
Sofia kembali pulang ke rumah dengan perasaan marah dan kecewa. Ia pikir hubungan Elisa dan Reynald hanya akan bertahan sementara, mengingat watak keras Elisa yang tidak sembarang orang bisa mengerti.
Namun ternyata dugaannya salah. Melihat kemesraan sepasang suami istri itu di depan banyak orang membuatnya merasa jika kehadiran Elisa benar-benar sebuah ancaman besar untuknya.
Sesampainya di depan halaman rumah, ia mengerut keningnya melihat mobil mewah terparkir di sana. Ia memperhatikan mobil itu karena terlihat sangat tidak asing baginya. "Ini kan ...." Sofia melangkah cepat masuk kedalam rumah, dan ternyata dugaannya benar. Eva sedang duduk di sofa ruang tamu bersama sang Mama.
Menyadari kedatangan Sofia. Eva menoleh kearah pintu dan melambaikan tangannya kepada Sofia. Ia tidak akan menyerah begitu saja hanya karena di tolak satu kali.
Sofia yang masih berada di ambang pintu, melangkah perlahan menuju ruang tamu. Mamanya terlihat senang karena bertemu Eva setelah sekian lama, di lihatnya sebuah paper bag merk tas ternama tergeletak di atas meja, ia tahu Mamanya senang karena hal itu.
"Akhirnya kamu datang juga Sof, kamu ingat Tante Eva kan di--"
"Tentu saja Sofia ingat Ma, kami sudah bertemu beberapa hari yang lalu secara ... tidak sengaja," sahut Sofia tiba-tiba, ia menatap Eva dengan tatapan yang susah untuk di artikan.
"Oh ya, jadi sebelumnya sudah bertemu
Kok tidak bilang Mama," ujar Mama.
"Kami tidak sengaja bertemu dan aku mengenali putri mu, dia tumbuh sangat cantik dan mirip seperti kamu," sanggah Eva kepada Mama Sofia.
Sofia beranjak duduk di samping Mama. Tatapan matanya tak pernah lepas dari wanita paruh baya yang sifat liciknya tidak pernah berubah sepanjang jaman.
~
Setelah obrolan yang cukup panjang. Sebelum pulang, Eva meminta Sofia untuk bicara berdua dengannya di halaman depan.
"Bagaimana, apa kamu sudah memikirkan tawaran tante waktu itu?"
Andai tadi ia tidak melihat Elisa dan Reynald di Mall mungkin ia masih bisa menahan diri, namun kali ini ia nampak berpikir dan merasa telah goyah. Aku hanya menginginkan dia kembali padaku, tapi hanya dengan cara ini? Maafkan aku, Rey, batin Sofia.
"Apa rencana tante untuk memisahkan mereka," ucap Sofia pada akhirnya.
Eva tersenyum senang, hatinya bersorak gembira karena akhirnya mendapatkan umpan yang tepat.
...**...
Senin pagi, Elisa kembali beraktivitas seperti biasa. Hari ini ia di jemput oleh Viola, mereka berangkat ke kantor bersama karena Reynald berangkat pagi-pagi sekali untuk survey tempat untuk usaha barunya bersama Jack.
"Nona sudah baikan, siang ini jadwal kita cukup padat loh," ucap Viola yang tetap fokus menyetir.
__ADS_1
"Iya sudah, aku ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat. Kandungan ku sudah memasuki empat bulan, dua bulan lagi aku ingin cuti dan menghabiskan waktu bersama suami ku," ujar Elisa dengan wajah sumringahnya.
"Apa surat perjanjian-perjanjian itu sudah tidak berguna, kalau iya akan saya buang saja," ujar Viola.
Elisa sampai lupa jika pernikahannya masih terikat dengan kontrak itu. "Berikan padaku surat itu besok, aku memulainya dengan Reynald dan aku juga harus mengakhiri semua itu bersamanya."
"Baik Nona, mungkin saya terkesan sok tahu tapi saya bisa melihat Tuan Reynald tulus mencintai Nona," ujar Viola.
Elisa hanya tersenyum tanpa menanggapi ucapan sekertarisnya itu.
"Tepikan mobilnya," ucap Elisa tiba-tiba saat melihat seorang pemuda yang tidak asing sedang terduduk lemas di trotoar.
Viola segera menepi dan menoleh kebelakang melihat sang bos. "Ada apa Nona, apa ada yang tertinggal?"
"Bukan itu, kamu lihat pemuda yang ada di sana, bukannya itu Melvin," ujar Elisa.
