
"Kamu kenapa masih menemui saya." Eva menatap tajam kearah Sofia yang setelah kejadian beberapa bulan lalu, akhirnya datang untuk menemui menemui Eva.
Sofia berusaha menahan emosinya. "Akhirnya Tante berakhir di sini juga. Saat aku tau Tante menabrak Reynald sampai koma aku menyesal pernah menerima tawaran Tante waktu itu."
"Lalu untuk apa kamu kemari, hah? Mau mengejek saya, atau kamu mau ikut masuk ke dalam tahanan. Saya bisa saja menjerumuskan kamu juga, jadi sebelum itu terjadi kamu bisa pergi dari sini."
"Saya marah dan kecewa kenapa Tante sampai menabrak Reynald! Saya ingin memiliki dia tapi Tante malah menyakitinya."
"Apa kamu masih berpikir untuk merebut dia dari Elisa? Kalau iya lebih baik kamu berhenti sekarang."
"Saya tidak lagi memikirkan itu, saya hanya ingin dia sadar. Saya mau dia kembali sehat seperti dulu. Ini semua gara-gara Tante! Seharusnya Tante mati saja."
Hati Eva kembali terguncang dengan kata-kata itu. Kenapa semua orang menginginkan ia memghilang dari dunia ini. Ia sudah menyesali semuanya, namun belum bisa untuk mengungkapkan secara langsung. Sekarang di sisa umurnya, ia hanya ingin hidup tenang tanpa gangguan yang membuat ia semakin frustasi.
"Lebih baik kamu pergi dari sini, urusan kita sudah selesai. Saya peringatkan sama kamu jangan pernah mengganggu mereka lagi, kamu sudah gagal dan hadapi saja kenyataannya."
"Wah apa sekarang tante memihak keponakan Tante itu? ... Mengharukan sekali, seharusnya Reynald tidak pernah terlibat dengan keluarga kalian, seharusnya dia saat ini masih bersama saya. Sekarang untuk menemuinya saja yang tidak di perbolehkan."
"Pergilah dari sini, saya ingin istirahat," ucap Eva lalu melangkah pergi meninggalkan Sofia sendiri. Ia malah semakin frustasi jika terus mendengar ucapan Sofia.
Sementara Sofia sendiri masih diam terpaku di tempatnya.
~
Saat ini di ruangan VVIP rumah sakit itu, Elisa dan yang lainnya sedang berkumpul untuk makan siang bersama. Melvin dan yang lainnya sepakat untuk menemani Elisa, mereka tidak mau membiarkan Elisa merasa kesepian.
Setidaknya Elisa bisa tersenyum dengan kelucuan Jack yang di ikuti oleh Tasya dan Melvin yang juga berada di sana, meski mereka tahu itu hanya akan membuat Elisa tersenyum untuk sementara.
"Oh iya Kak, sekarang kandungan Kakak sudah sembilan bulan. Aku yakin anak itu pasti laki-laki dan setampan unclenya," ujar Melvin.
__ADS_1
"Eh emang kamu bapaknya," sahut Jack.
"Aku ini sebelas dua belas sama Kak Rey, kami sangat mirip dari kulit, hidung, mata dan semuanya," ucap Melvin tidak mau kalah.
"Tapi bagaimana jika anaknya perempuan, pasti akan secantik tantenya kan, hehe," sahut Tasya lalu terkekeh sendiri.
Elisa hanya bisa tersenyum lalu menggeleng perlahan mendengar ocehan orang-orang di hadapannya sekarang. Ia bersyukur ternyata masih ada yang menemaninya di saat-saat seperti ini.
Tiiiitt...
Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba monitor yang terletak di sisi kanan ranjang berbunyi nyaring. Elisa dan yang lain langsung beranjak mendekati Reynald.
Elisa menatap wajah suaminya yang nampak semakin pucat, ia semakin panik ketika bunyi nyaring itu kian terdengar nyaring. Ia menoleh kearah Melvin dan yang lainnya. "Cepat panggil dokter!"
"Baik kak," ucap Melvin lalu melangkah dengan cepat keluar dari ruangan itu bersama dengan Jack.
Derai air mata kembali membasahi wajah cantiknya. Ia mencium tangan dan juga kening Reynald. "Aku mohon, kamu harus bertahan sayang, demi aku dan anak kita. Kamu tidak boleh meninggalkan kami."
