Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.57 (Kita pacaran?)


__ADS_3

Elisa dan Reynald kembali ke lapas tahanan kota A. Hari ini adalah hari kebebasan Eva, mereka sengaja tidak memberitahu Tasya untuk memberikan kejutan.


Tidak ada lagi baju tahanan yang melekat di badan Eva. Ia sudah berganti pakaian biasa. Saat keluar, ia melambaikan tangannya kepada Elisa dan Reynald yang sudah menunggunya di depan lapas.


Elisa langsung berhambur memeluk sang Tante. Lagi-lagi Eva menangis haru, ia tidak percaya hari ini adalah hari kebebasannya. Ia melepaskan pelukan itu dan menatap sang keponakan. "Terimakasih ya, kalian benar-benar membebaskan Tante."


"Sudah Tante, tidak perlu berterimakasih. Aku juga senang akhirnya Tante bisa bebas. Tasya pasti senang, kami sengaja tidak memberitahu dia untuk memberikan kejutan," ujar Elisa.


"Iya benar, hari ini dia pergi ke kampus sampai sore. Nanti kita akan buat acara kecil-kecilan di mansion untuk menyambut kedatangan Tante," sambung Reynald.


"Sebenarnya kalian tidak perlu repot-repot," ucap Eva yang merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa Tante, ayo kita pulang, Raffa pasti sangat senang bertemu neneknya," ujar Elisa.


Mereka beranjak masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu.


...**...


Sementara di kampus Tasya dan Melvin sudah selesai mengurus semua surat pindah mereka. Sebelum pulang, mereka menyempatkan diri untuk makan di kantin kampus untuk terakhir kita karena besok mereka akan berangkat ke Melbourne.


Di tengah perjalanan menuju kantin, tiba-tiba saja Alex datang dan menghadang langkah mereka. Ya, Alex adalah mantan kekasih dari Tasya, mereka putus setelah Alex tahu kalau Eva terseret kasus kriminal.


"Awas kami mau lewat," ucap Melvin seraya menatap tajam kearah Alex.


Alex seolah tidak melihat Melvin, ia hanya fokus melihat Tasya saja. "Sya malam itu aku hanya sedang emosi saja, aku benar-benar tidak ingin putus dari kamu. Jangan pindah kampus ya."

__ADS_1


"Lex kamu ini memang nggak tau diri atau apa, setelah kamu memghina Mama ku sekarang kamu mau balik, nggak punya malu ya? Aku anggap urusan kita sudah selesai jangan ganggu aku lagi."


Tasya hendak kembali melangkah namun Alex kembali mencegahnya. "Sya dengerin aku dulu. Kamu kenapa berubah gini sih."


Melvin yang berada di antara keduanya, merasa semakin kesal, di lepaskanya tangan Alex dari lengan Tasya. "Bro kamu jangan ganggu dia lagi. Kamu udah nyia-nyiain dia sekarang bilang mau balik, pikir pake otak dong.


"Aku nggak ngomong sama kamu ya, lagian kamu siapanya Tasya!"


"Dia pacar aku!" seru Tasya tak kalah kerasnya.


Alex nampak kaget, tapi Melvin lebih kaget lagi. Melvin menatap Tasya seolah meminta jawaban atas penuturan Tasya tapi Tasya hanya diam dan kembali menatap Alex.


"Saat aku butuh sandaran kamu kemana, saat aku butuh dukungan kamu di mana ... Lex aku bersyukur karena kejadian ini aku jadi tau mana orang yang tulus sayang sama aku dan mana yang toxic. Kamu pernah bilang akan mencintai aku dalam keadaan apapun tapi apa kamu mutusin aku karena Mama seorang narapidana," jelas Tasya yang terlihat sangat emosional.


"Saat itu aku cuma emosi Sya tapi kamu beneran nolak aku balik demi cowok nggak jelas ini." Alex kembali melirik Melvin dengan tatapan merendahkan.


