
Setelah kejadian itu, Elisa nampak masih syok. Ia bahkan tidak sekalipun melepaskan Raffa dalam pelukannya. Padahal bayi kecil itu sudah tertidur lelap.
Tak lama Reynald datang membawa nampan berisi makanan untuk sang istri yang juga kehilangan nafsu makannya setelah mendapatkan kiriman tikus dari orang tidak di kenal.
Perlahan Reynald mendekat, duduk di tepi ranjang dan meletakkan nampan itu di atas meja lampu tidur. "Sayang, ayo pindahkan Raffa ke tempatnya dulu ya, kamu juga harus makan."
Elisa mulai bergerak perlahan, turun dari atas tempat tidur dan langsung melangkah menuju box bayi yang ada di ruangan itu. Di letakkanya Raffa perlahan dan di selimuti.
Setelah selesai ia kembali menghampiri suaminya dan ikut duduk di tepi ranjang. "Aku tidak mau makan, Rey. Aku masih memikirkan siapa orang yang telah mengirim bangkai tikus itu untuk ku."
Reynald merangkul pundak istrinya perlahan. "Kamu jangan memikirkan itu ya, mungkin hanya orang iseng saja. Aku akan terus melindungi kamu dan Raffa, tenang saja."
Reynald meraih piring berisi nasi dan lauk pauknya dari atas meja. "Sekarang Istri ku harus makan, jangan sampai sakit. Ayo buka mulutnya." Ia menyodorkan sesendok nasi ke depan mulut Elisa.
Elisa membuka mulutnya perlahan dan langsung melahap nasi di atas sendok itu. Dalam situasi seperti ini ia tidak bisa bersedih terlalu lama karena ada sang suami yang selalu setia mensupportnya dan ada Raffa yang menjadi sumber kebahagiaannya.
"Sepertinya pengamanan Mansion harus di perketat. Aku tidak mau kejadian ini terulang lagi." Elisa menatap suaminya dengan raut wajah khawatir yang kembali terlihat.
Namun Reynald hanya tersenyum seraya menepuk pelan kepala sang istri. "Kamu tenang saja ya, suami siaga mu ini sudah bergerak cepat untuk hal itu. Tadi aku sudah minta ke petugas keamanan untuk memperketat penjagaan dan selalu meninjau CCTV."
"Benarkah, syukurlah kalau begitu aku sangat khawatir jika sampai ada orang yang ingin mencelakai keluarga kita apa lagi Raffa." Elisa bisa bernapas lega setidaknya sedikit. Meski ia belum bisa lega seratus persen.
"Tidak akan pernah terjadi hal apapun, aku ada di sini tenang saja." Reynald meletakkan piring nasi itu dan memeluk sang istri. Meski sejujurnya ia juga khawatir tetapi dalam situasi seperti ini, ia harus tetap terlihat kuat dan tenang.
__ADS_1
...**...
Sekitar pukul sepuluh malam, Reynald keluar dari kamar setelah Elisa tertidur. Ia melangkah menuruni tangga menuju lantai dasar. Di lihatnya Eva yang tengah duduk melamun di sofa ruang keluarga.
Reynald pikir, Eva pasti mempunyai firasat yang sama dengannya. Meski ia tidak yakin tetapi ia harus bertanya untuk memastikannya. Ia melangkah cepat menuruni tangga dan langsung menghampiri Eva.
"Tante, masih belum tidur?" Reynald melangkah duduk di depan Eva.
Sontak Eva langsung tersadar dari lamunannya. "Eh kamu, Rey. Iya Tante tidak bisa tidur karena memikirkan kejadian tadi siang. Elisa terlihat sangat syok tadi, bagaimana keadaan dia sekarang?"
"Dia sudah tertidur Tante, sepertinya sudah lebih tenang ... aku tiba-tiba saja mencurigai satu orang tapi ini hanya pikiran ku saja, apa mungkin kalau orang yang mengirim paket itu, Sofia?"
