
"Aku akan minta pengacara ku mengurusnya, sekarang kita fokus ke Raffa saja," ujar Elisa yang melangkah beriringan dengan Reynald menuju kamar mereka.
"Aku serahkan semuanya ke kamu, El. Aku tidak mengerti tentang hal seperti itu, pokoknya kamu atur saja, gara-gara kejadian malam tadi kepala ku masih pusing," ucap Reynald.
Elisa menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah Reynald yang juga berhenti melangkah, "Aku sudah memikirkan ini sejak tadi malam, bagaimana jika kita pergi liburan keluarga, untuk merefresh pikiran," ucap Elisa tiba-tiba.
"Ya, kamu bisa merencanakan hal secara spontan. Memangnya kamu sudah tau akan pergi kemana, tante Eva apa dia setuju, semua itu juga harus di pikirkan," sanggah Reynald.
Elisa yang tadi tersenyum mendadak muram. "Hey, meski spontan aku sudah memikirkannya secara matang, kita akan pergi ke ... Melbourne, aku sangat merindukan kota itu, ka sendiri tidak mau bertemu Melvin, tidak rindu dengan adik sendiri," ucap Elisa sambil menyenggol pinggang sang suami dengan legannya.
Reynald berdecak kagum saat mendengar ide Elisa. Ya, sudah beberapa bulan ini, karena terlalu sibuk ia bahkan sampai lupa menghubungi Adiknya itu. "Kamu memang pintar istriku ... tapi dananya, aku belum punya cukup uang untuk kita liburan sekeluarga, aku pinjam uang kamu dulu ya." Reynald terlihat ragu-ragu namun tetap berusaha tersenyum.
"Kamu apa-apaan sih, Rey. Aku yang merencanakan berarti aku akan memakai uang ku sendiri, intinya kita harus liburan." Elisa melingkarkan tanganya di lengan Reynald. "Anggap saja ini bulan madu ala Elisa, dulu aku sudah pernah mengikuti kamu tour, sekarang giliran aku lagi."
Reynald tersenyum-senyum sendiri saat mendengar Elisa mengucapkan kata bulan madu. Ia mendekatkan wajahnya di kuping Elisa untuk membisikkan sesuatu. "Apa itu berarti kita akan membuat adik untuk Raffa.
Seketika juga, Elisa melepaskan tangannya dari lengan Reynald. "Kenapa kamu bicara seperti itu, Raffa masih kecil belum siap punya adik. Apakah kamu terobsesi untuk punya anak sebelas orang seperti gen petir yang di TV itu?"
Reynald terkekeh sendiri saat mendengar ucapan sang istri. Ia merangkul dan langsung mendaratkan ciuman di kepala Elisa. "Itu bukan ide yang buruk, sebelas orang ya, setidaknya enam laki-laki dan lima perempuan, bagaimana?" Reynald menatap Elisa seraya menaik-naikkan alisnya.
"Suami ku memang luar biasa." Elisa tersenyum lalu sedetik kemudian ekspresinya kembali berubah. "Kalau begitu kamu saja yang hamil!" pekik Elisa kesal lalu melangkah pergi meninggalkan sang suami. Sementara itu Reynald masih berdiri di posisinya seraya tertawa terpingkal-pingkal.
"Sayang, jangan marah!" teriak Reynald yang tidak di gubris oleh Elisa.
...**...
Keesokkan harinya...
__ADS_1
Jack sudah sampai di depan rumah Viola. Ya hari ini adalah hari pertama mereka resmi menjadi pasangan kekasih. Sebelum beranjak, Jack merapikan rambutnya dari kaca spion motor seraya terus bersiul ria. "Kalau di lihat-lihat, aku tidak kalah tampan dengan, Rey," ucapnya sendiri.
Sesampainya di depan pintu, ia mengetuk pintu dengan percaya diri. Senyum indah tidak henti-hentinya merekah di wajah Jack.
Klek.
Handel pintu berbunyi dan Jack sudah siap dengan kedua tangan yang merentang lebar. "Selamat pa ...." Ia tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena yang ada di depan pintu itu adalah, Bi Nini.
