
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Di sebuah club malam di pusat kota, Sofia sedang menikmati dentuman musik dari DJ yang sedang beraksi malam ini.
Sepertinya ia sudah mulai kehilangan jati dirinya seratus persen. Ia yang dulu tidak menyukai dunia malam kini perlahan mulai masuk dan bahkan sangat menikmatinya.
"Sofia, kamu sudah lama di sini," ucap Niko yang baru saja datang ke tempat itu. Niko memang orang yang suka menghabiskan malam di club tetapi ia bukanlah orang jahat yang suka mencelakai orang.
Sofia meletakkan gelas wine itu lalu menoleh kearah Niko. "Aku akan beraksi malam ini, kamu harus menemani dan membantu ku."
"Sofia, kamu benar-benar akan mecelakai keluarga itu? Masa depan kamu akan hancur, aku tidak akan membiarkan kamu melakukan hal itu." Niko meraih gelas dan menuangkan minuman haram itu di sana. Ia meminumnya sekali teguk seperti biasa.
"Nik, kita ini sama-sama pendosa, jadi kamu jangan munafik." Tangan Sofia mengelus dagu Niko yang di tumbuhi brewok halus. "Aku tahu kamu menginginkan tubuh ku, aku akan memberikannya kapan pun kau mau, asal kamu membantu ku membalas dendam. Kalau pun pada akhirnya aku harus berakhir di jeruji besi, aku tidak akan melibatkan mu."
Niko menghela napas berat seraya memejamkan matanya, kenapa ia semudah itu luluh hanya karena sentuhan fisik dari Sofia. "Apa rencana mu, hah?"
"Ini hanya rencana kecil. Menyakiti mereka secara fisik tidak itu terlalu biasa, aku akan membuat mereka merasakan sakit yang luar biasa secara batin. Aku tidak perduli akan berakhir seperti apa, yang penting mereka juga tidak boleh bahagia."
Niko menatap Sofia dengan lekat. Ia tidak mengerti hal apa saja yang sudah di lalui oleh rekan kerjanya itu hingga menjadi seperti sekarang. Jika boleh memilih, ia ingin menarik semua hal buruk itu dari diri Sofia dan mengubah jalan hidupnya.
Ya, mengubah jalan hidup seseorang sama saja dengan mengubah jalan ninja seorang Uzumaki Naruto yang sudah bertekad untuk menjadi hokage. Itu hanya perumpamaan saja, karena pada dasarnya yang bisa mengubah hal tersebut hanyalah diri mereka sendiri.
...**...
__ADS_1
Reynald dan Elisa sedang bercengkrama seraya menikmati moca latte di tengah malam. Begitu banyak hal yang mereka bahas tentang satu tahun pernikahan. Waktu mereka berdua hanya pada saat malam hari tepatnya saat Raffa sudah tertidur nyenyak.
"Kamu masih ingat pas malam pertama kita setahun lalu, waktu itu saat kamu mabuk, kamu sangat agresif sekali," ucap Reynald lalu terkekeh sendiri.
"Kenapa kamu malah mengingat itu, aku sangat malu tau. Andai waktu bisa di putar dan aku tau pada akhirnya akan jatuh cinta sama kamu, aku tidak akan meminum wine itu. Huh ... aku melewatkan malam pertama kita begitu saja, tanpa menikmatinya."
Reynald melangkah memeluk Elisa dari belakang. "Kamu tahu, aku sangat bersyukur mempunyai istri yang melindungi kesuciannya, terimakasih karena aku adalah orang pertama yang merasakannya."
"Hey jangan cuma aku, bagaimana dengan mu, apa aku juga yang pertama untuk mu. Aku tahu kamu dan Sofia sangat dekat meski tidak pacaran bisa saja kalian sud--" Elisa tidak dapat melanjutkan ucapannya karena mulutku di bekap oleh Reynald.