Tak butuh waktu lama, akhirnya dokternya datang dengan beberapa perawat yang mendorong sebuah alat medis yang biasa di sebut sebagai AED (automated external defibrillator) adalahsebuah alat medis yang dapat menganalisis iramajantung secara otomatis dan memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan irama jantung jika dibutuhkan.
"Dok, tolong suami saya dok," ujar Elisa yang sampai saat ini masih setia menggenggam tangan sang suami.
"Baik Nona, kami akan berusaha sebaik mungkin," ucap Dokter itu lalu mulai membuka baju Reynald untuk menempelkan beberapa peralatan medis di dadanya.
Saat ini kondisi Reynald sangat lemah. Denyut nadi dan jantungnya sangat lemah. Secara medis kondisi Reynald saat ini sudah tidak ada harapan, ia bertahan hanya karena alat medis yang membantunya untuk tetap bernapas.
Namun tiada yang lebih bisa di percaya selain kuasa sang pencipta. Manusia boleh berkata tidak tapi penentu segalanya adalah yang di atas.
"Satu...dua..tiga," ucap dokter itu kemudian menempelkan kedua benda itu dan menariknya kembali hingga tubuh Reynald ikut terangkat keatas. Dokter itu melakukan hingga berkali-kali, demi satu harapan irama jantung Reynald kembali berdetak.
__ADS_1
Melvin yang berada di belakang dokter itu hanya bisa menangis tanpa bisa melakukan apapun. Tasya dan Jack berusaha menenangkan meski mereka juga merasakan kesedihan yang sama.
Sementara Elisa sekali pun tidak pernah melepaskan genggaman tangannya. Ia tidak siap untuk kemungkinan terburuk, perlahan ia mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Reynald. "Aku mohon kamu harus sadar, ingat janji kita. Kamu tidak boleh pergi sekarang. Sadarlah aku mohon." Elisa bergerak perlahan mencium kening suaminya yang saat ini di ambang kematian.
Setelah mengucapkan kata-kata itu di telinga sang suami. Denyut jantungnya secara tiba-tiba menjadi normal kembali. Garis lurus itu kembali bergelombang dan Dokter pun bisa bernapas lega. "Tuan Reynald telah kembali kepada kita, ini keajaiban."
Meski belum sadar dari koma, namun denyut nadi dan jantung yang kembali normal membuat Elisa dan yang lainnya kembali mempunyai harapan akan kesembuhan Reynald.
Elisa memeluk Reynald seraya menangis tersedu-sedu. Ia hampir saja kehilangan separuh jiwanya. Ia tidak bisa membayangkan jika semua itu benar-benar terjadi.
Melvin dan yang lain mendekat saat alat medis yang tadi di pasang, saat ini sudah di cabut. Mereka juga merasa lega karena karena Reynald masih bertahan, meski belum juga tersadar.
Elisa kembali menyeka air matanya, ia menghampiri dokter yang akan segera keluar ruangan. "Terimakasih, Dok."
"Ini sebuah keajaiban. Saya hampir putus asa karena tadi hampir tidak merasakan denyut jantung Tuan Reynald. Tapi sekarang dia telah kembali normal, Nona jangan putus harapan yakin dan percayalah Tuan Reynald pasti akan melewati masa-masa kritisnya," ujar Dokter itu.
"Tentu saja Dok, terimakasih," ucap Elisa.
Dokter dan beberapa orang perawat itu pamit pergi. Sementara Elisa kembali melangkah mendekati suaminya. Namun tiba-tiba saja perutnya terasa sangat sakit, sampai ia terduduk di lantai.
Tasya, Melvin dan Jack langsung menghampiri Elisa.
"Kakak kenapa?" tanya Melvin.
Belum sempat Elisa menjawab, tiba-tiba saja keluar cairan dari bawah kakinya, sangat banyak dan terus mengalir deras.
"Kak El, i-ini ketuban Kakak pasti akan melahirkan, bagaimana ini cepat panggil dokter," ujar Tasya yang mulai panik.
"Apa melahirkan! sekarang?" tanya Jack yang kembali panik setelah baru saja bernapas lega setelah Reynald kembali normal tapi tiba-tiba saja Elisa kembali membuatnya panik.
__ADS_1
"Ya sekarang lah Kak!" seru Melvin.
Bersambung 💕