
"Bagaimana ini, Rey. Kalau kita sampai tersesat." Keluh Jack yang tidak henti-hentinya menempel pada Reynald.
"Ini semua juga salah kamu, coba kamu tidak menonton pertunjukan music jalanan tadi, mungkin kita tidak akan tersesat seperti ini. Aku tidak bahasa Inggris lagi," ucap Reynald. Ia melangkahkan kakinya duduk di sebuah kursi yang tersedia di trotoar jalan. "Kita istirahat sebentar."
Jack dan Reynald memandangi para pejalan kaki yang berlalu lalang di depan mereka. "Indah sekali kota ini, tidak ada polusi, macet apalagi pengendara ugal-ugalan. Lain di negera kita di jam segini pasti sedang macet-macetnya."
"Kamu benar. Tapi anehnya di negera ini, orang bisa hidup dan tumbuh besar hanya dengan makan roti, pasta tanpa nasi. Aku pikir semua orang mengkonsumsi nasi ternyata dugaan ku salah," ujar Jack lalu tekekeh sendiri.
"Kamu pikir, makanan pokok itu hanya nasi saja. Huftt, kita harus ke arah mana lagi sekarang. Aku takut kita malah semakin jauh dari apartement."
"Kamu ingat tidak, nama apartement itu?" tanya Jack.
Reynald nampak mencoba mengingat-ingat nama gedung apartement itu. Malam tadi ia membacanya di lobby depan, tapi lagi-lagi ia melupakannya. "The ... the ... ah aku lupa."
"Kamu ini bagaimana sih, masa lupa," keluh Jack kesal.
"Hey kamu jangan menyalahkan aku sekarang," ucap Reynald kesal.
Mereka kembali terdiam. hingga sebuah bus berhenti tepat di depan mereka. Ya, tempat mereka duduk sekarang adalah tempat perhentian Bus. Reynald langsung menegapkan posisinya karena di badan bus itu terpasang spanduk gedung apartement tempat mereka menginap semalam.
"Jack, itu namanya," ucap Reynald seraya menunjuk kearah bus itu.
"Nama apa sih Rey?" tanya Jack bingung.
"Itu nama gedung Apartementnya ada di badan bus,"ujar Reynald.
Saat Jack memperhatikan spanduk yang terpasang di badan bus, tiba-tiba bus itu kembali melaju meninggalkan tempat itu.
"Ya sudah pergi," ucap Jack seraya memandangi bus yang semakin mejuah pergi.
"Cepat kejar, bus itu pasti berhenti di depan apartement," ucap Reynald.
"Percuma sudah jauh, lagi pula kita tidak bawa uang. Lebih baik cari taksi saja, supirnya pasti mau menunggu kamu untuk mengambil uang dulu pas sampai nanti,"ujar Jack.
"Ah kamu benar juga, tadi nama Apartemennya apa ya, ahk aku lupa lagi karena panik," ucap Reynald seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ayo kita jalan lagi," ucap Reynald yang sudah berdiri dari duduknya.
"Kita mau kemana lagi ini,kaki ku pegal sekali," ucap Jack.
"Ikut saja pokoknya," ucap Reynald yang melangkah mundur perlahan hingga akhirnya tanpa sengaja menabrak seorang wanita.
__ADS_1
"So-sorry ...." Reynald dan Jack membantu wanita paruh baya itu memungut barang belanjaannya yang berserakan di jalan.
"Don't worry," ucap wanita itu lalu tersenyum kepada Jack dan Reynald.
"Eh dia ngomong apa?" tanya Jack pada Reynald.
"Aku juga tidak tahu, pokoknya bantu pungut saja baru kita lanjut jalan lagi," jawab Reynald.
Wanita paru baya itu tiba-tiba tersenyum saat mendengarkan Reynald dan Jack bicara. "Kalian dari negara X?"
Jack dan Reynald saling menatap satu sama lain. Sepertinya mereka mempunyai pikiran yang sama. Jack dan Reynald kembali menatap wanita itu seraya menganggukkan kepalanya.
