Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.78 (Rencana liburan part.2)


__ADS_3

"Liburan ke Melbourne?" tanya Tante Eva ya saat ini sedang menikmati secangkir teh di taman belakang bersama Elisa.


Elisa meletakkan kembali cangkir teh di atas meja kemudian kembali melihat sang Tante. "Iya liburan, Tante. Sekaligus mau mengunjungi Melvin dan Tasya di sana, aku sengaja tidak memberitahu mereka untuk memberi surprise.


"Itu ide yang bagus, El. Tante juga sebenarnya butuh liburan di tambah lagi Tante Rindu sama Tasya."


"Kalau begitu kita berangkat minggu depan, aku akan minta Viola mengurus penerbangan kita. Rencananya aku akan menggunakan private jet Papa. Sepertinya muat." Elisa melai menghitung orang-orang yang akan ia bawa ke Melbourne.


"Memangnya siapa saja, El. Sepertinya kamu mau membawa banyak orang ya?" tanya Tante Eva penasaran.


"Emmmm ... Aku, Reynald, Raffa, Tante, Viola, Kak Jack dan Bi Nini," jawab Elisa.


"Wah pas itu, private jet Papa kamu itu muat delapan orang di luar pilot, kapasitas bagasinya juga cukup besar. Pasti seru liburan nanti karena ramai," ucap Tante Eva yang terlihat sangat antusias hingga berdiri dari tempat duduknya.


Elisa terkekeh sendiri melihat tingkah sang Tante. "Tante hafal sekali ya, sering terbang dengan private jet Papa ya?" Ia memicingkan matanya.


"Ehm, hanya beberapa kali. Itu juga kalau pergi sama Papa kamu," ucap Tante Eva yang kembali duduk di kursinya. "Ah sepertinya Tante harus beli mantel baru ya."


"Di sana sedang musim semi, Tante. Jadi tidak perlu mantel tebal. Malam nanti kita shoping sama Viola dan Bi Nini sekalian ya," ucap Elisa yang membuat Tantenya itu kembali senang.


Tante Eva kembali beranjak dari tempat duduknya, memeluk sang keponakan dari samping. "Terimakasih ya, El. Kamu memang ponakan Tante yang paling cantik."


"Ya, nyatanya ponakan Tante kan memang cuma aku," ucap Elisa.


"Oh iya, Tante lupa. Hehe."


Elisa tersenyum karena mendapatkan pelukkan dari sang Tante. Rasanya seperti mendapatkan kembali sosok Ibu yang sudah pergi meninggalkan ia untuk selamanya. Andai keadaan lebih cepat berubah baik seperti sekarang, mungkin tidak akan pernah ada tragedi hingga konflik berkepanjangan yang menyesakkan hati dan menguras air mata.


...**...

__ADS_1


"Apa iburan! Ke Mel ... Mel apa tadi?" tanya Jack pada Reynald yang tengah duduk di sofa lusuh kesayangan mereka.


"Ke Melbourne," jawab Reynald. "Kamu mau ikut atau tidak?"


"Ya, maulah. Kapan lagi bisa jalan-jalan keluar negeri, gratis, sama ayang lagi," ucap Jack lalu tersenyum-senyum sendiri karena membayangkan liburan bersama Viola.


"Ayang, ayang. Emangnya udah jadian?" tanya Reynald.


Jack menegapkan posisi duduknya, melihat kearah Reynald dengan senyum penuh ke sombongan. "Aku dan Viola sudah resmi pacaran. Kamu taulah aku ini pria gentle, nyatain cinta gitu mah gampang lah."


Jack kembali menyandarkan tubuhnya di sofa. Ya, ucapannya memang melebih-lebihkan karena pada kenyataannya, untuk mengucapkan kata cinta saja mulutnya terasa begitu kaku, andai hari itu Viola tidak mendesak mungkin status mereka belum jelas.


Reynald bertepuk tangan seraya terkekeh sendiri. "Wah akhirnya berakhir juga status jomblo dari lahir kamu, kawan. Gimana rasanya pacaran?"


"Mantap, jadi pengen cepet nikah hahaha." Jack terkekeh sendiri mendengar ucapannya. "Tapi aku tidak punya pakaian baru buat di bawa kesana, sepertinya aku harus mengeluarkan tabungan ku.


