Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.62 (Menginap)


__ADS_3

Sekitar pukul sepuluh malam. Hujan yang tiba-tiba saja turun membuat Viola yang sedang berada di ruko tidak bisa pulang. Ya, ia datang kesana menggunakan taksi dan Jack berniat untuk mengantarnya pulang tetapi tiba-tiba saja alam berkehendak lain.


"Bagaimana ini, sepertinya hujannya akan lama." Viola menatap langit malam dari jendela atas ruko.


"Aku tidak punya mobil jadi tidak bisa mengantar kamu pulang, maaf ya. Tapi kalau kamu mau, kamu bisa menginap kamar Reynald kan kosong." Jack sebenarnya tidak enak menawarkan hal seperti itu kepada seorang wanita tetapi apa boleh buat dari pada harus menunggu dengan ketidakpastian.


Viola menoleh kearah Jack. Niatnya malam ini hanya ingin makan malam bersama sebagai tanda terimakasih, tetapi rencananya berubah total dan mau tidak mau harus menginap di ruko itu. "Ehm, ba-baiklah. Apa di sini juga ada baju yang bisa aku pinjam?"


"Hanya ada baju kaos saja, kamu mau?", Jack terlihat canggung tiba-tiba.


"Boleh deh, dari pada tidur dengan baju kerja seperti ini."


"Baiklah tunggu sebentar aku ambil dulu." Jack beranjak pergi menuju sebuah kamar Melvin yang juga di tempati olehnya.


Setelah mengambil satu baju dan celana training, ia kembali menghampiri Viola yang sedang duduk di sofa dekat jendela. "Ini pakai lah, kalau kamu mau mandi kamar mandi ada di sana."


"Terimakasih Kak, kalau begitu aku ke kamar mandi dulu ya, sudah gerah" Viola melangkah menuju kamar mandi yang ada di sebelah kanan tangga.


~


Malam semakin larut. Setelah hampir satu jam akhirnya Viola keluar dari kamar mandi. Ia juga seperti mayoritas wanita pada umumnya, kalau mandi bisa menghabiskan waktu yang cukup lama tidak seperti laki-laki.


Viola mengeryitkan dahinya karena melihat dua cangkir kopi di atas meja. "Loh Kakak buat kopi?"


"Iya, aku buatnya dari tadi. Tapi ternyata kamu kalau mandi lama juga, sepertinya kopi ini sudah dingin." Jack mencoba kopi miliknya. "Tuh kan sudah dingin."


"Aku suka kopi dingin." Viola beranjak duduk di samping Jack dan langsung meminum kopi itu hingga habis. "Enak sekali, terimakasih kopinya."


Jack tidak menyangka jika ternyata Viola bar-bar juga. Ia hampir tidak bisa berkata-kata, ia hanya mengacungkan kedua jempolnya kepada Viola.


"Tempat ini nyaman juga, sekarang kakak tinggal di sini sendiri apa tidak kesepian?" tanya Viola tiba-tiba.


"Pasti sepi, tapi lama kelamaan pasti akan terbiasa. Sebenarnya aku punya orang tua,, tapi aku di minta Reynald untuk tidak meninggalkan tempat ini. Kamu sendiri bagaimana rasanya tinggal sendiri?"


"Ehmm ya begitulah, aku sebenarnya orang Sunda yang penakut apalagi saat mati lampu, aku tidak bisa tidur sendiri jika mati lampu."

__ADS_1


Bertepatan dengan itu tiba-tiba saja petir menggelegar dan listrik pun padam.


"Aaakkkkk!!" teriak Sofia saat tidak bisa melihat apapun.


"Kak Jack! Kenapa tiba-tiba mati lampu." Viola merasa jika ucapannya tadi adalah doa yang langsung di jabah oleh penguasa alam semesta.


Jack tidak menanggapi ucapan Viola dan malah sibuk meraba meja untuk mencari letak ponselnya. Saat ia berhasil mendapatkan ponselnya ia segera mengaktifkan senter ponsel itu.


Saat cahaya senter sudah mulai menerangi, Jack baru sadar jika saat ini Viola sedang bergelayut di lengannya. "Kamu benar-benar takut gelap?"


Viola menganggukkan kepalanya cepat. "Iya aku sangat takut gelap."


"Padahal kamu sudah sebesar ini," gumam Jack.


"Kak kalau lampunya belum hidup juga, aku tidak mau tidur sendiri. kita tidur bersama saja ya," lirih Viola.


"A-apa, tidur bersama? Vio aku ini bukan pria mesum tau!"


Pakkkk...


Satu pukulan mendapat pundak Jack. "Maksud ku, temani aku tidur. Bukan anu anuan!!"


