
Di dalam kamar.
"Jadi kamu membeli beras juga?" tanya Tante Eva pada putrinya.
"Iya Ma, Melvin tidak bisa kalau tidak makan nasi," jawab Tasya.
"Kalau begitu, saya akan masak nasi sekarang. Tadi saya dengar Nak Jack mau makan nasi," ucap Bi Nini.
"Wah Bibi perhatian sekali sama calon menantu," ujar Elisa lalu terkekeh sendiri.
"Nona, apasih, kalau begitu saya sama ibu saya mau ke dapur ya," ucap Viola.
"Saya ikut, mau lihat-lihat bagian dapur apartemen ini," sahut Tante Eva.
Setelah kepergian Tante Eva, Bi Nini dan Viola. Sekarang di dalam kamar tinggal Elisa dan Tasya yang tinggal karena Raffa tertidur sangat nyenyak.
"Sya jujur deh sama kakak. Tadi kamu sama Melvin mau ciuman kan?" tanya Elisa tiba-tiba.
Wajah Tasya seketika kembali memerah. "Ah, Kak El. Ya, sepertinya kami ketahuan ya. Mungkin lebih tepatnya aku yang memaksa Melvin untuk menciumku."
"A-apa, kamu yang memaksanya?" Elisa terlihat kaget dengan pengakuan sang adik.
"Kakak tau sendiri bagaimana keseharian anak muda di Melbourne, aku dan Melvin itu sudah pacaran bahkan sebelum sampai ke sini. Tapi dia sama sekali tidak mau mencium ku, aku hanya iri saja dengan teman ku yang lain. Aku malah sempat meragukan apa dia itu benar-benar mencintai ku." Tasya kembali merenggut seraya menundukkan kepalanya.
"Sya, Melvin itu tidak berbeda jauh dengan Reynald. Mereka sama-sama menjaga kehormatan wanita yang mereka cintai. Dia seperti itu karena mencintai kamu tau. Aku saja iri kamu bisa mendapatkan cinta pertama Melvin, sementara Kakak adalah cinta ke dua Reynald. Karena sebelum aku ada Sofia di hatinya."
Tasya akhirnya bisa tersenyum kembali. "Benar juga. Jika melihat kesetiaan Kak Rey, aku harap Melvin juga suatu saat akan seperti itu. Siang tadi Melvin juga bilang, salah satu alasan dia tidak ingin menciumku karena dia tidak mau sampai kebablasan dan membuat Kak El dan Kak Rey kecewa."
"Tuh Kan. Kamu jangan mendesaknya. Nanti kalau kalian sudah lulus, Kakak sendiri yang akan menikahkan kalian," ujar Elisa.
"Menikah ...." Tasya menutup wajahnya dengan kedua tangan karena membayangkan jika suatu saat nanti ia benar-benar menikah dengan Melvin.
...**...
__ADS_1
Sekitar pukul tujuh malam, waktu Melbourne Australia.
Keluarga besar Eduardo sedang makan bersama di meja makan apartemen mewah itu. Suasana malam ini terasa begitu riuh karena Jack dan Reynald yang tidak henti-hentinya membuat kelucuan dan juga suasana terasa lebih hangat karena sudah begitu lama tidak berkumpul bersama.
"Masakan Bi Nini memang luar biasa, terimakasih Bi," ucap Tasya seraya mengangkat kedua jempolnya.
"Kamu tidak muji Mama, ini juga masakan Mama loh," sahut Tante Eva.
"Tante cuma bantu potong bawang kan, itu saja sudah berderai air mata," ucap Elisa lalu tekekeh sendiri. "Eh lihat Raffa saja ketawa loh."
"Potong bawang juga butuh perjuangan, El." Tante Eva beralih menatap Raffa. "Jangan ikut-ikutan Mama yang Nak."
"Rasanya sudah lama sekali tidak selengkap ini. Aku sudah tidak sabar untuk besok, kita mau kemana saja?" tanya Reynald pada Elisa.
"Emm, mungkin lebih baiknya kalau kita ke Yarra River dulu," jawab Elisa.
"Aku setuju, sungai itu sangat terkenal. Banyak spot wisata yang bisa di nikmati, seperti Melbourne Park, Royal botanical Park, cafe, Resto, pokoknya banyak deh," ujar Melvin yang terlihat sangat antusias.
"Kamu sudah pernah ke sana, Vin?" tanya Jack.
