
"Su, su apa?" tanya Reynald penasaran.
"Su ... su-paya aku semakin akrab dengan para karyawan EA grup. Perusahaan Papa sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu, tentu saja mereka belum mengenal penerus perusahaan dengan lebih dekat." Elisa bisa kembali merasa lega, karena berhasil mengelabui Reynald.
"Benar juga. Kalau begitu cepat lah, kasihan yang lain sudah nunggu di bawah." Reynald melangkah dan duduk di pinggiran ranjang untuk menunggu sang istri.
...**...
Sekitar pukul tujuh tujuh malam, rombongan Mansion utama memasuki area hotel berbintang itu. Suasana sudah nampak ramai di bagian depan, para pegawai EA grup silih berganti datang.
Reynald yang baru saja keluar dari dalam mobil, mencoba mengatur napasnya. "Huh, entah kenapa tiba-tiba aku merasa gugup," ucapnya pada sa istri yang sedang berdiri di sampingnya sambil menggendong Raffa.
"Jangan gugup Papa, lihat Raffa aja senyum-senyum terus ini," ujar Elisa dengan bahasa bayinya.
"El, gimana penampilan Tante cocok tidak sih? Tadi dari Mansion Tante PD saja, setelah sampai kok seperti ada yang kurang." tanya Eva yang baru saja keluar dari mobil.
"Cantik kok Tante, jangan khawatir," jawab Elisa.
"Huh syukurlah kalau kamu bilang begitu."
Setelah semua turun dari mobil. Mereka berjalan memasuki lobby hotel.
~
Sesampainya di lokasi pesta, Reynald menggedarkan pandangannya melihat tempat pesta itu sangat gelap. Ia menoleh kearah Elisa yang berdiri di sampingnya. "Kenapa, gelap sekali?"
"Ehm, iya ya kenapa gelap sekali. Apa kita salah tempat." Elisa dan yang lainnya akhirnya memulai akting mereka.
Trumm...trumm...
__ADS_1
Reynald tersentak kaget saat sebuah lampu sorot menyala tepat di atas kepalanya dan Elisa.
Elisa menuntun sang suami untuk masuk kedalam. Lampu sorot itu pun terus mengikuti mereka. Langkah keduanya terhenti saat sampai di depan layar besar yang tersedia di sana.
Layar itu pun akhirnya menyala. Sebuah video dengan di iringi lagu romantis mulai terputar. Reynald yang tadi nampak kebingungan, akhirnya fokus melihat kearah layar besar itu.
Mata Reynald mulai berkaca-kaca, ketika foto-foto pernikahan mereka yang tidak pernah terekspos sebelumnya, juga berada di dalam video itu. Bukan hanya itu, dalam video itu juga memutar foto ketika Elisa dan Reynald tour bulan madu setahun yang lalu, foto keseharian Reynald yang di abadikan Elisa secara tidak sengaja, foto saat Reynald koma di rumah sakit dan yang terakhir ada foto saat Raffa terlahir kedunia.
Reynald menyeka air matanya lalu menoleh kesamping dan tidak mendapati istri dan anaknya di sana. Ia melihat ke sekeliling dan semua nampak begitu gelap. Sampai akhirnya lampu-lampu mulai menyala.
Riuh tepuk tangan terdengar menggema dari para tamu yang memasuki ruangan itu. "Sebenarnya ada apa ini," gumam Reynald yang masih nampak kebingungan.
"Ehmm, untuk suami ku yang berada di ujung sana, lihat lah aku di sini."
Reynald mengubah posisi tubuhnya saat mendengar suara sang istri yang menghubungkan mic. "Elisa," ucapnya pelan.
Dengan menggedong Raffa, Elisa berdiri di atas pentas untuk menyampaikan isi hatinya kepada semua orang. Raffa nampak sangat tenang seolah memberikan kesempatan kepada sang Mama untuk menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.
Semua orang juga nampak terharu melihat Elisa yang tengah menyampaikan isi hatinya kepada sang suami. Jangan tanya, bagaimana Reynald sekarang, ia sudah beberapa kali menyeka air matanya.