"Kamu itu tidak tau aku ini punya banyak tabungan rahasia, teman mu ini tidak sekere itu. Sayangnya Elisa sudah tidak menyewa ku sebagai detektif rahasia untuk memata-matai suaminya, satu berita dua puluh juta, seharusnya aku sudah kaya sekarang." Jack tanpan sadar sudah menggali lubang kuburnya sendiri.


Reynald tersenyum menyeringai seraya menganggukkan kepalanya. "Jadi kamu di bayar Elisa sebesar dua puluh juta ya."


Glek.


Jack menelan salivanya sekuat tenaga. Ia menggerutuki dirinya sendiri karena keceplosan tentang rahasia antara dirinya dan Elisa. "Ehm bukan begitu, Rey. Aku hanya membantu istri kamu, agar kamu tidak tergoda dengan Sofia. Sebagai seorang pria yang di kelilingi banyak wanita kamu memang harus di pantau. Dia seperti itu juga karena sayang sama kamu."


Reynald berdiri dari duduknya seraya berpangku tangan. "Wahh aku tidak menyangka persahabatan kita selama dua puluh tahun ini kamu bandingkan dengan uang dua puluh juta? Apa yang harus aku lakukan dengan penghianat seperti kamu ya."


Jack menggelengkan kepalanya cepat dengan ekspresi sedih yang di buat-buat. " Kamu tau siapapun bisa khilaf jika di sodorkan segepok uang. Tolong jangan lecehkan aku Tuan muda, aku ini masih suci."


Reynald berusaha menahan tawanya. Ya, Jack memang paling bisa meredakan amarahnya dengan tingkah lebay dan ekspresi wajah lucu. "Kamu tau berapa berat badan ku?"

__ADS_1


"Tentu saja, berat badan kamu kan tujuh puluh lima kilogram dengan tinggi badan seratus delapan puluh tujuh centimeter, golongan darah kamu B dan zodiak kamu Taurus. Bagaimana sebagai teman sejati aku hafal kan," ujar Jack lalu tersenyum Pepsodent kepada sang sahabat


"Tujuh puluh lima kilogram, aku rasa sudah cukup untuk meremukkan tulang mu." Reynald mundur perlahan, mengambil ancang-ancang untuk memberikan serangan mematikan kepada Jack.


Senyum Jack mendadak luntur, ia ingin kabur namun tubuhnya terasa begitu kaku. "Aku mohon, Rey. Jangan!"


Reynald berlari cepat kearah Jack, melompat dan--


Buuukkk


"Aw tulang ku pasti sudah patah," ucap Jack dengan wajah memerah karena di timpa oleh tubuh Reynald. Ia merasa sedang berada di dalam ring tinju dan sedang di smack down oleh sahabatnya sendiri.


"Wahaha, sepertinya aku memang berbakat jadi pegulat di banding montir mobil, satu kali serangan dan kamu langsung KO," ucap Reynald yang masih menindih tubuh Jack.


"Itu curang tau!!" pekik Jack semampunya.


Reynald beranjak dari atas tubuh Jack. Ia mengulurkan tangannya kepada Jack. "Ayo kita pergi belanja pakaian di distro depan."


Jack yang tadi berpura-pura menjadi sosok paling teraniaya, mendadak berdiri dengan semangat. Ia melangkah mendekati Reynald dan langsung merangkulnya. "Kamu memang teman yang baik, Rey. Terimakasih karena setelah ke khilafan ku kamu masih mau membelikan aku pakaian."


Reynald tersenyum kepada Jack sambil menurunkan lengan Jack dari pundaknya. "Sepertinya kamu salah paham, teman ku. Sekarang aku tanya sama kamu, berapa banyak uang yang kamu kumpulan dari hasil memata-matai ku?"


"Seratus dua puluh juta," jawab Jack dengan nada datar.


"Nah itu sudah sangat cukup untuk membeli pakaian mahal untuk kita berdua di distro itu. Ayolah, kamu tidak akan mendapatkan uang itu kalau bukan karena aku. Ayo sahabat ku, kita habiskan uang itu sekarang." Reynald menarik tangan Jack agar melangkah mengikutinya.


"Tidak, ini pasti cuma mimpi, uangku yang malang, maafkan Papa nak," gumam Jack dengan wajah sendunya sambil terus mengikuti langkah Reynald.


Bersambung πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2