Mendengar hal itu Eva langsung menegapkan posisinya. "Tante juga berpikiran sama. Sewaktu Tante di tahan, dia sempat datang. Tante meminta dia untuk berhenti dan melupakan kamu, tapi sepertinya dia tidak kapok juga."
"Kamu tahu, Sofia dan Elisa itu mempunyai masa lalu yang saling berkaitan. Dulu Mama Sofia adalah wanita yang sudah menjadi orang ketiga dalam hubungan orang tua Elisa. Mereka dulunya sahabat kecil, tapi karena masalah itu akhirnya mereka saling membenci satu sama lain, ini semua karena ulah Tante juga ... Tante sangat menyesal, andai waktu bisa di putar kembali, Tante ingin memperbaiki semuanya."
"Jangan kamu, biar Tante saja ... dan untuk masalah waktu itu antara kamu dan Sofia, apa kamu sudah menceritakan semuanya kepada Elisa, tentang hal apa saja yang terjadi malam itu di apartemen?"
"Aku belum menceritakannya, Tante. Aku khawatir Elisa berbuat nekad. Biarkan saja semua berlalu semua sudah masalalu. Tapi jika sekarang dia kembali mengusik keluarga ku, aku tidak akan diam saja."
"Kamu tenang saja, Tante yang akan menemui Sofia. Kamu tenang kan saja Elisa dan jaga anak kamu ya."
"Baik Tante. Terimakasih."
__ADS_1
~
Di sebuah club malam, Sofia yang sedang frustasi untuk pertama kalinya menerima ajakan teman kerjanya untuk pergi ke sebuah club malam.
Temannya kerjanya itu bernama, Niko. Ia sudah sangat sering mengajak Sofia berkencan tapi tidak di tanggapi oleh Sofia, kali ini ia mendapatkan kesempatan dan tidak akan dia sia-siakan.
"Ayo minum lah, Sof. Kamu harus menikmati hidup mu. Jangan pikirkan yang membuat stres," ucap seorang pria kepada Sofia.
"Aku tidak biasa minum begituan Nik, kamu saja." Sofia menggeser gelas itu. Meski ia berada di tengah keramaian tetapi ia masih memikirkan bagaimana ekspresi Elisa saat menerima paket darinya.
"Kamu mikirin apa sih, Sof. Ceritakan padaku aku akan membantu kamu apapun itu," ujar Niko lalu kembali tersenyum kepada Sofia.
"Apa benar kamu akan membantu ku, apapun itu?" tanya Sofia memeperjelas.
"Tentu saja." Niko berpindah tempat duduk ke samping Sofia dan langsung membelai rambut pirang Sofia. "Kamu tau, aku sudah menyukai kamu sejak lama. Aku akan melakukan apapun untuk membantu kamu, jadi malam ini ayo kita berpesta."
Niko kembali menyodorkan minuman itu ke hadapan Sofia. Dulu, sedikit pun ia tidak pernah menyentuh minuman haram itu tetapi kali ini hatinya mulai goyah, pendiriannya mulai runtuh.
Baginya hidupnya sekarang sudah hancur. Lalu untuk apa lagi menjadi orang yang sok suci. Perlahan tangannya bergerak meraih gelas kecil itu dan langsung meneguk isi gelasnya hingga habis.
Niko tersenyum menyeringai dan kembali menuangkan minuman untuk Sofia. Setelah beberapa gelas akhirnya Sofia mulai mabuk, ia berdiri dari posisi duduknya dan langsung melangkah ke tengah kerumunan orang.
Sofia menari-nari seolah kehilangan jati diri. Ya, mungkin memang ia sudah kehilangan jati dirinya. Semenjak karma menarik semua kebahagiaan yang ia miliki.
__ADS_1
Niko yang terlihat begitu senang karena Sofia telah terpengaruh, ikut beranjak dari posisinya dan menari bersama Sofia. Dalam keadaan mabuk seperti ini, ia memanfaatkan kesempatan untuk meraba setiap inci tubuh Sofia yang dulu hanya bisa ia pandangi.
Bersambung π