
"Kita harus mencari kemana lagi."
Saat ini Elisa dan yang lain sedang beristirahat sambil makan siang di sebuah Restauran. Ya, meski sebenarnya sudah sore namun mereka baru punya waktu untuk makan siang, saking paniknya mencari Jack dan Reynald.
"Jangan-jangan mereka sudah kembali di apartemen lagi," ujar Viola
"Tidak mungkin, aku baru saja menghubungi Mama. Mama bilang Kak Jack dan Kak Reynald belum sampai di sana," ujar Tasya.
"Sebenarnya mereka kemana sih, harusnya hari ini kita jalan-jalan, mana aku sudah bolos kuliah lagi," ucap Melvin.
"Huftt, kepala ku sakit sekali karena memikirkan mereka. Kita harus kemana lagi setelah ini." Mata Elisa nampak berkaca-kaca karena pada akhirnya ia takut terjadi apa-apa kepada sang suami.
"Tenang lah kak. Aku yakin mereka akan baik-baik saja." Melvin menepuk pundak Kakak iparnya itu, meski sebenarnya ia juga sangat khawatir.
Trruuttt...truuuuttt.
Di tengah suasana panik. Ponsel Melvin tiba-tiba saja berdering. Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja, ia kembali menghembuskan napas berat saat melihat nama yang tertera di sana. "Nah teman ku menelpon tiba-tiba, dia pasti di minta dosen untuk bertanya kenapa aku tidak masuk hari ini."
"Jangan takut, angkat saja. Akan lebih bahaya kalau kamu mengabaikannya," ujar Tasya.
Dengan ekspresi wajah sendunya, Melvin menerima panggilan telepon itu. "Maura, I'm sorry, aku tidak bisa masuk hari ini karena tiba-tiba saja kakak ku hilang jadi aku harus pergi mencarinya"
[Oh Melvin, untuk itulah aku menelpon kamu karena sekarang Kakak kamu ada di rumah ku, kami baru saja selesai makan. Apa kamu bisa datang untuk menjemput mereka?]
Sontak Melvin langsung berdiri dari duduknya. Ia tidak menyangka kenapa sang Kakak bisa sampai ke rumah teman satu jurusannya. "Baiklah aku segera kesana."
"Kenapa, Vin? Ada tugas darurat kah?" tanya Tasya.
"Wah aku benar-benar tidak menyangka, kalian tahu Kak Jack dan Kak Rey ada di rumah teman satu jurusan ku," ujar Melvin.
"Apa!" ucap semuanya secara bersamaan.
"Kita harus ke sana sekarang," ucap Melvin sambil mengenakan kembali jaketnya.
__ADS_1
...**...
"Terimakasih untuk jamuannya Bu, mister. Kami tidak tahu akan seperti apa jika kalian tidak bebaik hati menolong Kami," ujar Reynald.
"Jangan sungkan. Siapapun yang berasal dari negara saya itu berarti adalah keluarga saya," ujar Wanita paruh baya itu.
"Saya sudah menelepon Melvin dia akan segera datang," sahut Maura yang baru saja kembali dari teras.
"Syukurlah, pasti mereka sangat khawatir kepada ku," ujar Jack.
Maura melangkah duduk di samping mamanya. "Sepertinya begitu. Hari ini Melvin sampai tidak masuk kampus karena sibuk mencari kalian. Saat aku menelpon tadi dia juga sepertinya sangat panik.
"Melvin itu adik kamu?" tanya pria paruh baya itu. kepada Jack.
"Bu-bukan, Mister. Melvin itu adiknya Reynald saya hanya temannya saja," ucap Jack.
"Kalau di lihat-lihat memang mirip, so handsome. Saat pertama kali masuk kampus banyak teman-teman ku yang tertarik padanya, termaksud aku juga," ujar Maura yang sangat terus terang.
"Oh ya, Mommy jadi tidak sabar mau bertemu Melvin," ujar wanita paruh baya itu.
"Ya, really handsome, mirip sama Uncle Reynald," ujar Maura.
"Sebaiknya panggil Kakak saja, kami ini masih muda. Haha," ucap Jack pada Maura.