"Jangan bicara hal yang tidak-tidak. Mungkin kamu tidak akan percaya, tapi aku ini adalah pria yang tidak akan melakukan hal seperti itu di luar pernikahan. Kamu adalah yang pertama untuk ku. Aku cukup merasakannya hanya pada mu, tidak akan ada wanita lain yang bisa memuaskan ku di banding istri ku sendiri."
"Tapi merangkul dan bergandengan tangan sering kan. Jangan mengelak, aku masih menyimpan foto-foto itu, foto kamu di masalalu." Meski membelakangi sang suami, jelas sekali suara Elisa penuh penekanan.
"Yakin? Aku memang tidak punya mantan pacar. Tapi kamu tahu di kantor para karyawan menjuluki ku hot Mommy, aku sering sekali mendapatkan kiriman hadiah dari para CEO perusahaan lain, wah mereka juga tampan," ucap Elisa yang terlihat berusaha menahan tawanya.
Mendengar hal itu, Reynald membalik tubuh istrinya, "Kamu menerima pemberian mereka?"
"Kenapa tidak, itu kan hadiah untuk ku tentu saja harus di terima," jawab Elisa berbohong padahal ia sampai membatalkan kerja sama dengan para CEO gatal itu.
Reynald melepaskan cengkeraman tangannya dari pundak Elisa. Ia nampak tidak bersemangat karena baru saja mengetahui fakta bahwa istrinya menjadi incaran para pengusaha kaya.
__ADS_1
Elisa meraih tangan Reynald lalu tersenyum lebar. "Hey kenapa kamu murung seperti itu, aku hanya berbohong. Aku tidak menerima hadiah dari mereka, malah aku membatalkan kerjasama dengan mereka yang mencoba menggoda ku, aku hanya mencintai kamu mana mungkin aku berpaling."
Reynald menghela napas panjang kemudian memeluk sang istri. "Kamu tau betapa takutnya aku kehilangan kamu. Jangan bercanda seperti itu, aku benar-benar takut tau."
"Maaf, aku hanya ingin mengerjai mu saja." Elisa mengusap punggung sang suami dengan lembut, hingga akhirnya suara ketukan pintu, Elisa melepaskan pelukannya dan beranjak membuka kamar untuk membuka pintu.
Saat pintu terbuka, ia terperangah ketika seorang pelayan membawa sepuluh paper bag dari toko barang import ternama di pusat kota. "Maaf mengganggu, Nona. Ini kiriman dari D*or baru saja sampai tadi."
Elisa memindahkan semua paper bag itu ke tangannya. "Akhirnya pesanan ku sampai juga, aku pikir akan sampai besok. Terimakasih ya, kamu boleh pergi."
"Baik, Nona. Selamat malam." Pelayan itu melangkah pergi meninggalkan Elisa yang masih sibuk memperhatikan paper bag di tangannya.
Reynald menyusul sang istri saat dari balkon ia melihat begitu banyak paper bag yang Elisa bawa masuk.
Elisa meletakkan semua paper bag itu di atas meja sofa yang ada di sana. "Mari kita lihat, apa pesanan ku lengkap semua." Elisa mengeluarkan satu persatu barang dari paper bag itu, ada satu stel jas untuk Reynald dan juga sepatu. Selebihnya untuk dia dan Raffa.
"Sayangbelanja banyak sekali." Reynald melangkah mendekati sang istri seraya melihat semua barang-barang tersebut. "Memangnya ada acara apa, kok tumben sekali. Biasanya kamu belanja sebanyak ini hanya jika ada acara penting kan."
Elisa nampak bingung harus menjawab apa. Ia lupa mempersiapkan alasan yang pas agar Reynald tidak curiga. "Oh ini memang ada acara penting ... kamu, Raffa dan aku akan pergi ke sana besok malam, ini acara yang cukup formal jadi aku membeli pakaian dan juga sepatu untuk kita."
"Acara apa?" tanya Reynald lagi.
__ADS_1
Bersambung π