Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.42 (Bertahanlah, ku mohon)


__ADS_3


...Kamu hadir secara tiba-tiba, menawarkan cinta secara tak terduga. Mimpi yang kamu utarakan adalah harapan yang aku genggam erat selamanya....


...Jangan pergi dan menghilang dari pandangan ku, karena aku tanpa mu bagai senja yang kehilangan jingga di penghujung hari, langkah yang menapak bagai tak berjejak dan langit yang menghitam tanpa turunnya hujan....


...Kamu tahu, jatuh cinta tidak sebercanda itu...


...Jadi bertahanlah, ku mohon....


...Elisa Eduardo...


.


.


.


Kakinya terus melangkah, menyusuri lorong demi lorong dengan perasaan cemas. Ia berharap malam ini sang pujaan datang dan menyapanya dengan senyum manis seperti biasa.


Tetapi yang ia dapati saat membuka pintu hanyalah seorang pelayan yang berdiri dengan kepala tertunduk, menyampaikan kabar buruk yang tidak ingin ia percayai namun semua, nyata.


Mereka baru saja memulai mimpi kecil dalam rumah tangga yang sesungguhnya, namun apa akan berakhir, karena semesta lagi-lagi menguji keduanya dengan luar biasa. Saat cinta yang tertempa begitu kuat namun takdir mempaskannya begitu saja.


Langkah Elisa yang memburu, perlahan melambat saat dari kejauhan, di depan pintu ruang operasi, Jack dan Melvin tengah duduk berdampingan seraya terus saling menguatkan.


Perlahan ia kembali melangkah di temani Viola dan Bi Nini yang selalu setia mendampingi. Meski belum tahu kronologis kejadian, tetapi ia tahu suaminya tidak baik-baik saja.


"Kak Elisa," lirih Melvin seraya bangkit dari posisi duduknya.


"Bagaimana keadaan ... suami ku?" tanya Elisa sambil menatap Jack dan Melvin secara bergantian. Dadanya terasa sesak, mata pun mulai berkaca-kaca. Namun ia masih berharap sang suami baik-baik saja.

__ADS_1


Melvin dan Jack saling menatap satu sama lain. Mereka bingung bagaimana cara menyampaikan semuanya kepada Elisa, mengingat kecelakaan yang di alami Reynald cukup berat.


"Kak Rey me-mengalami pendarahan otak, sekarang sedang di tangani oleh dokter ... dia di tabrak lari oleh seseorang." Melvin tidak bisa menahan kesedihannya, ia menangis tetapi tetap berusaha menceritakannya kepada Elisa.


Elisa seakan tak bisa lagi menopang tubuhnya sendiri, ia harap ini hanya mimpi buruk dan akan segera bangun dan kembali bahagia seperti biasa. Bibirnya begetar seiring air mata yang mengalir deras dari sudut mata.


"Tidak mungkin, Reynald janji akan pulang secepatnya ... dia tidak boleh seperti ini." Elisa menatap Jack dan Melvin secara bersamaan. "Dia akan baik-baik saja kan?"


Melvin dan Jack hanya diam seraya menundukkan pandangannya. Sebelum Elisa datang, dokter menjelaskan kepada mereka bahwa cedera kepala Reynald sangat parah hingga kemungkinan untuk hidup hanya beberapa persen saja.


"Kalian kenapa diam saja?" Perasaan Elisa semakin campur aduk. Meski dua pria di hadapannya saat ini tidak mengatakan apapun, namun semua tersirat dengan jelas. "Ayo jawab aku!"


"Nona tenanglah, Tuan pasti baik-baik saja. Nona tenang ya," ujar Viola berusaha menenangkan Elisa.


Elisa menoleh menatap Viola. "Apa kamu bilang, tenang? Bagaimana aku bisa tenang saat aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana, kamu tidak akan mengerti rasanya jadi aku, kalian semua tidak akan mengerti!"


Semua hanya bisa terdiam. Mereka tahu saat ini Elisa tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Aku mau masuk kedalam, dia pasti membutuhkan aku sekarang." Elisa melangkah menuju pintu, namun Melvin dan yang lain dengan cepat mencegahnya.


