Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.70 (Persiapan)


__ADS_3

"Pesta itu ... perayaan satu tahun aku menjadi CEO EA grup, ya acara itu." Akhirnya Elisa berhasil mendapatkan alasan meski terkesan klise. "Sekarang aku sudah resmi menjadi pewaris tunggal EA grup karena kelahiran Raffa, jadi perusahaan akan membuat pesta untuk merayakannya, aku lupa bilang pada mu ya haha."


Reynald menganggukan kepalanya tanda mengerti. "Oh seperti itu, aku tidak mengerti tentang pesta-pesta seperti itu. Tapi itu berarti, Raffa juga ikut?"


"Ya, tentu saja, bukan cuma Raffa tapi bi Nini, Kak Jack dan pekerja lain juga akan ikut. Besok sepertinya aku harus perawatan dulu." Elisa menyentuh bagian wajahnya. "Aku merasa mulai ada kerutan karena sering begadang."


Wajah Reynald tiba-tiba nampak kesal. "U-untuk apa kamu perawatan, kamu sudah sangat cantik. Di pesta nanti pasti banyak buaya, ular phiton, anaconda, komodo yang mendekati mu kalau kamu terlalu cantik." Celotehan Reynald terdengar sebagai kode jika ia masih cemburu saat mengetahui istrinya populer di kalangan pria kaya.


Elisa berusaha menahan tawanya yang akan segera pecah. "Hey, kita akan ke pesta bukan hutan Amazon." Elisa mendekat dan mengalungkan tangannya di lengan Reynald. "Kalau kamu cemburu bilang saja, aku juga seperti itu. Aku akan menerkam ulat bulu yang mencoba mendekati mu."


"Bu-bukan seperti itu, aku hanya berpikir realistis saja. Kamu sudah bersuami, laki-laki seperti mereka seharusnya sadar diri." Reynald nampak salah tingkah.


Oekkk...Oekkk.


Reynald dan Elisa menoleh ke arah box bayi tempat Baby R tertidur.


"Raffa nangis, pasti dia lapar." Reynald segera melangkah menuju box bayi sekaligus untuk menghindari tatapan Elisa.


Elisa tak henti-hentinya terkekeh sendiri. Entah kenapa ia begitu senang saat melihat sang suami bersikap posesif seperti itu.


...**...


Pagi hari menjelang pesta. Semua perusahaan nampak heboh karena baru saja di umumkan pesta anniversary pernikahan CEO mereka. Pengumuman itu terpampang nyata di lobby depan kantor, semua karyawan di harapkan datang.


"Wah dadakan sekali ya."


"Hem, aku belum punya persiapan baju."


"Tidak boleh di share ke sosial media ya, padahal semua orang pasti akan heboh jika mengetahui berita pesta ini."


"Coba saja kamu share kalau kamu sudah siap di pecat."

__ADS_1


Para karyawan yang berkerumun di depan pengumuman itu. Hingga akhirnya Elisa dan Viola datang dan membuat mereka menyingkir untuk memberi jalan.


"Selamat pagi, Nona," ucap mereka secara bersamaan.


Elisa membuka kacamata hitam yang menutupi bagian matanya. "Saya harap kalian semua datang ke acara malam nanti, ingat! Jangan di share ke akun sosial media."


"Baik Nona," ucap para karyawan secara bersamaan.


Elisa kembali memasang kacamata hitamnya lalu melangkah bersama Viola.


Sesampainya di ruangan, Elisa langsung duduk di kursi kebesarannya. Ia tidak henti-hentinya tersenyum karena tidak sabar untuk acara malam nanti. "Bagaimana persiapan pesta malam ini, lancar?"


"Sudah tujuh puluh persen siap Nona. Setelah selesai rapat siang ini saya akan ke sana. Kak Jack juga akan membantu saya," jawab Viola.


"Baiklah kalau begitu, aku serahkan semuanya padamu. Jangan lupa perketat keamanan aku tidak mau sampai pesta ini gagal."


"Tentu saja, Nona. Seperti biasa pihak hotel selalu mengerahkan yang terbaik untuk mendukung acara EA group."


...**...


"Rey, aku mau keluar sebentar ya, ada anak-anak yang lain bisa handel kok." Jack yang sudah selesai berganti pakaian meriah jaket dan juga sepatunya yang ia letakkan tak jauh dari tempat Reynald duduk.