Viola mengalihkan pandangan ke arah telunjuk Elisa. "Oh iya Nona, itu Adik Tuan Reynald kan?"
Tanpa menunda waktu, Elisa beranjak turun dari dalam mobil lalu di susul oleh Viola.
"Melvin!" seru Elisa seraya melambaikan tangannya.
Melvin yang sejak tadi tertunduk sontak langsung berdiri dari posisinya dan langsung menghampiri Elisa. "Kak El, ngapain di sini?"
"Oh itu kak, motor ku bannya bocor," jawab Melvin.
"Kalau begitu ikut aku saja, biar aku antar ke kampus ya," ajak Elisa.
"Ti-tidak usah Kak, di depan sana ada bengkel aku akan membawa motor ku kesana tadi aku hanya capek jadi istirahat sebentar," ucap Melvin.
"Nanti kamu akan terlambat, kami saja," sahut Viola.
"Kalau begitu aku bawa motor ku dulu ke bengkel itu, baru ikut mobil Kak El," ujar Melvin.
"Baiklah, aku tunggu kamu di sini," ucap Elisa.
~
Dalam perjalanan menuju kampus. Elisa banyak bertanya tentang kehidupan masa kecil sang suami, dari cerita adik iparnya itu ia bisa mengambil kesimpulan bahwa Reynald memang orang yang bertanggung jawab sejak dulu.
__ADS_1
"Aku sangat berterimakasih ke Kak Rey, sebenarnya jika di banding aku kakak lebih pantas untuk melanjutkan sekolah, karena dia murid yang pintar, sementara aku biasa saja," tutur Melvin.
"Jangan kecewakan kakak kamu Vin, mulai sekarang kamu kamu bisa bergantung dengan ku juga," ujar Elisa.
"Terimakasih kak, aku tidak menyangka bisa punya kakak ipar yang sangat cantik dan juga kaya, Kak Rey terlalu beruntung bukan," ucap Melvin yang bahkan tak berani menatap Elisa.
"Oh iya, apa kamu bisa menyetir mobil?" tanya Elisa tiba-tiba.
"Hah sebenarnya bisa, dulu saat Kak Reynald sedang keluar aku sering mencuri-curi kesempatan untuk memakai mobil customer, tapi sekarang aku sadar cuma karena ingin bergaya aku bisa saja membuat Kak Rey susah," tutur Melvin.
"Apa kamu mau mobil baru?" tanya Elisa lagi.
"A-apa mobil baru!"
Beberapa menit kemudian, di sebuah showroom mobil yang sudah menjadi langganan keluarga kalangan atas seperti , Eduardo.
Melvin terperangah tak percaya saat melihat deretan mobil yang terpajang di showroom itu.
"Kamu pilih yang paling kamu suka, anggap saja hadiah perkenalan dari kakak ipar mu," ujar Elisa saat menoleh menatap Melvin.
"Tapi kak ini ... sangat mahal," ujarnya dengan nada lemah.
"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi jika kamu belum memilih satu mobil, kalau aku yang pilih maka aku akan pilih yang di sana. Mobil itu adalah keluaran terbaru," ujar Elisa seraya menunjuk satu mobil sport berwarna merah dengan harga milyaran.
"Jangan Kak, aku tidak percaya diri. Baiklah aku akan pulang pilih yang paling biasa dan paling murah saja," ucap Melvin.
"Kalau aku di suruh pilih, aku akan minta yang paling mahal Vin," sahut Viola tiba-tiba.
"Kamu diam saja, hadiah mobil bulan lalu apa belum cukup," ucap Elisa sambil menatap Viola tajam.
"Cukup Nona sangat cukup," ucap Viola lalu mundur perlahan.
Mereka mengikuti langkah sales mobil untuk melihat mobil yang paling murah di sana. Saat sampai, Melvin sangat menyukai mobil itu. "Aku mau yang ini saja kak."
"Baiklah kita ambil," ucap Elisa lalu memberi kode kepada Viola untuk mengurus administrasi.
"Kalau boleh tahu, berapa harganya?" tanya Melvin kepada sales itu.
"Mobil import ini adalah mobil dengan harga yang cukup bersahabat, tapi desainnya tidak kalah dengan yang best seller, mobil ini kami bandrol dengan harga satu koma dua milyar di luar pajak," ujar Sales itu.
__ADS_1
"Apa! Satu koma dua ... Milyar," seru Melvin saat mendengar harga mobil itu.
Bersambung π