
"Kemarilah, Nak," sahut Ayah Niko tiba-tiba. Sofia perlahan mengangkat kepalanya, dan melangkah hingga berjajar dengan Niko.
Di pandanginya wajah sang ayah mertua dari jarak dua meter. Tak ada lagi tatapan sinis saat pertama kali ia bertemu orang tua Niko, begitu juga dengan sang Mama yang sudah terlihat lebih baik saat melihatnya.
"Sofia, kamu jangan takut. Kemarilah, Mama sudah tidak marah dan kesal sama kamu, kami sudah menerima kamu sebagai menantu kami," ujar Mama Niko.
Sofia menoleh kearah Niko yang berdiri di sampingnya. Niko menganggukkan kepalanya perlahan dengan mata berkaca-kaca menatap sang istri.
Sofia melangkah cepat dan langsung berhambur memeluk ayah mertuanya. "Terimakasih, Ayah. Maafkan saya yang tidak bisa menjadi menantu yang sempurna." Di pelukan sang ayah mertua, Sofia menangis tersedu-sedu, menumpahkan segala kegelisahan yang selama ini membelenggunya.
"Seharusnya kami yang minta maaf karena terlalu egois, telah menghalangi Niko untuk menikahi kamu. Sekarang kami sadar bahwa kebahagiaan Niko adalah yang utama," ujar Ayah seraya menepuk punggung Sofia perlahan.
Sofia melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Mama. "Maafkan Sofia, Ma."
"Sudah ya jangan menangis lagi. Mama yang seharusnya yang minta maaf karena sudah menghalangi kalian. Sekarang Mama akan mendukung hubungan kalian, tolong jaga baik-baik calon cucu Mama ya," ujar Mama yang juga nampak berderai air mata.
Niko pun tak kuasa menahan tangisnya. Hari ini semua berdamai dengan keadaan dan memulai kehidupan baru yang lebih baik, meski Sofia belum tahu bagaimana nasibnya kelak setelah anaknya lahir.
__ADS_1
~
Sore hari setelah pulang kerja, Viola yang tadinya akan pergi ke Mansion untuk menyerahkan berkas kepada Elisa, kini malah memutar arah menuju rumah orang tua Jack. Ya, karena kelelahan atau apa, Jack mengalami demam.
Rumah orang tua Jack berada di pinggir kota. Di salah satu gang yang hanya bisa di lalui satu mobil. Melalui petunjuk GPS Viola menyusuri gang sempit itu hingga akhirnya sampai ke lokasi.
Sesampainya di halaman rumah orang tua Jack, Viola langsung turun dari mobil dan melangkah menuju teras. Tiba-tiba ia merasa gugup karena ini adalah kali pertamanya berkunjung ke rumah calon mertua.
Tok..tok..tok
Setelah beberapa saat mengetuk pintu akhirnya seorang wanita paruh baya memakai daster muncul dari balik pintu. Ia memandang heran Viola dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Viola mengulurkan tangannya ke hadapan wanita itu. "Pe-perkenalkan saya Viola, buk."
"A-apa! Viola? ...." Wanita paruh baya itu memandangi wajah Viola dengan seksama. Ya, Jack memang sudah bercerita jika ia melamar seorang wanita tapi ia tidak tahu jika wanita yang di lamar sang putra sebening dan secantik ini.
Bening bener, mana punya mobil. Si Jeki pake guna-guna apa yak, batin Ibu itu.
__ADS_1
"Iya Bu saya Viola," ulangnya.
"Ayo masuk dulu dah." Ibu itu menarik tangan Viola masuk kedalam rumah. "Be, calon mantu kita datang ini!" pekik Ibu itu saat sampai di ruang tamu.
Karena mendengarkan teriakan sang Ibu, bukan hanya Babe saja yang keluar tapi Jack juga.
"Vi-viola," ucap Jack tidak percaya. Ia tidak menyangka Viola akan menyusul sampai ke rumahnya.
"Bener ini calon mantu kita?" tanya Babe.
Jack sampai kebingungan sekaligus malu karena sikap kedua orangtuanya yang sangat berlebihan. "Kenalin, ini Viola pacar Jeki."
Babe segera melangkah mendekat dan meraih tangan Viola. "Kenalin babe sabeni, babenya Jeki, nah entu enya'nya si Jeki namanya Munaroh."
"Senang bisa ketemu sama Enya dan Babe." Viola menyerahkan sekeranjang buah yang ia beli di toko buah sebelum datang ke sana. "Ini ada buah untuk Kak Jack. Katanya lagi demam ya pulang dari Melbourne kemarin."
"Aku sudah lebih baik, terimakasih kamu sudah mau datang jauh-jauh ke sini," ucap Jack.
__ADS_1
"Ayo duduk dulu dah, kita ngobrol-ngobrol dulu gitu," Enya menuntun Viola untuk duduk di sebuah sofa sederhana yang ada di rumah itu.
Bersambung π