"Wah saya juga dari sana tapi suami saya asli orang sini, senang sekali bisa bertemu dengan kalian. Tapi sepertinya kalian sedang bingung,"ucap wanita itu.
"Sebenarnya kami tersesat bu saat lari pagi tadi, saya juga lupa nama gedung apartemen itu," jelas Reynald.
Kriukkkk.
Suara perut Jack membuat Reynald menggerutu kesal."Maaf, tadi pagi kita kan memang belum sempat sarapan."
"Kalian mau mampir ke rumah saya, kebetulan hari ini saya mau masak menu dari negara kita," ucap wanita itu seraya mengangkat keranjang belanjaannya.
...**...
"Kak El, jangan ngebut bahaya, ucap Tasya yang duduk di samping Kakaknya itu.
"Kita harus segera menemukan mereka sebelum gelap," ucap Elisa.
"Bagaimana jika mereka di culik," sahut Viola yang nampak sedih karena kehilangan sang pacar.
"Kak Vio, mana ada yang mau menculiknya bayi besar seperti mereka tenang saja, aku yakin sekarang mereka pasti baik-baik saja," ujar Melvin.
~
"Selamat makan," ucap Reynald dan Jack secara bersamaan. Mereka melahap masakan khas Nusantara yang di sajikan tuan rumah.
Saat ini mereka sedang berada di kediaman seorang wanita paruh baya yang mempunyai suami asli Australia.
"I am very happy when people from my wife's country come to visit," ucap pria bule suami wanita itu.
Jack dan Reynald terlihat bingung harus menjawab apa. Wanita paruh baya itu pun segera menjelaskan. "Suami saya bilang, dia sangat senang karena ada orang dari negara saya berkunjung ke sini."
__ADS_1
"Oh begitu," ucap Jack dan Reynald secara bersamaan.
Reynald menoleh kearah pria paruh bay itu, lalu mencoba bicara dengannya. "I'am happy." Ia hanya bisa mengatakan itu saja.
"Santai saja, saya juga bisa bahasa seperti kalian. Maaf tadi saya pikir kalian bisa bahasa Inggris," sahut pria bule itu tiba-tiba. Membuat Jack dam Reynald sampai terperangah tak percaya.
"Kanapa tidak bilang dari tadi," gumam Jack.
"Ahaha, wah saya terkejut karena baru pertama kali melihat pria bule bisa bicara seperti kami, luar biasa mister," ucap Reynald sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"I am home!" seru seorang gadis muda lalu mencium pipi kedua orangtuanya.
"Perkenalkan ini putri kami Maura," ucap Wanita paruh baya itu kepada Jack dan Reynald.
"Hy Maura, you so beautiful," ucap Jack mendahului Reynald.
"Giliran cewek aja kamu langsung bisa bisa bahasa Inggris," tegur Reynald.
"Itu aku biasa denger kalau lagi nonton TV," ucap Jack, membuat tuan rumah itu terkekeh.
"Oh hy Uncle. I'm Maura. Pantas Mommy senang sekali ternyata ada tamu dari negaranya," ucap gadis itu.
"kamu juga ... wah." Jack tidak bisa berkata-kata saat mendapati putri dari pemilik rumah itu juga mahir berbahasa seperti mereka.
"Maura sudah kuliah?" tanya Reynald tiba-tiba.
"Oh iya Uncle, saya kuliah di universitas Melbourne, dekat dari sini," jawab Maura.
"Benarkah? Kebetulan sekali, adik teman saya ini juga kuliah di sana, namanya Melvin dan Tasya," ujar Jack.
"Oh saya kenal Melvin,kami satu jurusan. Dia baru beberapa bulan di sini jadi sedikit kesulitan dengan bahasa," ucap Maura.
"Oh my God,kita selamat, Rey!"pekik Jack sambil memeluk sahabatnya itu.
Maura dan kedua orangtuanya pun di buat tertawa karena tingkah Jack.
"Lepaskan aku," ucap Reynald seraya mendorong tubuh Jack agar menjauh darinya.
"Maura, apa saya boleh minta tolong hubungi Melvin katakan bahwa kami ada di sini," pinta Reynald.
"Oh okay," ucap Maura.
__ADS_1
Bersambung π