~


A few minutes later.....


Setelah menunggu dengan ketidakpastian dan listrik tidak kunjung hidup. Akhirnya Viola dan Jack memutuskan untuk tidur di kamar.


Dengan di terangi cahaya senter dari dua ponsel, mereka berbaring di atas ranjang dengan bantal guling sebagai pembatas.


Karena efek kafein dari kopi tadi, Viola dan Jack belum juga terlelap, mereka tidur terlentang seraya memandangnya langit-langit kamar yang nampak bercahaya karena mendapat pantulan senter ponsel.


"Kamu kenapa belum tidur, percayalah aku tidak akan macam-macam," ucap Jack saat menoleh ke sisi kirinya.


"Bukan takut, ini semua karena minum kopi tadi aku jadi susah tidur," ujar Viola yang juga menoleh kearah Jack.

__ADS_1


Mereka saling menatap dalam diam, meski hanya di temani cahaya remang-remang senter ponsel, tetapi Jack masih bisa melihat dengan jelas mata indah yang saat ini sedang menatapnya.


"Kak Jack kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Viola.


"Kamu cantik," ucap Jack tanpa sadar, ia segera menyadarkan dirinya yang baru saja keceplosan. "Bu-bukan begitu, maksud ku mata mu itu sangat cantik.


Untung saja listrik sedang padam, jikq tidak pasti sudah terlihat jelas bagaimana raut wajah memerah Viola. "Ya, mata ku memang bagus, haha." Tiba-tiba saja ia menjadi salah tingkah sendiri."


"Beruntung sekali pria yang bisa menatap mata indah mu itu setiap membuka mata di pagi hari ... Kamu harus menikah dengan pria yang mapan, baik dan setia, jangan sampai salah pilih."


Viola mengubah posisinya menjadi menghadap Jack. "Kakak mau tau tipe suami ku seperti apa."


"Memangnya seperti apa?" tanya Jack yang merasa grogi di lihat seperti itu oleh Viola.


"Aku sejak kecil bermimpi, mempunyai suami yang bertanggung jawab, jujur, apa adanya dan juga selalu membuat ku tersenyum. Hidup ini cuma sekali dan aku juga ingin menikah satu kali, tidak perlu bergelimang harta. Dia hanya perlu menggetarkan hati ku saja maka aku akan memberikan seluruh hidup ku untuknya ... hoamm, entah kapan aku bertemu dengan jodoh ku ya." Mata Viola mulai terpejam dan akhirnya suara dengkuran halus mulai terdengar.


Jack mengubah posisi tidurnya menghadap Viola. "Apa boleh jika aku berpikir, aku adalah orang yang tepat untuk kamu," gumam Jack seraya menatap wajah polos Viola yang tengah terlelap.


...**...


Sofia mengerjakan matanya perlahan saat cahaya matahari menelusup masuk kedalam jendela kamar. Sesaat ia terlihat diam saja, namun sedetik kemudian akhirnya ia tersadar jika sedang berada di tempat yang asing.


"Di mana aku." Ia bangkit dari posisi berbaringnya, saat ia menyibak selimut yang menutupi bagian tubuhnya, matanya membulat tak kala melihat tubuh yang sudah polos tanpa sehelai benangpun.


"Kamu sudah bangun." Niko baru saja muncul dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk yang di lilitkan ke pinggangnya. Ia melangkah menghampiri Sofia yang menatapnya dengan ekspresi kebingungan.


"Kenapa aku bisa di sini, apa yang sudah terjadi, Nik?" Meski ia sudah bisa menduga apa yang terjadi antara dirinya dan Niko, tetapi Sofia seolah belum bisa menerima kenyataan itu.


"Maaf, Sof. Malam tadi kita mabuk dan terjadi lah semua ini." Tangan Niko bergerak meraih tangan Sofia dan langsung di genggam erat. "Tapi tenang saja, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, bagaimana kalau kita menikah."


Sofia dengan cepat menarik tangannya kembali. "Apa! Menikah ... Niko, aku tidak mencintaimu bagaimana bisa kita menikah, hah!"


"Aku ingin bertanggung jawab, Sof. Aku akan melakukan apapun asal kamu mau menikah dengan ku." Niko kembali meraih tangan Sofia dan di genggam erat.


Sofia pikir ini adalah kesempatan yang bagus. Ia tidak bisa mengerjakan rencananya sendiri, ia butuh seseorang untuk membantunya. "Baiklah, kalau begitu kamu harus membantu ku, untuk merubah surga seseorang menjadi neraka."

__ADS_1


Niko masig terlihat kebingungan dengan ucapan Sofia. "Apa maksud kamu sayang?"


Bersambung πŸ’•


__ADS_2