Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.51 (Selamanya tidak akan terganti)


__ADS_3

Malam hari setelah acara selesai. Elisa yang baru saja selesai menidurkan Baby R, beranjak menghampiri sang suami yang sedang berdiri di balkon kamar.


Elisa melangkah berdiri di samping sang suami, ikut menatap langit malam yang di penuhi bintang malam ini. "Hampir setiap malam, kamu berdiri di sini kenapa?"


Reynald menoleh kearah sang istri, dan tersenyum kepadanya. "Setiap malam aku memikirkan bagaimana cara ku agar bisa kembali mengingat semua tentang hubungan kita, apa yang sudah kita lewati hingga ke titik ini ... aku tidak menyangka."


Elisa menatap sang suami sejenak lalu kembali menatap kearah langit. Ia harap, Mamanya melihat jika saat ini ia sedang bahagia, sangat bahagia hingga melupakan rasa trauma yang dulu membelenggunya begitu lama. Ia juga tidak menyangka akan sampai ke tahap ini dengan seorang pria yang tidak pernah ada di bayangannya.


"Terimakasih karena kamu sudah sadar dari koma, terimakasih karena kamu sudah berusaha untuk mengingat semua kenangan kita. Kamu tahu aku juga tidak menyangka kita akan sampai di titik ini. Jika kita masih mengikuti perjanjian itu ... pernikahan kita pasti sudah berakhir." Elisa terus menatap langit sampai pada akhirnya merasakan sang suami memeluknya dari belakang.


"Terimakasih karena sudah menunggu ku, tetap berada di sisiku dalam keadaan apapun. Aku tidak menyangka kamu akan bertahan sejauh ini, terimakasih. Karena bukan hanya aku tapi kamu juga berjuang untuk pernikahan kita." Reynald memeluk erat istrinya.


Tanpa Reynald sadari air matanya kembali mengalir. Jika mengingat semua hal yang sudah mereka lewati. Dia tidak pernah bermimpi mempunyai istri sesempurna Elisa, namun di tengah keterpurukannya karena memperjuangkan orang yang salah, semesta mengirimkan Elisa kepadanya secara paksa.


Ya, terkadang kita harus terpaksa menerima sesuatu untuk mengetahui apa yang akan tuai dari rasa sabar dan ke ikhlasan ketika berhasil melewatinya.


Elisa mengerutkan keningnya saat mendengar suara isak tangis sang suami. "Hey, kamu menangis." Elisa hendak berbalik namun Reynald menahan sang istri agar tidak melihatnya.


"Tetap seperti ini. Aku ingin menangis di pundak istri ku sekali ini saja, tetap seperti ini," lirih Reynald seraya terus mengeratkan pelukannya.


Akhirnya Elisa terdiam, membiarkan sang suami melampiaskan rasa haru yang tiba-tiba saja menyeruak, hingga membuat ia ikut menitikkan air mata. "Suatu saat nanti, saat kita Baby R sudah besar, aku ingin kamu tetap seperti ini, memelukku dan memperlakukan ku dengan manja. Suatu saat nanti saat aku sudah tidak secantik sekarang, aku harap cinta mu akan tetap sama."


Reynald menganggukan kepalanya perlahan. "Tentu saja, akan selalu sama. Selamanya kamu tidak akan pernah tergantikan." Ia membalik membalik tubuh sang istri, menatapnya seraya menyeka air mata yang membasahi pipi istrinya.


Di raihnya tekuk leher Elisa lalu mendaratkan satu ciuman di bibir mungil yang selalu membuatnya candu. Elisa terlihat menikmati setiap sensasi yang di tawarkan Reynald.


Reynald melepaskan ciumanya lalu kembali menatap sang istri, "Sudah tidak marah lagi kan, malam ini aku tetap dapat jatah ya?"

__ADS_1


Elisa terkekeh sendiri mendengar ucapan suaminya. Padahal siang tadi ia hanya bercanda. "Tentu saja, akuw juga menginginkannya." Elisa mengalungkan lengannya di leher sang suami, kakinya menjinjit lalu kembali melanjutkan ciuman mereka.


