
...Hari ini aku kembali terjatuh ke jurang yang sama. Tempat di mana aku merasa sendiri, ketakutan dan butuh sandaran....
...Hari ini aku kembali di hantam oleh kenyataan. Fakta bahwa selama ini aku masih saja di permainkan oleh takdir dan di khianati oleh semesta....
...Hari ini aku kembali di paksa melewati semuanya dengan dua jalan keluar. Menyerah pada atau menerima kenyataan....
...Siapa aku dan begaimana jalan hidupku, tidak ada yang bisa melewatinya kecuali diriku sendiri. I believe in myself and I will be happy again....
...~Elisa Eduardo~...
.
.
.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Sepasang mata yang selalu menatap lekat seiring dengan mentari pagi yang menyapa di waktu yang bersamaan. Lagi dan lagi matanya berkaca-kaca, dikala melihat separuh jiwanya tertidur lelap.
Kapan, kapan suamiku akan bangun. Kata-kata itu selalu terucap dan terulang-ulang dalam benaknya, hari ini sudah tiga bulan berlalu, harapannya masih kuat, namun jiwanya mulai rapuh. Saat kedutan di area perutnya menandakan anak di dalam sana semakin bertumbuh.
Masa-masa trimester terakhir kehamilan yang terlewati dengan susah payah. Bagaimana tidak, ia harus tetap kuat dan bertahan demi buah cinta yang tertanam dirinya. Namun ia hanya manusia biasa yang bisa merasa lelah sejenak kemudian kembali berusaha bangkit.
Perlahan tangannya bergerak, menggenggam tangan sang suami lalu dia cium berkali-kali.
Aku mohon bangunlah, anak kita akan segera lahir. Apa kamu akan membiarkan aku melewatinya sendirian? Batin Elisa.
__ADS_1
Viola yang baru saja datang, menghentikan langkahnya di ambang pintu saat melihat bosnya kembali goyah. Setelah beberapa saat ia mulai mendekat, mengusap pundak Elisa perlahan. "Nona, are you okey?"
"Ya, aku baik-baik saja. Kamu tidak ke kantor?" tanya Elisa seraya menyeka air matanya.
"Saya datang untuk meminta tanda tangan Nona untuk beberapa berkas kerjasama kita," jawab Viola.
"Oh baiklah. Letakkan saja berkas-berkas itu di meja, aku mau membersihkan badan Reynald dulu, tadi suster membawa air hangat," ujarnya sambil berusaha tetap tersenyum. Ia melangkah menuju nakas yang ada di dekat jendela untuk menyiapkan air hangat.
Viola menghela napas berat saat dadanya terasa sesak. Ia perihatin melihat kondisi Nona mudanya yang tengah hamil besar namun sekali saja tidak pernah meninggalkan suaminya. "Nona, saya tahu anda pasti berat melewati ini tapi saya percaya Tuan Reynald akan kembali."
Elisa yang tengah menyiapkan air hangat tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Gemuruh di dada membuat matanya berulang kali memanas, semua orang seolah menguatkan namun mereka tidak tahu jika harapan-harapan itu adalah kelemahannya.
Perlahan ia berbalik menatap Viola. "Tentu saja, dia harus kembali, dia harus bangun. Aku tau saat ini dia sedang berjuang melewati masa kritisnya." Elisa kembali melanjutkan aktivitasnya dengan perasaan campur aduk.
Klek.
Sebenarnya Tasya merasa malu dan takut untuk bertemu Elisa. Namun Melvin terus meyakinkannya, akhirnya hari ini ia datang, bukan untuk memohon agar sang Mama di bebaskan tetapi ia ingin meminta maaf dan memberi support kepada Elisa.
"Selamat pagi, Kak El," ucap Tasya ragu-ragu saat Elisa memandang kearahnya.
Elisa melangkah mendekati adik sepupunya itu. Ia tahu Tasya pasti takut untuk bertemu dengannya. Meski Eva orang yang licik namun Elisa tahu adik sepupunya itu mempunyai hati yang tulus. "Akhirnya kamu datang juga, Kakak sudah menunggu kamu sejak lama."
