
"Siapa kamu?" tanya Reynald kepada Niko yang masih diam terpaku di tempatnya.
Niko melepaskan balok kayu itu dari tangannya, ia menoleh kearah Reynald yang saat ini sedang menunggu jawaban darinya. "Aku ...." Niko sampai bingung, hubungan apa yang ia jalani dengan Sofia saat ini.
Mau di bilang pacar, tetapi Sofia tidak pernah menerima cintanya. Mau di bilang teman biasa juga mereka sudah melakukan hal di luar batas itu. "Aku ... calon suaminya," ucap Niko pada akhirnya.
"A-apa calon suami," ucap Reynald lalu menoleh kearah Elisa yang juga nampak kebingungan. Entah sudah berapa lama, mereka tidak bertemu sampai tiba-tiba saja datang seorang pria yang mengaku-ngaku calon suami Sofia.
"Aku mohon, jangan penjarakan dia. Aku berjanji dia tidak akan mengulangi kejadian yang sama," pinta Niko kepada Elisa dan Reynald.
Sejenak Reynald dan Elisa saling menatap satu sama lain, seolah saling berdiskusi. "Maaf, Niko. Aku sudah pernah memberikan satu kesempatan untuk Sofia, tapi kali ini aku tidak akan melepaskan dia begitu saja."
Niko menghela napas panjang, ia bukanlah orang yang suci tetapi kali ini melihat Sofia yang terjebak dalam dendamnya sendiri. "Kalau begitu, tolong bantu aku membawanya ke rumah sakit. Aku takut terjadi hal buruk padanya. Aku memukulnya dengan cukup keras tadi.
"Tenang saja, aku tidak setega itu. Mau bagaimanapun dia adalah teman ku juga," ujar Reynald.
Jack membantu Niko untuk membawa Sofia turun. Elisa pun segera ikut turun ke bawah. S sesampainya di bawah, situasi nampak sangat ramai di lobby. Tante Eva segera berhambur memeluk Elisa. "Cucu ku, kamu tidak apa-apa Nak."
"Tidak apa-apa, Tante. Bagaimana dengan keadaan Bi Nini?" tanyq Elisa.
"Bi Nini sudah sadar dan sangat mengkhawatirkan Raffa. Lebih baik kamu sekarang ke sana, ayo Tante antar," ujar Tante Eva. Saat hendak melangkah pergi, ia melihat Sofia di gedong oleh Niko keluar dari balik pintu yang sama dengan Elisa muncul tadi.
"Dasar wanita sialan!" Tante Eva hendak melangkah untuk memukul Sofia yang tidak sadarkan diri, namun segera di cegah oleh Elisa.
"Sudah Tante, biarkan pihak berwajib yang menanganinya," ucap Elisa seraya menahan pergelangan tangan sang Tante.
...**...
Dengan di dampingi pihak kepolisian, Niko sedang berada di rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Sofia setelah di pukul oleh Niko. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruangan pemerikasaan.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi Sofia, Dok?" tanya Niko yang sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Dari pemeriksaan saya, Nona Sofia sedang hamil dua minggu," jawab Dokter itu.
"Apa! Hamil?" Niko terlihat sangat syok saat mengetahui jika Sofia tengah hamil. Niat hati, ia hanya ingin mengecek kondisi Sofia karena pukulan darinya. Tidak di sangka-sangka, ia malah hamil.
...**...
Keesokan harinya, mata Sofia mengerjap perlahan. Ia merasakan kepalanya begitu sakit, "Aku di mana?" ucapnya perlahan. Ketika hendak mengangkat tangannya, ia merasakan jika tangannya terikat sesuatu. "Kenapa aku di borgol seperti ini!"
Niko yang baru saja keluar dari toilet, sontak melangkah menghampiri Sofia yang mulai histeris. "Sofia jangan di tarik seperti itu, tangan kamu bisa terluka." Niko mencoba menahan tangan Sofia yang mulai lecet.
"Kenapa aku di borgol seperti ini, lepasakan benda ini dari tanganku, cepat!" Ia terus meronta untuk melepaskan borgol yang berada di tangan kirinya. Bagian borgol yang lain kaitkan di besi pembatas ranjang.
