jomblo karatan yang ada di depan itu," ucapannya seraya menunjuk ke arah Jack."
"Asem bener, kenapa aku lagi yang di pojokin bos bos," ucap Jack yang hanya bisa mengelus dada karena memang kenyataannya di bengkel itu hanya dirinya yang belum menikah.
Reynald terkekeh kecil bersama karyawan lain melihat ekspresi wajah Jack.
"Jadi begini, besok itu adalah hari ulang tahun pernikahan ku dan Elisa. Menurut kalian aku harus memberikan hadiah apa," tutur Reynald.
"Ya ampun, aku kira aku mau di pecat, bikin kaget aja bos," sahut salah satu karyawan.
"Tergantung Bos, kalau istri saya di sodorin duit juga melek."
"Bener juga, kasih bunga aja dah."
"Itu udah biasa kali."
Reynald malah nampak semakin bingung mendengar saran dari para karyawannya. Ia melirik kearah Jack yang hanya diam tanpa memberikan tanggapan. "Jack, kasih saran dong, diam aja dari tadi."
"Maaf Tuan Muda, saya hanyalah seorang jomblo karatan yang tidak mengerti tentang hal yang kalian semua bicarakan ... oh tuhan ku, kuat kan aku dari cobaan ini," ujar Jack dengan ekspresi lebay-nya.
Reynald menghela napas berat. Sejak malam tadi ia memikirkan hal itu hingga berulang-ulang hingga akhirnya tidak juga mendapatkan jawaban.
Satu tahun sudah berlalu. Saat ini cinta mereka sedang pada puncaknya, ingin memberikan yang terbaik hingga Reynald tidak tahu hal seperti apa yang bisa menggambarkan bagaimana berharganya sosok Elisa.
__ADS_1
"Sudah jangan bingung, Rey. lakukan saja hal kecil namun penuh ketulusan, maka itu akan lebih berarti," sahut Jack tiba-tiba.
"Hal kecil penuh ketulusan," ucap Reynald mengulang kata-kata Jack. Ia kembali berpikir dan akhirnya menemukan jawaban. "Kamu benar, dia hanya perlu melihat dan merasakan bagaimana aku mencintainya meskipun dari hal-hal kecil."
...**...
Elisa dalam perjalanan pulang menuju Mansion. waktu sudah menunjukkan pukul enam sore namun jalanan nampak begitu macet.. Ia kembali menelpon bi Nini untuk memastikan Raffa tidak rewel.
"Halo Bi, bagaimana, Raffa. Rewel tidak?"
[Tidak sama sekali Nona sekarang baby R sedang tidur nyenyak, tadi habis bermain dengan Nyonya Eva di mansion.]
"Syukurlah, aku mungkin akan sedikit terlambat karena jalanan sangat macet dan aku juga harus menjemput Reynald di bengkel karena dia tidak membawa mobil."
[Baik Nona, tidak apa-apa.]
Elisa mematikan panggilan telepon itu lalu kembali memandang keluar jendela. Suara klakson mobil terdengar mendominasi jalanan yang sedang padat merayap. Ia kembali teringat momen saat pertama kali kembali ke kota ini.
Saat itu ia merasa tidak betah dan asing. Dulu kota ini hanyalah sebuah kota penuh dengan masalalu kelam yang membuat Elisa kembali terhanyut dalam trauma yang berkepanjangan. Ia pikir pergi dari kota ini adalah hal yang paling tepat.
Namun setelah beberapa lama, saat di mana pengacara sang Papa membacakan surat wasiat yang mengharuskan ia menikah dan mempunyai anak, mau tidak mau ia harus tetap tinggal.
Menikah saat hati mengalami trauma atas penghianatan sang Papa di masalalu adalah hal yang tidak mudah. Ia tidak ingin jatuh cinta lalu terluka seperti sang Mama.
Hadirnya sosok lelaki yang tiba-tiba saja masuk kedalam hidup dan juga perlahan menyentuh relung hati, membuat Elisa mulai runtuh. Ia yang tidak ingin jatuh cinta, mulai berpaling arah, Reynald membuka matanya untuk mihat dunia ini seluas-luasnya.
Hatinya mulai tergugah, ia akhirnya percaya bahwa cinta sejati itu nyata dan benar-benar ada. Jika saat itu ia ragu, namun perlahan ia melangkah, meraih uluran tangan Reynald untuk berjalan saling beriringan, melalui takdir yang sudah menunggu mereka.
Happy anniversary untuk Nona Arogan dan Mr.Bucin kita.... semoga bahagia selalu. π
__ADS_1
Bersambung π
Jangan lupa dukungannya ya reader terimakasih.