Elisa menatap Melvin sejenak kemudian mulai tertunduk, ia kembali menangis tersedu-sedu. "Vin ... Kakak tidak bisa tanpanya, kakak tidak bisa."


Melvin membawa sang Kakak ipar kedalam pelukannya. Mereka menangis bersama, bukan hanya mereka tapi Bi Nini, Viola dan Jack juga demikian.


~


Di tempat berbeda, Eva baru saja sampai ke apartemennya. Ia melangkah dengan cepat menuju kamar dan langsung pergi menuju kamar mandi.


Di depan wastafel ia mencuci tangan dan juga wajahnya. Seluruh tubuhnya bergetar hebat karena baru saja melakukan hal di luar rencananya karena tersulut api emosi.


"Bagaimana kalau dia sampai mati? Ah sialan! kenapa aku tidak bisa menahan diri, sekarang aku dalam masalah besar semua ini karena wanita sialan itu, apa yang harus aku lakukan sekarang ...."

__ADS_1


Setelah Sofia masuk kedalam apartemen, Eva masih ingin menunggu untuk memastikan semua berjalan dengan lancar. Namun setelah beberapa saat ia melihat Reynald keluar dari gedung apartemen itu.


Eva bisa memastikan jika misi yang sudah ia susun begitu matang gagal total. Karena tersulut emosi, ia menyalakan mesin mobil, menginjak pedal gas dalam-dalam.


Setelah menabrak Reynald. Ia baru tersadar jika yang ia lakukan sudah di luar batas. Karena takut ia langsung tancap gas secepat mungkin meninggalkan tempat itu.


Saat keluar dari kamar mandi, Eva masih saja mondar-mandir di depan ranjangnya. Ia memikirkan cara untuk lari dari semua ini. Ia tahu Elisa tidak akan tinggal diam dan akan mencari orang yang telah mencelakai suaminya.


"Aku harus segera kabur dari kota ini, aku harus menjual semua aset ku dan hidup bahagia di tempat yang jauh bersama Tasya," gumanya sendiri.


~


Dokter yang menangani operasi Reynald baru saja keluar. Elisa dan yang lain beranjak menghampiri sang Dokter.


"Dok, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Elisa penuh harap.


"Operasi berjalan lancar, tapi ... Tuan Reynald masih dalam kondisi kritis karena trauma di bagian kepala yang cukup berat, kita doakan saja semoga semoga Tuan Reynald bisa kembali sadar dari koma," tutur Dokter itu.


Elisa kembali terduduk lemas di kursi tunggu, Viola dan Bi Nini berusaha terus menguatkan. Sementara Jack dan Melvin juga berusaha saling menguatkan.


Setelah beberapa saat brankar di mana Reynald tengah terbaring koma keluar dari ruangan operasi untuk di bawa ke ruang perawatan khusus untuk pasien VVIP. Elisa dan yang lain segera mengikuti.


~


Di dalam ruangan, Elisa segera menghampiri dan duduk di sisi kiri suaminya. Ia menggenggam tangan Reynald dengan erat, air matanya seolah tak ingin berhenti mengalir. Di perhatikannya semua alat yang kini terpasang di tubuh sang suami, ia tidak kuat namun berusaha agar tidak runtuh.


Aku tahu kamu tidak akan meninggalkan aku dan calon anak kita. Bertahanlah, ku mohon, batin Elisa.


Elisa menyeka air matanya dan berusaha menguatkan diri. Ia tidak bisa terus terpuruk seperti ini, ia harus kuat demi anak dan juga suaminya. Ia berdiri dari posisinya dan melangkah menghampiri Viola dan yang lainnya.


Elisa beralih menatap Viola yang sedang berdiri di samping Bi Nini. "Aku mau pelakunya segera di temukan, aku tidak akan pernah membiarkan dia hidup bebas setelah membuat suami ku seperti ini, kerahkan pihak kepolisian, kalau perlu sewa detektif terpercaya, sekarang."

__ADS_1


Bersambung πŸ’•


Jangan lupa dukungannya ya reader terimakasih.


__ADS_2