"Maaf, Sof. Aku tidak bisa melepaskannya, karena polisi yang sudah memborgol tangan kamu, ini semua juga karena ulah kamu sendiri. Aku sudah bilang hentikan semuanya tapi kamu malah terus membawa anak itu," tutur Niko.
"Kamu sekarang memihak mereka, hah! Aku menyesal karena sudah mengira jika kamu benar-benar mencintai ku, Nik. Lalu kenapa kamu masih di sini, pergilah bersama mereka, aku tidak butuh kamu lagi!" pekik Sofia yang belum juga bisa tenang.
Sofia yang sejak tadi berusaha melepaskan diri, kini hanya bisa diam terpaku. "A-apa kamu bilang, jadi aku hamil?"
Niko mengangguk cepat dengan senyum yang merekah di wajahnya. "Kamu pasti bisa terbebas dari jeratan hukum, Sof. Semua ini karena calon anak kita."
"Tidak ... tidak mungkin, aku tidak mau hamil!" pekik Sofia lagi, ia menatap tajam kearah Niko. "Ka-kamu, ini semua gara-gara kamu, kamu sengaja kan membuat ku hamil kan."
"Aku juga tidak menyangka hal ini akan terjadi. Sudahlah, Sof. Kamu tahu andai Reynald dan istrinya tidak bebaik hati mungkin sekarang kamu sudah di balik jeruji."
Sofia kembali membaringkan tubuhnya dengan lemas. Ia merasa sudah benar-benar berkahir sekarang.
Niko merasa kecewa karena Sofia seolah tidak menginginkan bayi mereka. Ia melangkah keluar dari ruangan itu untuk menenangkan diri.
__ADS_1
...**...
Di tempat berbeda, Elisa yang masih merasa trauma tidak pernah melepaskan Raffa sejak malam tadi. Ia sangat takut kehilangan bayinya lagi.
Reynald yang baru saja bangun, mencium pucuk kepala anak dan istrinya. Malam tadi mereka menginap di hotel, tempat acara anniversary mereka.
Reynald melangkah menuju balkon kamar. Untuk memastikan kabar terbaru Sofia, ia mencoba untuk menghubungi Niko. Ya, malam tadi mereka bertukar nomor untuk kepentingan kasus penculikan Raffa.
"Hallo, Nik. Kamu masih di rumah sakit?"
[Ya, begitulah. Keadaan benar-benar kacau ... aku tidak menyangka jika Sofia akan hamil anak ku.]
"Apa! Hamil?"
[Iya, hamil. Dia tidak terima dan berteriak histeris saat mengetahui jika dia sedang mengandung. Rey, aku tau aku pria bejat. Tapi aku akan bertanggung jawab, sebaliknya Sofia tidak menyukai keberadaan ku.]
"Astaga, kenapa bisa seperti ini. Niko, sebenarnya hubungan kamu dan Sofia itu sedalam apa?"
[Ceritanya panjang, Rey. Yang jelas dia hanya membutuhkan aku sebagai pelampiasan tapi aku yang serakah dan membuat dia hamil. Aku mohon sama kamu, pertimbangkan lagi kasus ini. Karena dia akan semakin menderita jika di penjara dalam keadaan hamil.]
Reynald nampak berpikir kembali. Jika malam tadi ia sangat yakin untuk menjebloskan Sofia ke penjara, tapi kali ini rasa bimbang mulai menderanya.
Sebagai seorang suami yang sudah mempunyai anak, ia tahu betul bagaimana susahnya seorang wanita ketika mengidam, bagaimana susahnya saat mengalami morning sicknes.
"Aku minta waktu, aku harus membicarakan ini dengan Elisa."
[Baiklah, Rey. Aku tunggu kabar dari mu.]
Reynald mematikan panggilan telepon itu, lalu melangkah masuk kedalam kamar. Di pandanginya wajah anak dan istrinya yang masih terlelap. Sungguh ini adalah pilihan yang sulit saat rasa kemanusiaan kembali mendominasi.
__ADS_1
Apa yang harus kita lakukan sekarang, El, batin Reynald.
Bersambung π