
Keesokan harinya....
"Ma kita mau kemana sih, kenapa tiba-tiba begini, aku sebentar lagi ujian, Ma jawab kenapa sih." Tasya terus mendesak sang Mama yang saat ini sedang sibuk menyusun semua pakaiannya ke dalam koper.
Eva menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap Tasya sedang menunggu jawaban darinya. "Kita akan pindah ke luar negeri, kamu juga akan pindah universitas."
"A-apa ... tapi kenapa, Ma. Aku tidak mau pindah aku suka di sini, teman-teman ku semua ada di sini. Mama tau, sikap Mama sekarang seperti seorang yang baru saja melakukan kesalahan."
Eva kembali terdiam, di tatapnya wajah sang putri dengan tajam. "Kamu jangan banyak bicara! Kalau kamu masih menganggap Mama orang tua kamu, ayo kita pergi dari sini untuk memulai hidup baru."
Setelah semua pakaian dan barang-barang penting masuk kedalam koper itu Eva segera menutup koper dan beranjak dari tempat duduknya. "Ayo kita harus berangkat ke bandara sekarang!"
Tasya berdiri dari posisinya dengan malas. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja sang Mama menjadi seperti ini. Sebenarnya ia begitu berat untuk pergi mengingat semua sahabat dan pacarnya berada di negara ini tapi ia tidak punya pilihan lain selain menuruti perkataan sang Mama.
Mereka melangkah keluar dari dalam kamar dan terus berjalan menuju pintu keluar. Saat Eva membuka pintu ia membulatkan matanya, ketika melihat tiga orang berseragam polisi tengah berdiri di depannya.
Perlahan ia memundurkan langkahnya hingga menabrak tubuh Tasya. Ia pikir sudah cukup cepat namun ternyata ia kalah start. Ia sudah bisa membayangkan apa yang terjadi kepadanya setelah ini.
Tasya yang juga nampak kaget, melihat sang Mama yang sudah mulai pucat. Ia tahu Mamanya pasti melakukan sesuatu yang fatal hingga pihak dari kepolisian mendatangi mereka.
"Selamat pagi, kepada Nyonya Eva kami minta anda ikut kami ke kantor untuk penyelidikan kasus tabrak lari yang di alami Tuan Reynald," ujar salah satu petugas dari kepolisian itu.
"Ma, sebenarnya apa yang terjadi," ucap Tasya yang mulai berkaca-kaca.
Eva tidak lagi bisa menanggapi pertanyaan sang putri. Ia melangkah mundur seraya menggeleng tak percaya semua ini terjadi kepadanya. "Tidak, saya tidak bersalah. Pergi kalian dari sini!"
Ketiga polisi itu melangkah menghampiri dan langsung memborgol tangan Eva. Sementara Tasya nampak sangat syok, pantas saja tingkah sang Mama sangat aneh sejak malam tadi.
"Lepaskan saya!!" Seru Eva namun tidak di hiraukan oleh petugas kepolisian itu. Mereka membawa Eva keluar dari unit apartemen itu.
__ADS_1
~
Elisa masih setia duduk di samping sang suami yang juga belum menunjukkan tanda-tanda akan tersadar dari koma. Malam tadi ia bahkan tidak bisa memejamkan matanya.
Bi Nini dan Melvin yang juga ikut menginap di rumah sakit, begitu prihatin dengan kondisi Elisa yang tengah hamil besar. Mereka takut kondisi Elisa sekarang mempengaruhi kehamilannya.
"Nona, bagaimana jika kita pulang dulu, biar Tuan Melvin yang menjaga Tuan Reynald sebentar ... anda harus beristirahat, kasihan bayi yang ada di kandungan anda Nona," ujar Bi Nini.
"Benar Kak, Kakak pulang saja dulu. Aku sudah minta izin untuk libur kuliah hari ini," sambung Melvin.
Elisa mendongakkan kepalanya, untuk melihat Melvin dan Bi Nini yang saat ini sedang berdiri di hadapannya. "Kenapa Reynald belum sadar juga?"
Bi Nini dan Melvin saling menoleh. Mereka tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa yang bisa membuat Elisa lebih tenang.