Reynald memperhatikan penampilan Jack yang nampak berbeda hari ini. Jika biasanya Jack hanya memakai celana jeans dan kaos omblong yang memberi kesan swag di setiap penampilannya. Tetapi kali ini, Jack memakai kemeja dan celana katun yang di strika rapi.


"Tumben, rapi banget, udah mandi lagi. Mau kemana? Lamar kerja atau lamar cewek?" Reynald tekekeh sendiri karena merasa aneh melihat penampilan rapi Jack.


"Mau dinner sama ayang dong. Emang kamu aja yang bisa romantis-romantisan sama Elisa." Jack berdiri dari duduknya setelah selesai memakai sepatunya.


"Emang udah jadian?"


Jack menoleh kearah Reynald lalu menggeleng perlahan. "Belum sih, mau nyatain tapi mulut ku kaku banget kalau udah di depan dia."

__ADS_1


"Haha, jangan bilang mau ketemu ayang kalau gitu. Bilang aja mau ketemu temen." Reynald tidak henti-hentinya tertawa, namun tawanya terhenti saat mengingat pesta yang Elisa bilang malam tadi. "Oh iya jangan lupa malam nanti ke acara perusahaan Elisa, di hotel X."


Hah, acara perusahaan? ... Oh ini kan surprise ya, Elisa pinter juga, batin Jack.


"Oh oke-oke, aku akan langsung ke sana bersama Viola nanti." Jack memakai jaketnya lalu kembali melihat pantulan wajahnya dari cermin kecil yang ada di sana."


Reynald memicingkan matanya saat Jack berdiri sambil membelakanginya. Ia melangkah mendekat seraya terus memperhatikan celana yang di pakai Jack. "Ini celana ku kan?"


Pelahan Jack berbalik, melihat sang sahabat dengan senyum Pepsodent yang tergambar di wajahnya. "Aku lupa bilang ya, hehe. Aku pinjam dulu ya bos ku."


Pukkkk.


Reynald menepuk pantat Jack dengan tangannya. "Kebiasaan, ini baju juga kayaknya."


"Enak aja, ini bukan punya kamu bukan. Ini punya Melvin, hahaha." Jack terkekeh sendiri karena ucapannya.


...**...


Niko membuka matanya perlahan, ia bisa melihat wajah Sofia yang saat ini masih dalam dekapannya. Malam tadi Sofia kembali memberinya kepuasan agar ia ikut dalam rencana hari ini.


Di ciumannya pucuk kepala Sofia yang masih terlelap. Sungguh Niko ingin agar Sofia berhenti, namun jika ia terus memintanya berhenti, dirinya takut Sofia akan pergi darinya.


Apa yang harus aku lakukan agar dendam itu hilang dari diri mu, Sof. Aku benar-benar ingin hidup bersama kamu selamanya, sampai kapan kamu hanya menganggap ku pelarian. Kapan kamu akan melihat jika aku benar-benar menyukai mu, ingin memiliki kamu seutuhnya, batin Niko.


Sofia mulai membuka mata dan meregangkan tubuhnya, ia mengerutkan matanya saat melihat Niko terus menatapnya lekat. "Kamu kenapa melihat ku seperti itu?"


"Sof, kamu tahu aku sudah tergila-gila sama kamu saat pertama kali kita bekerja bersama. Saat kamu menanggapi ajakan ku untuk pergi ke club malam itu, aku sangat senang. Maaf karena sudah merenggut kesucian mu ... tapi jika kamu berpikir aku hanya menginginkan tubuh mu, itu salah, Sof. Aku benar-benar mencintai kamu."


Sofia menatap mata Niko yang memandanginya penuh keseriusan. Hatinya tersentak namun logikanya dengan cepat memberi peringatan, jangan sampai ia goyah dan Rencana yang sudah di depan mata gagal. Ia beranjak turun dari atas tempat tidur dan meninggalkan Niko begitu saja.


Niko menghela napas berat kemudian berbaring terlentang seraya memandangi langit-langit kamar. "Apa aku harus terus mendukung ide gila mu itu."

__ADS_1


Bersambung πŸ’•


__ADS_2