Elisa menyeka air matanya, mencium pipi gembul Raffa sebentar kemudian kembali mengarahkan mic ke depan mulutnya. "Setiap momen yang kita lewati bersama, suka, duka adalah sebuah pembuktian dari ucapan mu kepada ku dulu. Dulu kamu pernah bilang, cinta sejati itu benar-benar ada. Kamu meminta ku untuk melihat bagaimana kamu membuktikannya."
" Hadirnya Raffa di satu tahun pertama pernikahan kita sudah melengkapi segalanya. Di tahun pertama ini harapan ku hanya satu, yaitu tetaplah bersamaku, jangan pernah pergi dan menghilang dari padangan ku, hingga ajal memisahkan kita. Happy anniversary, sayang. I will always love you," sambung Elisa.
Reynald melangkah cepat menghampiri istri dan anaknya dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir dari sudut mata. Sesampainya di atas pentas, ia langsung berhambur memeluk anak dan istrinya itu.
Riuh tepuk tangan kembali terdengar, nampak Jack dan Viola begitu emosional, mereka menangis bersama seraya terus bergandengan tangan.
Bi Nini dan Tante Eva juga demikian. Sepanjang mereka mengenal Elisa, baru kali ini mereka melihat Elisa berani mengutarakan isi hatinya di depan banyak orang.
__ADS_1
Reynald melepaskan pelukannya lalu menyeka air mata di sudut mata Elisa. "Terimakasih untuk semuanya, ini terlalu istimewa, sampai aku tidak bisa berkata-kata." Reynald mendekatkan wajahnya dan langsung memberi satu kecupan di kening Elisa.
Reynald mengambil alih mic itu dari tangan Elisa. "Ehm, perkenalkan saya Reynald Dimitri, suami dari Elisa Eduardo. Istri saya ini memang terlihat galak dan angkuh, tapi sebenarnya dia orang yang berhati lembut, dia juga sangat suka menolong orang lain meski dengan caranya sendiri."
"Tanpa istri saya tau, saya sering membaca artikel tentang pernikahan kami, ada yang bilang Elisa hamil di luar nikah, itu sama sekali tidak benar." Reynald meraih tangan sang istri dan langsung di genggam erat. Ia mencoba menguatkan Elisa yang kembali menangis karena Reynald membahas tentang artikel-artikel jahat itu.
"Kami sudah menikah selama satu tahun, dulu memang tidak di publikasikan ke media apapun, karena saya hanya orang biasa yang tidak ingin di sorot media, semoga setelah hari ini, tidak ada lagi kabar buruk tentang pernikahan kami, terimakasih karena sudah hadir malam ini. Saya harap kalian semua ikut merasakan kebahagiaan yang kami rasakan. Terimakasih."
Reynald kembali merangkul istrinya dan secara bersamaan mereka mencium pipi gembul Raffa. Semua orang bersorak gembira, dan pesta pun akhirnya di mulai.
Jack mulai mengambil alih acara selaku MC dadakan.
...**...
Malam semakin larut, semakin malam pesta semakin meriah. Raffa yang berada di gendongan Elisa nampak sudah mengantuk. "Sepertinya Raffa ngantuk, El. Kamu bawa ke kamar saja," ujar Tante Eva.
"Aduh anak Papa sudah ngantuk ya, nak," ucap Reynald sambil mengelus kepala anaknya.
"Ah iya benar," ujar Elisa seraya memperhatikan mata sayu Raffa.
"Biar saya saja, Nona. Nona kan yang punya acara pasti nanti di cari orang-orang," ucap Bi Nini lalu mengambil alih Raffa.
"Terimakasih ya, Bi, kamarnya ada di lantai ini, nomor 007," ujar Elisa.
"Siap, Nona."
Bi Nini melangkah meninggalkan lokasi pesta menuju kamar hotel. Tanpa Bi Nini sadari, dua orang berpakaian seragam pegawai hotel mengikutinya dari belakang.
Saat hendak meraih handel pintu, Bi Nini menghentikan gerakan tangannya, ia merasa ada orang yang berdiri tepat di belakangnya. Perlahan Bi Nini membalikkan badannya. "Si-siapa kalian?" Mata Bi Nini membulat saat melihat dua orang memakai masker sedang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
Bersambung π
"