Klek.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Viola muncul dari balik pintu depan napas tersengal-sengal karena berlari dengan cepat menuju ruangan itu. Setelah selesai mengatur napasnya, ia kembali melanjutkan langkah menghampiri Elisa dan yang lainnya.
"I-itu pelaku yang menabrak Tuan Reynald sudah di tangkap," ujar Viola.
Mendengar hal itu Elisa langsung berdiri dari posisinya. "Di mana orang itu sekarang?"
"Di kantor polisi, Nona," jawabnya.
"Antar aku sekarang ke sana. Aku harus melihat sendiri orang yang telah mencelakai suami ku, akan ku pastikan dia mendapatkan hukuman berat," ujar Elisa dengan nada suara lemah.
Viola terdiam sejenak, rasanya ia tidak sanggup untuk mengatakan jika pelakunya adalah tante dari Elisa sendiri tetapi cepat ataupun lambat Elisa pasti akan mengetahui hal itu. "Nona, sebenarnya orang yang menabrak Tuan itu ... Nyonya Eva."
Deg.
__ADS_1
Elisa kembali di hantam sebuah fakta mengejutkan. Ia tahu jika tantenya itu sangat membencinya tapi ia tidak menyangka tantenya akan bertindak sejauh itu demi membuatnya menderita.
...**...
Di kantor kepolisian, Tasya tidak henti-hentinya menangis di hadapan sang Mama yang hanya melamun sejak tadi. Ma, kenapa Mama sampai bertindak sejauh ini sih? Aku sudah ingetin Mama untuk berdamai dengan Kak Elisa, lihat apa yang Mama dapat sekarang."
"Diam kamu!!!" Eva berteriak karena kesal. Ia tidak bisa berpikir jernih sekarang di tambah sang putri yang semakin menyudutkannya. "Seharusnya kamu mendukung Mama, bukannya membeli si Elisa!"
Tasya berdiri dari posisinya, "Astaga, Mama belum sadar juga. Semua yang Mama Lakukan itu tindakan kriminal, Mama akan di penjara. Hanya ada satu cara, Mama berlutut dan minta maaf ke Kak Elisa, aku akan minta ke Kak El untuk kemari."
"A-apa minta maaf, berlutut di depan dia? Hahaha Mama lebih baik mati dari pada harus berlutut di depan si sombong itu." Eva yang sudah frustasi masih saja tidak mau menurunkan egonya.
Tasya tidak lagi bisa berkata-kata melihat sikap sang Mama yang begitu kerasnya. "Tasya kecewa sama Mama, kalau Mama bersikap seperti ini terus, aku tidak mau bertemu Mama lagi!" Tasya melangkah pergi meninggalkan sang Mama sendirian di ruangan itu.
"Tasya, kamu mau kemana!" seru Eva, namun tidak di jawab oleh Tasya. Ingin rasanya ia menyusul tapi tangannya yang di borgol di kaitkan ke sebuah besi kecil agar ia tidak bisa kemana-mana.
Setelah beberapa saat pintu itu kembali terbuka. Eva yang sedang duduk tertunduk segera menoleh kearah pintu, ia pikir Tasya telah kembali namun ternyata ia salah, yang datang adalah, Elisa.
Elisa melangkahkan kakinya mendekati wanita yang sejak dulu adalah penyebab ia kehilangan kebahagiaan dalam hidupnya. Mereka terikat hubungan darah tetapi sekalipun sang Tante tidak pernah menatapnya dengan tulus, begitu juga saat ini.
Saat mengetahui jika yang datang adalah Elisa, Eva memutar bola matanya malas lalu membuang muka kesembarang arah.
"Kenapa kamu datang kemari, aku sudah tertangkap dan akan masuk bui, apa belum cukup?" tanya Eva tanpa menoleh kearah Elisa yang berdiri di sampingnya.
"Belum cukup, aku berharap tante di hukum mati saja," ucap Elisa yang terdengar lirih.
Sontak Eva langsung menoleh kearah Elisa. Ia menatap sang keponakan yang saat ini masih berdiri di hadapannya.
"Apa aku boleh berharap tante mati saja?" tanya Elisa yang kembali berderai air mata.
__ADS_1
Bersambung π