Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.40 (Mengapa terjadi)


__ADS_3


...Mungkin semua orang berpikir aku adalah Cinderella dalam versi pria karena bisa memiliki kamu yang punya segalanya. Tapi aku lebih ingin di sebut sebagai snow white dalam versi pria. Karena bagiku kamu adalah anugerah terindah di batas akhir keputusasaan *hati yang dulu mati suri kini bangkit kembali....


...~Reynald dimitri*~...


Satu bulan berlalu....


Sepulang dari kantor, Elisa mampir untuk melihat bengkel sang suami yang saat ini sudah di renovasi. Bukan hanya tempat untuk memperbaiki mesin mobil dan kompa ban seperti dulu.


Sekarang tempat itu sudah di rubah menjadi lebih luas, membuka jasa untuk reparasi, modifikasi dan juga tempat pencucian mobil. Karyawan juga di tambah menjadi tujuh orang.


Elisa melambaikan tangannya kepada Reynald seraya terus melangkah menghampirinya. Dengan perut yang semakin membuncit ia terlihat tersengal-sengal meski hanya sekedar berjalan.


"Kamu kenapa ke sini, aku juga sebentar lagi selesai, lalu kenapa kamu masih memakai sepatu high heels, sepertinya pagi tadi kamu bukan memakai ini," ujar Reynald yang semakin protektif kepada sang istri.


"Aku ada rapat dengan perusahaan besar, aku tidak mau terlihat pendek dengan sepatu tanpa hak," ucap Elisa lalu menggedarkan pandangannya ke sekeliling bengkel yang sudah seperti pusat otomotif itu. "Ternyata tempat ini bisa jadi bagus begini setelah di renovasi, pantas saja dulu perusahaan menginginkan tempat ini, karena lokasinya memang strategis."


"Ini semua juga karena karena bantuan kamu." Reynald meraih tangan Elisa dan langsung di genggam erat. "Ayo naik ke atas, Melvin dan Jack pasti senang kamu datang."


Elisa mengikuti langkah Reynald masuk ke lantai dua ruko.


~


Di depan sebuah jendela besar yang terbuka. Seorang wanita muda sedang berdiri dengan ponsel yang melekat di telinganya. Hembusan angin yang menerpa tak membuatnya bergeming, wajahnya begitu serius mendengarkan ucapan orang di seberang telepon.


[Hari ini kita jalankan rencana untuk menjebaknya, pastikan kamu siap, Sofia.]


"Ya, aku siap. Malam ini aku akan segera ke lokasi."


Sofia begitu yakin untuk rencana yang di usulkan Eva. Seberapa keras pun ia mencoba menolak namun ia tidak bisa mengelak jika dirinya menginginkan Reynald. Bujukan, rayuan sudah ia coba namun tidak ada hasil, akhirnya ia memutuskan untuk mengambil jalan pintas demi sebuah hal yang sebenarnya bukan cinta tapi sekedar obsesi ingin memiliki.


~


Sementara itu di tempat yang berbeda. Reynald sedang berbincang-bincang dengan Jack, Melvin dan juga Elisa sebelum pulang. Di tengah obrolan mereka di depan bengkel, tiba-tiba ponsel Reynald berdering. Ia tersenyum saat mendapati orang yang menelponnya adalah klien yang kemarin menawarkan kerjasama kepadanya.


"Oh baik, saya sendiri akan segera ke sana," ucap Reynald kepada seseorang dari balik telepon. Setelah selesai ia mematikan panggilan telepon itu.


"Siapa Rey?" tanya Jack.

__ADS_1


"Orang yang datang kemarin," jawabnya.


"Wah sepertinya usaha kakak akan semakin lancar," ujar Melvin.


"Memangnya apa sih kok aku tidak tau," sahut Elisa yang terlihat kebingungan.


"Oh ini sayang, kemarin ada seorang pengusaha mobil sewaan, dia mau memodifikasi semua mobilnya dan dia mengajak ku untuk bekerja sama," tutur Reynald.


"Syukurlah kalau begitu, berarti kamu mau ke sana?" tanya Elisa.


"Iya, tapi aku akan antar kamu pulang dulu kok," ucap Reynald lalu merangkul Elisa.


"Jangan lama pulangnya ya, aku ngambek lagi loh," ucap Elisa dengan wajah cemberutnya.


"Iya cuma sebentar kok, habis itu aku langsung pulang," ujar Reynald kemudian mendapatkan satu kecupan di kening Elisa.


Dua jomblo yang ada di depan mereka hanya bisa terperangah melihat kemesraan keduanya.


"Yang lagi bucin, mesra-mesraan nggak liat tempat, di sini ada pria merana yang kurang kasih sayang," ucap Jack dengan gaya lebay-nya.


