Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.52 (Kesedihan Tasya)


__ADS_3

"Tasya kamu mau kemana?" tanya Elisa saat melihat adik sepupunya keluar dari kamar.


"Oh ini kak, minggu depan kan aku akan berangkat ke Melbourne bersama Melvin jadi aku ingin pamit dengan Mama.


Tasya tiba-tiba saja merasa bersalah ketika harus membiarkan adik sepupunya itu berpisah dengan sang Mama. "Oh begitu, kalau begitu kamu hati-hati ya, di antar supir saja."


"Tidak perlu Kak, Melvin sudah di bawah. Dia akan mengantarkan aku menemui Mama," ujar Tasya.


"Oh begitu, baiklah kamu hati-hati ya," ucap Elisa.


"Baik kak, kalau begitu aku pergi dulu ya, permisi," ucap Tasya lalu melangkah pergi meninggalkan Elisa.


Elisa memandangi kepergian adik sepupunya itu dengan rasa kasihan yang tiba-tiba saja menyeruak.


"Hey kamu ngapain di sini," ucap Reynald yang tiba-tiba saja datang, membuat Elisa kaget.


"Kamu buat kaget saja ... itu Tasya sebentar lagi akan berangkat ke Melbourne, Tante Eva pasti akan merasa kesepian karena tidak lagi di kunjungi Tasya. Menurut kamu apa kita bebaskan saja, kita tarik kasus ini," ujar Elisa kepada Reynald.


"Sejak awal aku memang tidak ingin Tante kamu di penjara. Aku yakin pasti sekarang dia sangat menyesal, sepertinya sudah cukup tiga bulan ini beliau mendekam di penjara," tutur Reynald.


"Kamu benar, besok kita pergi menemui Tante Eva ya," ucap Elisa.


"Iya, tentu saja," ucap Reynald lalu merangkul sang istri. "Ayo kita sarapan dulu, mumpung Raffa masih tidur."


"Raffa sama siapa di kamar?" tanya Elisa dengan ekspresi panik yang tiba-tiba saja menyerang.


"Sama Bi Nini. Mana mungkin aku tinggalkan dia sendirian," jawab Reynald.


"Huh syukurlah, siapa tau saja kamu lupa. Hari ini kamu ke bengkel ya?" tanya Elisa.


"Iya, Jack pasti sangat kewalahan. Sepertinya aku harus menambah karyawan dan rencana untuk membuka cabang baru juga sepertinya harus di percepat," jawabnya.

__ADS_1


Elisa merapikan kerah kemeja suaminya, "Ingat kalau ada custemer perempuan minta karyawan lain yang mengerjakan jangan kamu. Meskipun aku tidak lihat, tapi aku punya mata-mata Jack di sana," ujar Elisa lalu menutup mulutnya sendiri karena keceplosan.


"Oh jadi selama ini mata-mata kamu, si jomblo karatan itu. Pantas saja kamu tahu semuanya. Wah aku merasa di khianati sahabat ku sendiri," oceh Reynald.


Cup.


Tiba-tiba saja Elisa mengecup pipi Reynald. "Jangan marah, aku hanya ingin melindungi kamu saja. Jangan marah sama Kak Jack juga," ucap Elisa dengan ekspresi wajah memelas.


"Kamu memang paling bisa membuat ku luluh. Baiklah, aku tidak jadi marah. Tapi malam ini dua ronde," ucapannya lalu tersenyum penuh arti.


"Ya! Kenapa di kepala mu isinya hanya hal itu saja. Kamu mau dua ronde? Ayo kita ke ruangan gym, aku sudah lama tidak latihan boxing," ujar Elisa.


Reynald menggeleng cepat. "Tidak mau, aku tidak mau jadi penganti samsak tinju kamu," ucapnya lalu melangkah cepat meninggalkan Elisa.


"Hey! Jangan kabur," seru Elisa lalu terkekeh sendiri melihat tingkah suaminya.


...**...


Di dalam mobil, Melvin tidak henti-hentinya melirik Tasya yang hanya diam sejak tadi. Ia mengerti pasti sangat berat bagi Tasya untuk meninggalkan orang tuanya yang saat ini sedang melewati masa-masa sulit.


