
Jack memarkirkan motornya di basement hotel tempat acara anniversary Elisa dan Reynald akan di gelar. Sebelum pergi, ia merapikan rambutnya yang sedikit lepek karena memakai helm.
Setelah selesai, ia melangkah keluar dan langsung menuju lobby. Ia tersenyum saat mendapati Viola sudah menunggunya di meja Resepsionis. "Viola!" panggil Jack seraya melambaikan tangannya.
Saat mendengar suara seseorang memanggil namanya, Viola yang tadinya sedang bicara dengan petugas resepsionis, menoleh kearah sumber suara. Seketika ia langsung terpana saat melihat Jack yang sedang melambaikan tangan padanya.
Bagaikan ada angin yang membuat rambut panjang Viola terurai ke belakang, ia hanya tersenyum seraya memandangi Jack yang terus melangkah mendekatinya. Dalam hati ia berkata, kenapa dia tampan sekali dengan setelan formal seperti itu.
"Maaf aku terlambat, tadi jalanan macet sekali." Jack menyeka keringat yang membasahi dahinya.
"Ah tidak apa-apa, Kak. aku juga baru sampai ... kalau begitu ayo kita ke lokasi." Viola melangkah lebih dulu mendahului Jack.
Langkah Viola dan Jack berhenti di depan pintu sebuah ruangan yang akan menjadi lokasi pesta. Viola membuka pintu itu dan--
"Waw, mewahnya." Jack melangkah seraya terus menggedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Ia terpana saat melihat dekorasi yang tertata apik, bahkan ini sudah seperti pesta pernikahan baginya.
Viola tersenyum seraya menoleh kearah Jack. "Dekorasi ini sesuai permintaan, Nona. Di dominasi dengan warna green and gold, pokoknya malam ini semua harus perfect."
Terlihat para pekerja hanya tinggal melakukan finishing akhir dan semuanya selesai. Jack dan Viola melangkah masuk kedalam, Viola mulai menjelaskan kepada Jack, surprise seperti apa yang akan di berikan kepada Reynald nanti.
"Oh jadi seperti itu, baiklah aku mengerti. Mari kita sukseskan acara malam ini." Jack menoleh kearah Viola lalu tersenyum padanya.
"Tamu undangan juga sudah terdata dan di sediakan kamar untuk menginap di sini." Viola menghentikan langkahnya tepat di depan
"Wah Sultan memang beda ya. Berarti malam ini aku akan menginap di hotel mewah, luar biasa." Jack memutar tubuhnya menghadap Viola. "Vio, masalah malam tadi, kamu tidak marah lagi kan?"
"Oh itu, tentu saja tidak. Untuk apa aku marah Kak, ayo kita kesana lagi." Ia hendak kembali melangkah namun langsung di cegah oleh Jack.
Jack memegang pergelangan tangan Viola. "Vio, aku belum selesai bicara, kamu kenapa buru-buru sekali."
Viola membalik badannya, kembali menatap Jack yang terlihat sangat serius dia banding biasa. "Kenapa lagi Kak, aku benar-benar tidak marah. Malam tadi aku hanya lelah."
__ADS_1
Jack menatap mata Viola hingga tak ingin berkedip. Malam tadi ia sudah kehilangan satu kesempatan. Kali ini, di tempat ini seharusnya memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin.
"A-ku ... aku hanya ingin bilang kalau aku ... aku ...." Jack menghela napas berat saat satu kata itu bahkan tidak bisa terucap dari mulutnya.
Viola yang nampak mulai bosan menunggu Jack untuk bicara, kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya. Ia lelah berharap bahwa Jack akan menyatakan cinta padanya, akan terasa lucu jika yang menyatakan lebih dulu adalah, Viola.
Jack memandangi kepergian Viola yang semakin menjauh darinya. Aku tidak bisa membiarkan dia pergi kali ini, batin Jack.
"Vio!!!" seru Jack. Membuat langkah Viola terhenti namun ia enggan untuk berbalik.
"Vio, tetaplah di situ. Dengarkan ucapan ku baik-baik. Aku menyukai kamu, Viola Anastasya. Aku mau hubungan kita lebih dari sekedar teman ... mulai sekarang jadilah pacarku."