"Sabar Kak, aku sih jomblo masih muda, lah kak Jack udah segini masih aja, coba deh kak ngaca mungkin ada yang salah, hahaha," ujar Melvin lalu tertawa terbahak-bahak bersama Elisa dan juga Reynald.


"Kalian tega!!!" teriak Jack dengan kesal.


Pukul tujuh malam, setelah selesai mandi dan berganti pakaian di Mansion, Reynald bergegas pergi karena sudah melewati waktu perjanjian bertemu, di tambah lagi kliennya itu tiba-tiba mengubah lokasi yang tadinya di restauran sekarang ingin bertemu di apartemen orang itu saja.


Sepanjang perjalanan Ia terus melihat jam di tangannya. Semangatnya untuk menjadi orang yang lebih baik begitu membara, ia tidak ingin melewatkan kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali.


~


Sesampainya di depan gedung apartement, Ia melangkah masuk seraya mengecek ponselnya untuk melihat nomor unit apartemen tempat orang itu tinggal.


Tak butuh waktu lama, akhirnya ia menemukan tempat tujuannya. Ia memencet bel beberapa kali hingga akhirnya seorang pria membuka pintu dari dalam.


"Wah akhirnya Tuan Reynald datang juga, ayo silahkan masuk," ucap pria bertubuh tambun itu.


"Baik, terimakasih," ucap Reynald lalu melangkahkan kakinya memasuki tempat itu. Sesampainya di dalam ia di minta untuk duduk di sofa ruang tamu, sementara pria tadi pergi ke belakang untuk mengambil minuman.


Tidak lama, orang itu kembali menghampiri Reynald dengan dua cangkir teh di tangannya.

__ADS_1


"Terimakasih anda sudah meluangkan waktu untuk bertemu saya, saya benar-benar tertarik untuk memodifikasi semua mobil-mobil saya, jumlahnya sekitar tiga puluh mobil, biasanya di sewakan untuk para wisatawan asing yang datang ke kota ini," ujar pria itu sambil menyodorkan secangkir teh kehadapan Reynald.


"Kami bersedia menhandel semuanya, anda tenang saja," ujar Reynald yang nampak sangat bersemangat.


"Syukurlah, kalau begitu silahkan minum tehnya dulu, maaf saya hanya bisa membuat teh karena istri saya sedang keluar," ucap pria itu.


"Ah iya tidak apa-apa, ini saja sudah cukup," ucap Reynald lalu meraih cangkir teh itu dan langsung meneguknya perlahan.


"Kira-kira desain mobil yang seperti apa yang anda inginkan, karena saya harus memesan bahan-bahannya dari sekarang?" tanya Reynald sambil meletakkan cangkir teh itu di atas meja.


"jadi begini saya ingin desain yang elegan dan nyaman ...."


Saat orang itu sedang menjelaskan,, tiba-tiba Reynald merasakan tubuhnya memanas, kepalanya terasa begitu pusing dan pandangannya berputar-putar. Ia bahkan tidak bisa mendengar dengan jelas semua ucapan orang itu.


"Tuan, apa anda baik-baik saja," ucap pria bertubuh tambun itu lalu berdiri posisinya saat Reynald tidak merespon ucapannya.


Reynald bersandar di sofa itu dengan keringat yang bercucuran dari dahi dan napas yang terasa begitu sesak. "To-tolong sepertinya ada yang salah dengan tubuh saya."


Bukannya menolong, pria bertubuh tambun itu malah tersenyum menyeringai lalu melangkah keluar dari apartement itu.


~


Sesampainya di basement apartemen pria bertubuh tambun itu melangkah menuju sebuah mobil Ferrari yang terparkir di sana.


Tok... tok.


Pria itu mengetuk kaca mobil, hingga akhirnya kaca mobil itu terbuka.


Wanita paruh baya dengan kaca mata hitam yang menutupi matanya sekarang saat ini sedang duduk di kursi kemudi. Ya, siapa lagi kalau bukan Eva.


"Nyonya target sudah masuk perangkap," ucap pria itu.


Eva melemparkan sebuah amplop tebal kepada pria itu. "Bagus, kamu boleh pergi sekarang."


"Baik Nyonya," pria itu melangkah dengan cepat dan berlalu pergi.


Setelah kepergian pria itu, Eva menoleh ke sisi kirinya dimana seorang wanita muda tengah duduk. "Sekarang giliran kamu, lumpuhkan dia."


"Tentu saja, aku akan membuatnya tidak bisa lagi lari dariku."

__ADS_1


Bersambung πŸ’•


Jangan lupa dukungannya, nanti author tambah lagi up-nya πŸ˜‚


__ADS_2