"Jack apaan sih," tegur Reynald.
"Its okey, sebenarnya tadi aku mau memanggil seperti itu tapi aku takut tidak sopan," ucap Maura.
Brummm....
Di tengah obrolan hangat mereka, tiba-tiba terdengar suara mobil dari luar. Mau dan yang lain pun segera beranjak menuju teras. Nampak Melvin yang menyetir mobil mengantikan Elisa turun lebih dulu.l lalu di ikuti dengan yang lain.
Maura tersenyum dan langsung menghampiri Melvin. "Welcome to my house, Melvin." Maura bergelayut manja di lengan Melvin hingga membuat Tasya mendengus kesal.
__ADS_1
"Ehm, terimakasih Maura." Melvin melepaskan lengannya perlahan seraya melirik Tasya yang sedang melihat kearahnya.
"Viola!!" seru Jack. Ia melangkah mendekati Viola dengan tangan merentang, saat hendak memeluk kekasihnya itu tiba-tiba saja Viola langsung menghindar. "Kenapa? Kamu tidak merindukan ku setelah berpisah seharian?"
"Rindu-rindu. Kamu membuat ku sangat cemas tau! Aku bahkan sudah membayangkan untuk belajar melupakan Kak Jack," ucap Viola lalu mulai menangis. Tentu saja Jack langsung memeluk pacarnya itu.
"Maaf, El. Aku pasti membuat kamu sangat khawatir." Reynald bahkan tidak sanggup untuk menatap mata Elisa. Ya, ia tahu persis bagaimana istri itu saat sedang marah atau kesal.
"Kamu benar-benar ... ah sudahlah, kita lebih baik pulang sekarang. Aku meninggalkan Raffa sejak pagi tadi," ujar Elisa.
"Baiklah, kalau begitu kita pamit kepada mereka dulu," ujar Reynald seraya menunjuk wanita yang sudah menolongnya.
Elisa melangkah menuju teras dan langsung memeluk wanita paruh baya itu beserta suaminya. "I'm sorry for bothering you. He is my husband and over there is my friend. Thank you very much for your help."
"Oh no problem, we're so glad they came here. Saya ini orang dari negara kalian juga," ujar wanita paruh baya itu.
"Really? Wah terimakasih banyak. Kalau begitu kami harus pulang sekarang, anak saya sejak tadi pagi saya tinggalkan karena sibuk mencari mereka," ujar Elisa.
"You guys are here for vacation?" tanya pria paruh baya itu.
"Ya of course, kami memang datang untuk liburan tapi dulu saya pernah tinggal lama di Melbourne," jawab Elisa.
"Besok weekend, kalau tidak keberatan mari pergi jalan-jalan bersama ke Yarra River," ajak wanita paruh baya itu.
"Kebetulan kami memang mau ke sana, tapi karena suami saya tiba-tiba hilang jadi tertunda. Baiklah sampai jumpa besok," ucap Elisa lalu berbalik, melangkah mendekati sang suami.
Elisa dan rombongan masuk kedalam mobil. Semua nampak lega kecuali Tasya yang merenggut di kursi belakang. Ya, ia tidak menyangka jika Melvin dekat dengan seorang wanita yang satu jurusan dengannya.
Melihat sang pacar terdiam, Melvin yang berada di sebelahnya sudah tahu kenapa Tasya menjadi seperti itu. "Sya, kamu marah ya. Aku dan Maura hanya teman, kami dekat karena dia satu-satunya teman ku yang bisa bahasa kita. Kamu jangan salah paham ya," bisik Melvin agar tidak terdengar dengan yang lain.
Tasya menoleh kearah Melvin. "Dia bergelayut seperti monyet di lengan mu, bagaimana aku tidak cemburu. Tahu seperti itu aku ambil jurusan yang sama dengan kamu. Padahal masih satu kampus yang sama, kenapa aku bisa kecolongan begini," ucapnya pelan.
Bersambung π
__ADS_1
Tiga hari kedelapan hanya bisa slow up karena ada acara pribadi, setelah selesai insyaallah langsung crazy up ya gaess, terimakasih.