
"Lepaskan, anakku!" pekik Elisa yang mulai histeris, apa lagi ketika melihat Raffa semakin menangis kencang saat melihat dirinya.
Reynald mendekati Elisa dan mencoba untuk menenangkannya. Ia tahu perasaan sang istri, tetapi dalam situasi seperti ini, semua orang harus bersikap tenang agar tidak membuat Sofia semakin nekat.
Sofia melangkah turun dari tiang pembatas itu, bukan untuk menyerahkan Raffa, tetapi untuk membuat mental sang Mama muda semakin goyah. Tanpa rasa iba ia mengarahkan sebuah belati di perut Raffa.
Jack dan dua orang petugas keamanan pun tidak bisa berbuat banyak. Mereka juga harus tetap bersikap tenang demi keselamatan Raffa. Dalam hati Jack berkata, Si Sofia benar-benar sudah gila. Ada masalah hidup apa sih dia, ternyata tidak selamanya orang baik akan terus menjadi baik. Kenapa kaki ku bergetar seperti ini, apa aku mulai takut, sial! Berasa lagi di adegan film action.
"Sof, aku mohon jangan nekat." Reynald nampak bertambah pucat, sementara Elisa tidak lagi bisa membandung air matanya. Siapa yang tidak histeris jika melihat anak yang sedang lucu-lucunya, menangis di pelukan wanita jahat, tanpa bisa di raih. Raffa seolah meminta tolong dengan terus mengulurkan tangannya kearah Elisa.
"Aku mohon, lepaskan anakku. Kamu bisa mengatinya dengan ku." Elisa menangis histeris saat melihat belati itu menempel di depan perut putranya. Sungguh malam ini ia berharap tetap bisa tidur seraya memeluk anak dan suaminya.
Hari ini adalah hari yang seharusnya di penuhi dengan kebahagiaan. Tetapi kenapa di penghujung acara, Elisa harus di berikan kejutan mengerikan seperti ini. Sumber kebahagiaannya adalah sang buah hati yang saat ini ada dalam ancaman bahaya. Ia tidak bisa membayangkan jika belati itu benar-benar menancap di perut kecil nan tipis bayinya.
Sofia menatap, Elisa dan Reynald secara bergantian. "Kalian berdua tidak boleh bahagia." Ia mengalihkan fokusnya ke arah Elisa. "Kamu, El. Kita ini dulu sahabat, tapi kamu selalu menyalahkan aku karena kelakuan Mama ku. Apa kamu pikir, aku mau menjadi anak dari seorang pelakor? Aku malu, El ... tapi kamu selalu bertikah seolah kamu yang paling benar."
Rasa kesal, amarah, kecewa bercampur menjadi satu. Kini Sofia tidak bisa membendung air matanya, karena menahan sesak di dada. Sudah lama ia memendam semua ini, saat ini ia seolah mencurahkan semuanya. Reynald adalah bagian dari dirinya yang tidak ingin ia lepaskan begitu saja.
Begitu juga dengan, Elisa. Mantan sahabatnya itu, sudah menorehkan luka yang mendalam baginya. Perselingkuhan kedua orang tua mereka, bukan hanya memberikan dampak ke satu pihak saja. Tetapi Sofia merasakan dampak yang sama.
Jika Elisa merasakan trauma itu di masa kecilnya, maka Sofia yang dulu tetap berusaha kuat akhirnya runtuh juga. Ia merasa hidupnya sudah berakhir, Mama yang menggila dan masa depannya yang tergantung di ambang batas harapan yang telah pupus.
"Semenjak Mama ku di campakkan oleh Papa mu, dia menjadi seorang pecandu alkohol. Aku selalu hidup dalam ketakutan, aku bahkan mengabaikan Reynald, hanya demi pria kaya. Itu semua karena aku menuruti Mama ku. Keluarga Eduardo sudah membuat aku kehilangan hidup ku sendiri!" sambung Sofia.
Sofia menyeka air matanya, kemudian beralih melihat kearah Reynald. "Dan kamu, Rey. Seharusnya kamu tetap berada di samping ku, mendukung ku. Andai kamu tidak menolak ku malam sebelum kecelakaan itu, aku tidak mungkin menjadi seperti sekarang. Aku tidak mau hancur sendiri, kalian juga harus hancur!"
__ADS_1
Elisa menoleh menatap sang suami. Sungguh ia baru tahu, jika sebelum kecelakaan itu terjadi, Reynald menemui Sofia. Ia kembali menoleh kearah Sofia. "Sof, jika kamu menyerah sekarang, aku akan memaafkan semua yang kamu lakukan sekarang. Aku mohon berikan Raffa pada ku."