Semua orang yang sedang sibuk mendekorasi ruangan sore ini, baru saja mendapatkan tontonan menarik, mereka bertepuk tangan saat Jack dengan lantang menyatakan perasaannya.
"Ayo terima...terima," seru para pekerja itu.
Perlahan Viola berbalik memandangi Jack yang berdiri sekitar lima meter darinya. Ia melangkah mendekati Jack dan langsung mengetok kepalq Jack dengan tangannya.
"Be-berarti kamu nerima aku, Vio?" Jack nampak tidak percaya dengan ucapan Viola.
Viola menganggukkan kepalanya mantap. Sejak pertama kali mengenal Jack ia sudah merasa nyaman meski Jack hanyalah orang sederhana. " Yes, I Will." Viola berhambur memeluk Jack dan d iringi tepuk tangan dari para pekerja yang ada di sana.
Wajah Jack masih nampak bingung, bukan apa-apa. Ia tidak mengerti dengan jawaban Viola yang menggunakan bahasa Inggris. Karena dia memelukku, berarti dia menerima ku kan? ... payahnya otak udang, bahasa gitu aja gk tau, batin Jack.
...**...
Malam harinya....
Seluruh penghuni Mansion utama nampak sangat sibuk malam ini. Reynald yang sudah selesai bersiap-siap menggedong Raffa turun ke lantai dasar. Di sana sudah ada Bi Nini yang menunggu di ujung tangga. "Tuan, Nona Mana?"
"Masih siap-siap, Bi. Biasalah kalau perempuan, buat alis saja lama, hehe." Reynald tekekeh mendengar ucapannya sendiri, di ikuti oleh Bi Nini setelahnya.
__ADS_1
"Tuan kecil, sini sama bibi yuk." Bi Nini mengulurkan tangannya untuk mengambil alih Raffa. Untungnya Raffa menurut dan tertawa saat akan di ambil oleh Bi Nini.
"Kalau begitu, saya titip Raffa sebentar ya Bi. Mau lihat Elisa sudah selesai apa belum, kasihan yang lain sudah pada nungguin." Reynald melihat kearah para pelayan yang sudah bersiap-siap di teras depan.
"Baik, Tuan. Silahkan."
"Rey Elisa mana?" tanya Tante Eva yang juga baru saja menuruni tangga.
"Ini saya baru mau manggil dia, Tante."
"Oh baiklah, kami tunggu di bawah."
Reynald kembali menaiki lantai dua untuk melihat Elisa. Sesampainya di depan pintu kamar, ia meriah handle pintu dan langsung membukanya. "Sayang, kamu kok belum siap." Reynald terkejut saat istrinya masih berada di depan meja rias dan belum memakai gaunnya."
Elisa yang tengah mengoleskan lipstik di bibirnya, berhentilah sejenak untuk melihat sang suami. "Sebentar lagi, sayang. Aku hampir selesai, kamu tunggu di bawah saja."
"Di bawah, pelayan dan petugas keamanan sudah menunggu kamu loh, kita kan akan berangkat bersama." Reynald melangkah mendekati sang istri yang kembali melanjutkan make up-nya.
Reynald memicingkan matanya saat melihat dandanan Elisa yang sangat cantik malam ini. "Kamu kenapa cantik sekali, padahal belum memakai gaun. Apa di sana nanti buaya, Anakonda dan Komodo juga akan hadir?"
Elisa kembali menoleh kearah Reynald. "Sayang, siapa sih makhluk-makhluk yang sejak malam tadi kamu sebut terus?"
"Siapa lagi, tentu saja para CEO hidung belang itu."
Elisa menghela napas berat, karena Reynald masih saja membahas tentang hal itu. Ia menyesal karena sudah memberitahu sang suami tentang CEO dari perusahaan lain yang berusaha menggodanya.
"Tidak ada, Sayang. Acara ini cuma untuk keluarga besar EA grup, aku tidak mengundang kolega bisnis. Ini kan acara su--" Elisa dengan cepat, hampir saja ia keceplosan.
"Su, su apa?" tanyq Reynald penasaran.
Bersambung π
__ADS_1