Jack segera menurunkan tangannya dan mulai terlihat salah tingkah. "Ehm, selamat pagi Bi."
"Eh, Nak Jack. Kok pagi-pagi sudah kesini ... mau ketemu Viola ya?" tanya Bi Nini.
"Hehe iya, Bi. Viola ada?" tanyanya balik.
"Aku di sini," sahut Viola yang tiba-tiba sudah berada di belakang Bi Nini dengan mulut penuh roti.
"Ya ampun, Vio. Telan dulu lah makanannya. Kamu ini perempuan atau preman sih," ucap Bi Nini dengan kepala yang menggeleng perlahan.
"Jadi Nak Jack yang ngantar kamu lagi, kalian ini pacaran ya?" tanya Bi Nini tiba-tiba.
Bruuufttt....
Viola yang kaget mendengar ucapan sang Ibu menyemburkan kembali makanan yang di dalam mulutnya hingga berserakan di teras rumah.
Bi Nini dan Jack sampai terperangah melihat hal itu. "Viooo!!!" teriak Bi Nini kesal.
"Uhuk..uhukk maaf, Bu. Vio kaget hehe," ucap Viola lalu tersenyum kepada sang Ibu.
__ADS_1
~
Di perjalanan menuju kantor...
Viola memeluk erat pinggang Jack dari belakang. Ia benar-benar malu karena Jack melihat tingkah joroknya tadi, ya meskipun itu secara tidak sengaja. Apa Kak Jack, ilfill ya sama aku gara-gara tadi. Ahk, kenapa bisa jadi gini sih, padahal ini hari pertama kami pacaran, batin Viola.
~
Sesampainya di depan EA grup, Jack dan Viola turun dari motor. Layaknya seorang muda mudi pada umumnya, Jack reflek membuka helm dari kepala Viola.
"Kak Jack," panggil Viola dengan nada sendunya.
"Hm, kenapa?" tanya Jack yang tetap fokus melihat kedepan.
"Maaf ya, tadi itu aku tidak sengaja. Aku ini aslinya sangat bersih kok, mandiri lagi, aku juga bisa masak dan beres-beres. Pokoknya aku masih punya keahlian di luar akademik. Ini kan baru awal kita pacaran, nanti lama-lama Kakak akan bisa melihat jika aku ini perempuan yang tepat kok," tuturnya panjang lebar.
Jack terdiam sesaat lalu terkekeh sendiri mendengar celotehan Viola. "Kamu ini ngomong apa sih?"
"Aku takut Kak Jack ilfil dengan tingkah ku. Ya, baiklah sebenarnya aku ini sedikit pecicilan," ucap Viola dengan wajah merenggut.
Jack menangkup wajah Viola dengan kedua tangannya. "Dengarkan aku, kamu tidak perlu menjadi sempurna untuk terlihat baik. Jadilah dirimu sendiri karena aku mencintai kamu apa adanya. Kalau wanita paling sempurna bagi Rey itu adalah, Elisa. Maka kamu adalah wanita paling sempurna di mataku."
"Kak Jack," ucap Viola dengan mata yang berkaca-kaca karena terharu. Ia langsung memeluk Jack tanpa memikirkan kondisi dan situasi.
"Aku tau aku memang enak di peluk, tapi semua orang melihat kita, lepaskan aku sekarang," ucap Jack seraya terus menoleh kanan kiri. Ya, semua orang yang berada di sana sedang melihat kearah mereka.
Viola segera melepaskan pelukannya dari Jack. "Ah aku kelepasan, maaf. Kalau begitu aku masuk dulu ya Kak sampai jumpa nanti sore," ucap Viola lalu melangkah masuk lobby kantor sambil menutupi separuh wajahnya.
__ADS_1
Jack terkekeh sendiri sambil memandang kepergian sang pacar. "Ah kenapa dia menggemaskan banget sih, ternyata begini rasanya punya pacar. Seharusnya aku pacaran dari dulu aja ... eh tapi kalau aku Pacaran dari dulu, mungkin aku nggak bakal jadian sama Viola ... ah entahlah." Jack kembali naik ke atas motor lalu tancap gas meninggalkan tempat itu.
Bersambung π