"Kalau begitu, besok kita kesana," sahut Viola.
"Raffa harus di jaga ekstra, Tante dengar dari teman Tante, di Melbourne ini juga banyak penculik anak-anak. Tante trauma sekali karena Raffa di culik kemarin," ujar Tante Eva.
Mendadak suasana menjadi hening. Elisa dan Reynald berencana untuk tidak mengatakan hal ini kepada Melvin dan Tasya tetapi Tante Eva sudah mengatakannya jadi apa boleh buat.
"Apa! Raffa di culik?" tanya Tasya seraya melihat kearah Elisa yang sedang menggendong Raffa.
"Kok tidak ada yang mengabari kami," sambung Melvin.
Reynald menghentikan aktivitas makannya. "Ehm, kami sengaja karena tidak ingin membuat konsentrasi belajar kalian terganggu. Semua sudah berakhir dan Raffa baik-baik saja, kalian tidak usah khawatir."
"Tapi siapa yang menculik Raffa, Kak?" tanya Viola.
__ADS_1
Reynald kembali menoleh kearah Elisa seolah meminta persetujuan untuk menceritakan semuanya. Elisa hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya perlahan sebagai bentuk persetujuan.
"Malam Anniversary kami beberapa minggu yang lalu, Raffa di culik oleh ... Sofia. Dia sakit hati karena ... kamu tahu lah Vin, kami sempat berpikir Raffa tidak akan selamat hingga akhirnya karena seseorang Sofia berhasil di lumpuhkan," jelas Reynald kepada Tasya dan Melvin.
Tanpa sadar Melvin menggebrak meja karena emosi. "Kak Sofia benar-benar sudah gila, tapi kalian berhasil memenjarakan dia kan?"
"Karena terhalang kondisi Sofia yang sedang hamil, dia menjadi tahanan rumah," jawab Reynald.
Melvin dan Tasya tidak bisa berkata-kata. Sejak mereka berdua di Melbourne, begitu banyak hal yang terjadi dan mereka sama sekali tidak tahu. Ya, memang keputusan untuk pergi ke Melbourne adalah permintaan mereka.
Melihat Melvin dan Tasya yang sangat khawatir, Elisa menjadi tidak enak karena tidak memberitahu mereka. "Sudahlah kalian jangan khawatir. Yang penting kan sekarang Raffa baik-baik saja."
"Iya kak," ucap Tasya dan Melvin secara bersamaan.
"Ayolah kalian tidak usah sedih begitu, kami datang kemari untuk liburan, jadi kalian juga harus bersemangat," sahut Jack.
"Huftt, kami hanya sedih karena banyak ketinggalan berita tentang keluarga, tapi ya sudahlah semoga hal yang seperti itu tidak terulang lagi," ucap Melvin lalu kembali melanjutkan makannya, begitu juga dengan Tasya.
...**...
Keesokan harinya, suasana mendadak heboh pagi-pagi karena Jack dan Reynald yang tiba-tiba saja menghilang. Elisa tidak bisa menghubungi sang suami karena Reynald belum menganti sim card-nya.
"Tadi pagi mereka ikut kami joging pagi di area taman depan gedung apartement ini, tapi tiba-tiba saja mereka menghilang, kami sudah mencari ke sekeliling taman tapi mereka tidak ada. Aku khawatir mereka tersesat," ujar Viola.
Elisa mondar-mandir tidak jelas karena bingung harus mencari kemana. Apa lagi ia tahu betul, Jack dan Reynald tidak bisa bahasa Inggris. "Lalu kita harus mencari di mana sekarang."
"Kalian berpencar saja, Tante sama Bi Nini akan menjaga Raffa di sini," ujar Tante Eva.
"Benar itu, aku pikir Tuan Reynald dan Kak Jack pasti ada di dekat-dekat sini," sahut Viola.
"Baiklah kalau begitu aku siap-siap dulu. Kalian tunggu aku di depan." Elisa segera beranjak kembali ke dalam kamar untuk bersiap-siap. Semenjak Viola, Tasya dan Melvin beranjak pergi terlebih dahulu.
Bersambung π
__ADS_1
Assalamualaikum, yang berkenaan mampir juga ke karya terbaru author, yang berjudul Ranjang Ke-2 Hot Daddy. Jangan lupa tambahkan ke favorit ya. Terimakasih π