
Elisa dan Viola pulang bersama, saat ini mereka duduk saling bersebelahan di kursi belakang mobil. Elisa tidak henti-hentinya menatap kearah Viola, hingga membuat Viola merasa kurang nyaman.
"Ehm, Nona kenapa melihat saya seperti itu?" Viola berucap tanpa menoleh kearah Elisa.
"Tidak apa-apa, aku tidak menyangka kamu akan sedekat itu dengan Kak Jack, aku bisa lihat jika kamu menyukainya, iya kan?" Elisa mendelik tajam kearah Viola.
Wajah Viola seketika berubah merah. "Entahlah, Nona. Saya juga belum yakin perasaan saya ini cinta atau apa, tapi saya nyaman berada di dekatnya."
"Hm, itu sama persis yang dulu aku rasakan saat pertama kali menyadari perasaan ku kepada Reynald. Semakin hari kamu akan semakin yakin jika kamu sedang jatuh cinta," ucap Elisa lalu tersenyum kepada Viola.
"Saya sangat terharu dengan perjuangan cinta Nona dan Tuan. Semoga saja kelak saya juga mendapatkan pasangan seperti Tuan Reynald. Kalau memang Kak Jack orangnya kenapa tidak."
"Haha, bagus-bagus. Sekarang kita kembali ke pekerjaan. Bacakan jadwal ku pagi ini, aku harus pulang kantor sebelum jam tiga sore, kasian Raffa jika terlalu lama di tinggal."
"Nona antar saya pulang dulu, saya bahkan belum mandi. Ini masih pakaian yang kemarin saya pakai."
"Sudah tidak perlu, kamu mandi di kantor saja, di ruangan ku banyak baju ganti dan juga alat make up lengkap di sana."
"Ah benar juga, baiklah, Nona."
~
Sesampainya di kantor, Elisa langsung melangkah menuju ruangannya bersama dengan Viola. Setiap ia masuk, pasti semua mata tertuju padanya.
Setelah menyandang gelar Ibu, Elisa semakin mempesona. Tak jarang banyak pemilik perusahaan lain yang bekerja sama dengannya mengagumi dan ingin memiliki Elisa yang sudah jelas-jelas mempunyai suami.
Seperti lagi ini, saat akan masuk kedalam lift. Seorang petugas keamanan menghampirinya dengan membawa satu buket bunga dan juga sebuah kotak hadiah. "Maaf Nona, ada kiriman bunga dan juga hadiah untuk anda dari CEO perusahaan NC group.
__ADS_1
Elisa hanya melihat kotak itu sebentar kemudian kembali ke posisinya semula. "Berikan kotak itu kepada Viola saja aku Pak."
Sontak saja Viola langsung membulatkan matanya. "Saya, Nona?" Viola menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan.
"Iya kamu saja yang ambil." Elisa melangkah masuk kedalam lift setelah pintu lift terbuka. Viola segera mengambil kotak hadiah dan juga buket bunga itu dari tangan petugas keamanan lalu melangkah masuk kedalam lift.
Pintu lift tertutup....
"Berani-beraninya pria hidung belang itu mencoba untuk menggoda ku, sudah tua tidak sadar diri, apa dia tidak memikirkan anak istrinya. Apa dia tidak tahu aku ini sudah menikah dan punya anak," ucap Elisa kesal.
"Hal seperti ini sudah sangat sering terjadi, Nona. Banyak sekali di berita pebisnis yang saling berselingkuh. Atau seorang atasan yang berselingkuh dengan sekertarisnya, dunia ini memang tidak bisa di tebak," tutur Viola.
"Ya! Kau kira aku wanita yang seperti itu?" tanya Elisa seraya mendelik tajam kearah Viola.
Viola menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tentu saja tidak, Nona. Saya tau anda sangat setia kepada Tuan."
"Batalkan kerja sama kita dengan NC group. Aku tidak sudi bekerja sama dengan laki-laki buaya darat seperti itu dan satu lagi, kirim balik hadiah itu dan juga surat pembatalan kontrak kerja sama antar perusahaan.