Kepala Tasya yang awalnya tertunduk kini perlahan mendongak menatap sang Kakak. Ia tidak bisa menahan rasa harunya dan langsung berhambur memeluk Elisa. "Maafkan aku kak. Aku malu bertemu kakak setelah apa yang Mama lakukan."
"Kamu tidak salah, jadi untuk apa takut. Kita tetap keluarga apapun yang terjadi." Elisa menepuk pelan punggung Tasya yang saat ini sedang menangis tersedu-sedu di pelukannya.
...**...
__ADS_1
Di tempat berbeda. Di ruangan persidangan, Eva sedang duduk di kursi panas itu seraya menatap kepala hakim yang tengah membacakan putusan akhir dalam kasus yang membelitnya.
Perlahan ia menoleh ke kanan, kiri. Tidak ada keluarga yang memberikan support di tengah keterpurukannya, bahkan anaknya sendiri memilih untuk tidak datang karena Tasya tidak sanggup mendengar keputusan pengadilan untuk sang Mama.
Air mata Eva tak terbendung. Ia menangis sepanjang persidangan. Akhirnya ia mengerti inilah di rasakan Elisa dulu, saat terpuruk dan tidak ada yang menemani dan di abaikan.
"Sebagimana yang tertulis dalam pasal 229 ayat (4), Nyonya Eva Eduardo terbukti bersalah karena telah melakukan kejahatan berencana dan mengakibatkan korban luka berat, berdasarkan pasal tersebut, Nyonya Eva Eduardo di jatuhi hukuman lima tahun penjara. dan denda sebesar seratus juta"
Palu hakim di ketuk hingga tiga kali, dan akhirnya selesai sudah. Di masa tua harus mendekam dalam jeruji besi, semua adalah karma atas perbuatannya sendiri.
Eva menutup matanya perlahan, merasakan air mata yang mengalir tanpa henti. Dadanya terasa sesak, namun ia tidak bisa mengelak jika semua ini adalah hasil dari keegoisannya selama ini. Semua ia lewati sendiri tanpa ada yang memberi support.
~
Di dalam ruang rawat VVIP itu, Elisa dan Tasya sedang duduk berhadapan. Hanya berdua, karena Melvin memang sengaja meninggalkan keduanya agar bisa bicara hati ke hati.
"Hari ini adalah sidang terakhir Mama, aku tidak mau datang Kak, aku tidak bisa mendengar putusan akhir untuk kasus ini ... melihat Kak Rey seperti sekarang, aku sadar jika Mama memang pantas mendapatkan hukuman itu tapi aku mohon sama Kak Elisa, maafkan semua kesalahan Mama," tutur Tasya sambil sesekali menyeka air matanya.
"Ya, aku sudah memaafkan Mama kamu. Reynald pasti akan memarahi ku jika aku selalu menyimpan dendam. Semoga dengan ini Mama kamu bisa sadar ... Tasya, jika kamu tidak keberatan, tinggalkanlah di Mansion selama Mama kamu di penjara. Di sana akan lebih aman untuk kamu, ada bi Nini dan pelayan lain juga," ujar Elisa.
Tasya lagi-lagi tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis. "Terimakasih Kak, aku tidak menyangka Kakak masih akan perduli kepada ku setelah apa yang terjadi. Aku janji akan hidup dengan baik, tidak mengikuti jejak Mama."
"Tasya, kita ini keluarga kamu lupa. Aku hanya ingin kamu jangan mengabaikan Mama kamu ya, kunjungi dia dan berikan dukungan untuknya. Aku sudah tahu rasanya melewati masalah sendirian dan itu benar-benar tidak enak," ujar Elisa dengan mata yang berkaca-kaca.
Bersambung π
Lanjut siang ya kak, author dapat panggilan dari kehidupan nyata kalau ternyata author belum masak πππ
__ADS_1