"Sya, kamu okey?" tanya Melvin tiba-tiba.


Tasya menoleh melihat Melvin yang masih fokus menyetir. "Hm, I'm fine."


"Ini semua juga keinginan Mama kamu kan,Mama kamu mau kamu pindah ke kampus yang lebih baik, kamu juga tidak sendiri karena aku ikut pindah, selama di sana aku akan menjadi sosok Kakak yang menjaga adiknya."


Sebenarnya Melvin begitu menyukai Tasya. Tetapi ia sadar jika perasaan tidak bisa di paksakan. Tasya memiliki pacar dan ia menghargai itu.


Tasya terkekeh sendiri saat mendengar ucapan Melvin. "Sejak kapan kamu jadi Kakak ku hah? Kita kan hanya seumuran, hanya berbeda bulan saja."


Semenjak aku sadar jika tidak bisa memiliki kamu, Sya, batin Melvin.

__ADS_1


"Ya sejak kita menjadi bagian dari keluarga, kamu sendiri yang bilang kita ini keluarga," ujar Melvin yang mencoba mengalihkan perasaannya sendiri.


Tasya menoleh menatap Melvin yang saat ini sedang fokus menyetir. Entah sejak kapan ia begitu nyaman saat dekat dengan Melvin. Kenapa aku baru sadar kalau dia setampan ini, saat orang lain menjauhi ku karena kasus Mama, tapi dia malah menguatkan aku, dia yang selalu ada di sisi ku, batin Tasya.


"Kamu tidak pamit sama pacar kamu, Alex?" tanya Melvin tiba-tiba. Membuat Tasya tersadar dari lamunannya.


Tiba-tiba saja ekspresi wajah Tasya berubah sendu. "Oh dia ... aku sudah putus, mungkin lebih tepatnya aku di putuskan. Saat dia tau Mama terlibat kasus kriminal dia dan bahkan teman-teman ku menjauhi ku. Aku tidak menyangka mereka seperti itu, saat aku menceritakan semuanya kepada Mama, Mama meminta ku untuk pindah saja keluar negeri."


"Oh jadi itu alasannya kamu mau pindah ke Melbourne. Kenapa k tidak pernah menceritakan hal ini kepada ku?" tanya Melvin.


"Aku malu Vin, aku sebenarnya tidak enak sama kamu dan Kak Rey. Karena Mama, Kamu hampir kehilangan Kak Rey. Aku pikir kamu akan membenciku tapi kamu malah merangkul ku, menguatkan aku. Terimakasih," lirih Tasya.


Entah mendapatkan keberanian dari mana. Tangan Melvin meraih tangan Tasya dan langsung di genggamannya dengan erat. "Kamu tidak salah, kamu tidak perlu memikirkan orang-orang yang pergi meninggalkan kamu. Cukup lihat kami yang masih ada untuk kamu."


Tasya nampak kaget melihat Melvin menggenggam tangannya. Detak jantungnya pun sudah tidak beraturan. "Vin, tangan kamu."


Melvin yang akhirnya sadar langsung menarik tangannya kembali. "Oh maaf, aku tidak bermaksud apa-apa. Kamu jangan salah paham ya, aku benar-benar tidak sengaja," ucap Melvin yang nampak kaget. Ia takut membuat Tasya tidak nyaman.


"Kamu kenapa berlebihan sekali, aku tidak mungkin berpikir seperti itu ... Vin kamu benar-benar hanya menganggap aku adik?" tanya Tasya tiba-tiba.


Melvin terlihat semakin gugup karena di berikan pertanyaan seperti itu. "Ya te-tentu saja


Aku sudah menganggap kamu adikku sendiri."


"Oh ternyata seperti itu," ucap Tasya yang nampak kecewa dengan jawaban Melvin.


Tasya kembali menatap nanar kearah jendela mobil. Entah kenapa ia merasa kecewa dengan jawaban Melvin padahal selama ini ia hanya menganggap Melvin sebagai temannya.


Melvin sendiri nampak kebingungan karena Tasya yang tiba-tiba nampak murung.


Kenapa dia tiba-tiba seperti itu, apa aku salah bicara, batin Melvin.

__ADS_1


Bersambung πŸ’•


__ADS_2