"Aku yakin, pokoknya aku mau semua di batalkan."
Pintu lift terbuka...
Elisa melenggang pergi meninggalkan Viola yang masih diam mematung di tempatnya.
...**...
"Waktunya makan siang, ayo istirahat dulu!" seru Jack kepada semua karyawan bengkel.
__ADS_1
Semua karyawan berhambur menghampiri Jack yang tengah berdiri di depan meja yang di atasnya terdapat nasi kotak seperti biasa. "Ayo makan dulu," ucap Jack seraya membagikan nasi kotak itu kepada semua karyawan.
Setelah semua kebagian, Jack mengambil dua kotak untuk dirinya sendiri dan juga Reynald yang ada di bagian dalam ruko.
Jack menghela napas panjang, saat mendapati Reynald tengah menghitung stock oli dan juga peralatan bengkel lainnya. "Makan dulu bos ku ... lagian ngapain juga kamu yang ngitungin itu, Rey. Seharusnya kamu tinggal duduk manis sambil ngitungin duit."
Reynald menghentikan aktivitasnya dan melangkah menghampiri Jack. Ia duduk di seberang meja lalu meraih sebuah tisu untuk membersihkan keringat di dahinya. "Sudah jadi bos tapi bukan berarti harus duduk santai. Kamu tahu aku punya cita-cita, mempunyai bengkel mobil di setiap kota yang ada di negara ini."
"Ya, aku tau tuan muda Reynald yang terhormat. Makan dulu deh, biar nggak oleng." Jack mengambil satu kotak nasi.
Reynald memperhatikan Jack yang terlihat begitu lahap saat makan. "Jack, kamu apa masih beta bekerja di bengkel ini dengan ku?"
Jack menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap Reynald yang sedang duduk di hadapannya. "Kenapa kamu ngomong gitu, tentu saja aku betah, Rey. Aku sudah ikut bekerja dengan kamu sejak kamu memutuskan untuk membuka usaha ini, kita sudah melaui banyak hal bersama, apa sekarang kamu ingin memecat ku?"
"Bukan begitu Jack, aku memikirkan masa depan kamu. Aku tau kamu menyukai Viola dan jika kamu memang serius dengannya, aku mau usaha kita ini semakin besar, aku mau kita bekerja semakin keras. Agar kelak keluarga kamu mempunyai kehidupan yang layak, aku mau kamu juga hidup enak dan membuat ibu dan bapak kamu bangga."
Tiba-tiba saja Jack di selimuti rasa haru yang teramat sangat. Ia tahu temannya itu sangat perhatian kepadanya tetapi ia tidak menyangka jika Reynald akan memikirkan masa depannya.
Jack berdiri dari posisinya dan langsung duduk di samping Reynald, ia menatap Reynald sebentar dan langsung memeluknya. "Terimakasih sahabat ku, kamu memang yang terbaik. Aku saja belum memikirkan masa depan ku sendiri, tapi kamu sudah memikirkannya."
Reynald yang di peluk seperti itu sontak meronta minta di lepaskan. "Hey bayi besar, cepat lepaskan aku, tidak enak di lihat karyawan lain. Nanti aku di kira belok lagi, ayo lepaskan aku." Reynald mencoba melepaskan diri namun Jack malah mempererat pelukannya.
"Aku mencintai kamu Rey!!" Pekik Jack tiba-tiba.
"Ya!! Kau ini membuat ku malu saja, aku tidak mencintaimu, menyingkirlah dari ku."
Jack melepaskan pelukannya dan menatap Reynald dengan ekspresi sedih yang di buat-buat. "Rey, kau membuat ku patah hati, tapi tidak apa-apa aku akan tetap menyayangi mu, hahaha!" tawa Jack terdengar begitu renyah karena berhasil membuat Reynald kelabakan.
__ADS_1
"Najis!!" Teriak Reynald yang malah membuat Jack dan karyawan lain yang melihat tertawa semakin kencang.
Bersambung π