"Elisa benar. Sof, aku tau kamu bukan orang jahat, kita sudah kenal lama. Kalaupun pada akhirnya kita tidak bersama, itu semua takdir." Melihat Sofia yang terlihat mulai tenang, Reynald kembali melangkah mendekati mendekat. "Kamu ingat saat kita SMA, waktu itu kamu bahkan tidak bisa melihat anak kucing terluka. Kamu menolong dan membawanya pulang. Aku tau kamu orang tega melukai anak kecil yang tidak berdosa. Kamu ingin menancapkan belati itu padaku? Ayo aku siap, tapi lepaskan anakku."
Saat Reynald semakin maju kedepan, Sofia pun semakin mundur. Sofia terus meyakinkan dirinya agar tidak goyah, ia berkata dalam hati aku sudah sampai sejauh ini, aku tidak akan menyerah. Kamu dan El, harus merasakan apa yang aku rasakan. Kehilangan, keputusan dan juga di campakkan. "Berhenti di situ, Rey!" pekik Sofia.
Reynald menghentikan langkahnya. "Okey, aku berhenti. Sekarang kemarilah, berikan Raffa pada ku. Kamu kesal dan marah padaku? Maka lampiaskan lah kepada ku. Raffa, tidak mengerti apa-apa tentang masalah kita."
Sofia melirik Raffa yang terus menangis sesenggukan di pelukannya. Entah kenapa hatinya tersentak, namun logikanya kembali mengingatkan jika, ia tidak boleh goyah di penghujung rencananya. "Kamu jangan mencoba membujuk aku, Rey. Seharusnya kamu melakukan itu saat aku memohon agar kamu tidur dengan ku, sekarang hidup ku sudah hancur, aku sudah mengorbankan kesucian ku untuk sampai ke tahap ini."
"Sof, andai aku melaporkan kamu juga malam itu, pasti sekarang kamu tidak akan hidup bebas. Kamu tau kenapa aku tidak melakukan itu? Itu karena aku tahu kamu orang baik, aku berharap malam itu kamu hanya khilaf dan menyesal setelahnya. Pikirkan ini baik-baik, apa yang akan kamu dapatkan setelah mencelakai anak kami. Hukuman seumur hidup atau hukuman mati ... apa kamu mau mati dengan cara itu?"
Sofia menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku tidak akan mati! Kalau pun aku harus mati, aku akan membawa anak ini bersama ku, dan kalian akan mati secara perlahan karena kehilangan buah hati kalian."
Dulu di masa kecilnya, di depan matanya ia melihat sang Mama mengakhiri hidup. Masa itu ia seolah kehilangan jati dirinya, tidak bisa melihat masa depannya dan merasa jika dunia tidak pernah memihak padanya.
Saat ia kembali mendapatkan hidupnya, kebahagiaannya dan saat ia merasa semesta ikut berbahagia dengannya, dalam hitungan detik, semua seolah di tarik kembali. Ia mendongakkan kepalanya, menatap Sofia dengan tajam. "Ular akan tetap menjadi ular meski dia sudah berganti kulit sekalipun. Sofia, aku harap kamu bukan ular yang aku bayangkan selama ini."
"Diam! Aku memang ular, aku ular yang akan mematikan kalian semua dengan bisa ku ... dan aku akan memulainya dengan anak ini." Sofia mengangkat tinggi-tinggi belati itu ke udara, matanya fokus melihat bayi yang saat ini semakin menangis di pelukannya.
"Tidak!!!" pekik Elisa dan Reynald secara bersamaan.
Jack dan orang di belakang tidak bisa melihat dan memilih untuk memejamkan mata mereka, hingga akhirnya---
Bug!!!
__ADS_1
Sofia menjatuhkan pisau itu saat merasa pandangannya berputar-putar karena satu pukulan benda tumpul yang mendarat tepat di tekuk lehernya.
Melihat Sofia yang akan terjatuh pingsan, Reynald berlari dengan cepat untuk menyelamatkan sang bayi. Ketika Raffa sudah di tangan, Elisa segera mendekat dan mengambil alih buah hatinya dari sang suami.
"Anakku," lirihnya seraya memeluk Raffa erat.
Reynald menoleh kearah seorang laki-laki muda yang sedang memegang sebalok kayu dengan tangan bergetar. Ya, orang yang memukul Sofia hingga pingsan adalah, Niko.
Maafkan aku, Sofia. Aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu, batin Niko seraya memandangi Sofia yang sudah jatuh pingsan.
Bersambung π
Next siang ini ya... hayoo siapa yang tegang? Yuk Rileks dulu π
Maaf karena kemarin tidak sempat update a
karena ada acar pribadi. π
Yuk follow akun sosial media author.
FB: Alya Aziz
IG: Alya_Aziz4
Jangan lupa juga follow author di aplikasi noveltoon ya.
__ADS_1