Saling me******, merengkuh hingga membuat seluruh aliran darah mendidih. Reynald menggedong tubuh istrinya tanpa melepaskan tautan mereka.


Di atas ranjang, Reynald membawa sang istri dalam Kungkungannya. Mereka saling menatap hasrat yang sama-sama kuat, Tanpa pikir panjang Reynald menjelajahi leher hingga kedada Elisa.


Suara eluhan kecil terdengar hingga membuat Elisa mengigit bibirnya dengan mata yang terpejam erat.


Permainan Reynald semakin cepat karena hasrat yang ingin segera di tuntaskan. Tangannya hendak membuka celana tidur sang istri namun aktivitas terhenti saat tiba-tiba saja--


Oekkk...oekkk.


Terdengar suara tangis yang sangat kencang dari box bayi. Elisa menatap sang suami dengan perasaan bersalah, "Maaf, sepertinya kita lanjutkan nanti ya."


Reynald menghela napas panjang kemudian menjatuhkan diri di samping Elisa.


Setelah beberapa saat akhirnya sesuatu dalam diri Reynald tak lagi menegang ia beranjak tua dari atas bukit tempat tidur, menghampiri Elisa yang dan Baby R yang nampak tidak juga berhenti menangis.


"Sini biar aku yang gendong," pintq Reynald kepada sang istri.


Elisa memberikan Baby R kepada Reynald. "Sepertinya dia lapar, aku buatkan susu dulu."


"Okey Mama ... Aku mau di gendong Papa, aja" ucap Reynald sambil menatap bayinya. Ia menepuk-nepuk lengan Baby R dan bersenandung asal-asalan, namun anehnya sang bayi malag tenang.


Elisa dengan cepat membuatkan susu formula untuk bayinya. Namun saat ia berbalik, Baby R sudah kembali tertidur di gendongan Reynald. Ia pun segera menghampiri sang suami. "Sudah tidur lagi?"


"Tentu saja, tangan Papa ini tangan ajaib, cuma beberapa kali tepuk, tidur lagi. Dia tahu papanya lagi tanggung tadi," ucap Reynald lalu terkekeh pelan.

__ADS_1


Wajah Elisa terlihat memerah karena tadi memang sangat tanggung. "Ehm, bawa Raffa ke box bayi lagi terus kita ... lanjutkan yang tadi."


Reynald nampak sangat bersemangat. Ia meletakkan Baby R ke ke box bayi secara perlahan, di selimuti dan di kecup keningnya. Setelah selesai ia berbalik menatap sang istri dan langsung menggendongnya ala bridal style.


"Rey, kenapa di gendong terus sih. Aku berat loh," ujar Elisa.


"Kamu itu hanya seringan kapas tau, ayo kita lanjutkan lagi. Bagaimana kalau kita membuat project baru," ucap Reynald.


"Hah, project baru ... maksudnya?" tanya Elisa bingung.


"Projek memberikan adik untuk Raffa," jawab Reynald dengan entengnya.


"What! Adik ... kamu gila ya, Raffa masih kecil. Masa sudah punya adik," ucapannya panik.


"Haha, aku bercanda. Aku juga belum siap, aku ingin memfokuskan perhatian ku ke anak kita dan kamu dulu," ucap Reynald lalu kembali membawa Elisa naik ke atas ranjang.


"Aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu, Elisa," ujar Reynald seraya membelai wajah sang istri.


"Aku juga, sangat amat mencintai kamu, Rey," balasnya.


Malam itu mereka kembali menikmati surga dunia untuk kesekian kalinya. Tidak ada lagi keraguan karena status yang dulu belum jelas. Kini mereka menjalani semuanya dengan bahagia.


Adapun jika nanti cobaan kembali menghampiri. Tentu mereka sudah siap untuk hal itu. Tangan yang saling menggenggam erat, saat menghadapi cobaan apapun pasti akan terasa mudah untuk melewatinya.


Hidup memang penuh dengan lika liku yang mewarnai. Jangan menyerah untuk mencari kebahagiaan, kamu akan menemukannya di suatu tempat di waktu yang tepat.


Bersambung πŸ’•

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya Readers 😘


__ADS_2