Tasya meraih tangan Melvin dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Di luar rencana, mereka malah pergi ke taman kampus. Sesampainya di sebuah kursi taman, Tasya melepaskan pegangan tangannya.


"Maaf Vin, aku bicara seperti tadi agar Alex berhenti mengejar ku, sudah beberapa hari ini dia menghubungi ku lagi tapi aku benar-benar tidak mau kembali lagi sama dia," ucap Tasya lalu melangkah duduk di kursi taman itu.


"Melvin menghela napas panjang kemudian ikut duduk di samping Tasya. "Ya aku ngerti. Tapi tadi aku cukup kaget saat kamu bilang kita pacaran ... padahal pada kenyataannya kita ini hanya teman dan akan terus seperti itu, benarkan?"


Tasya beralih menatap Melvin. "Sampai kapan sih Vin kamu bakal nganggep aku adik? Aku sudah bilang aku nggak mau jadi adik kamu, kita sudah sama-sama dewasa masa kamu nggak punya perasaan sama sekali sama aku, kita sudah sedekat ini hampir satu tahun loh."


Melvin menatap Tasya dengan bingung. "Kamu ngomong ngawur lagi ya?"

__ADS_1


Tasya meraih tangan Melvin lalu di letakkan ke jidatnya. "Mau jitak? Jitak aja udah kebal. Orang serius di bilang ngawur, kamu nggak peka tau nggak?"


Melvin menatap Tasya dengan lekat. "Aku sudah terlalu sering berharap Sya, sangat sering sampai aku selalu salah mengartikan perhatian kamu ke aku."


"Maksudnya selama ini kamu ...."


"Iya benar, aku sudah menyukai kamu sejak lama saat Kak Reynald belum menikah dengan Kak Elisa pun aku sudah sering memperhatikan kamu dari kejauhan. Sekarang aku udah nggak mau berharap lagi tapi kalau kamu terus bersikap kayak gini aku jadi bingung sebenarnya mau kamu apa dan kamu mau kita seperti apa, yang nggak peka itu aku atau kamu sih?"


Hampir satu tahun berteman, baru kali ini Tasya mendengar pengakuan cinta dari Melvin. Ya memang selama ini ia tidak pernah menggap Melvin sebagai orang yang bisa ia jadikan pacar. Perasaan itu baru tumbuh sekarang saat ia sadar jika tidak ada yang lebih mengerti dirinya dari pada Melvin.


"Maaf Vin selama ini aku nggak tahu dan terlalu sibuk dengan Alex sampai lupa jika kamu yang selalu ada di samping ku. Andai masih ada satu kesempatan, kamu dan aku memulai semuanya, sebelum berangkat ke Melbourne aku mau kita memperjelas status kita."


"Maksudnya kita pa---"


"Iya ayo kita pacaran."


Melvin terperangah mendengar ucapan Tasya. Ia berharap ini bukan mimpi, mimpi di mana Tasya lah yang mengajaknya untuk pacaran.


"Ini nggak bener, seharusnya aku yang nembak kamu ... pancarannya nanti aja, sampai aku nemu momen yang pas buat nembak kamu," ucap Melvin lalu beranjak dari tempat duduknya. "Ayo ke kantin," ajak Melvin seraya mengulurkan tangannya kepada Tasya.


"Jadi kita belum pacaran?" tanya Tasya.


"Belum, yang penting itu komitmennya, kamu sekarang punya aku dan gitu juga sebaliknya," ujar Melvin lalu tersenyum kepada Tasya.


Akhirnya wajah cemberut Tasya kembali tersenyum, ia berdiri dari tempatnya duduk lalu meraih uluran tangan Melvin. Mereka berjalan beriringan menuju kantin kampus, meski belum menyandang status pacaran secara resmi tapi yang penting hati yang saling bertaut mulai hari ini.

__ADS_1


Bersambung πŸ’•


__ADS_2