
Lima hari berlalu, setelah Sofia menikah secara sederhana dengan Niko di kantor urusan agama, tak ada keluarga dari Niko apalagi Sofia yang tidak punya anggota keluarga selain sang
Mama yang saat ini sedang di rehabilitasi, mereka mewati semuanya hanya berdua saja. Mereka berdua pulang ke rumah dengan pengawalan ketat pihak kepolisian.
Pagi ini Sofia terbangun, ia memandangi langit-langit kamarnya dengan tatapan nanar. Ya, akhirnya ia kembali pulang tanpa harus merasakan dinginnya lantai penjara.
Tetapi sedetik kemudian, air matanya mengalir. Saat ia mendapati kenyataan bahwa ia saat ini bagai di dalam sangkar emas. Tidak bisa bergerak bebas, terbelenggu dalam hasil perbuatannya sendiri.
Sofia menyeka air matanya kemudian beranjak turun dari atas tempat tidur. Ia melangkah menuju jendela kamar, di sibaknya tirai jendela itu agar ia dapat melihat matahari hari yang cerah pagi ini.
Lagi-lagi Sofia harus mengelus dada saat yang ia dapati bukannya cahaya matahari yang menyinari tetapi punggung lebar orang suruhan Elisa yang sedang berjaga di depan jendela kamarnya. Ia pun memilih untuk menarik kembali tirai itu.
Niko yang baru saja kembali dari kamar mandi, menghampiri sang istri seraya mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil di tangannya. "Kamu sedang apa di situ, Sof."
Sofia berbalik memandangi sang suami yang sedang berjalan ke arahnya. Ia masih tidak menyangka akan menjadi seorang istri dari pria yang tidak ia duga, bukan Diki sang mantan tunangan apalagi Reynald sang pria impian melainkan Niko, rekan kerja yang dulu selalu ia tolak.
"Apa penjaga itu harus ada di depan jendela kamar ku juga? Aku bahkan tidak bisa melihat cahaya matahari pagi karena terhalang mereka," keluh Sofia saat Niko berada di depannya.
"Sabar saja, ini jauh lebih baik ketimbang kamu harus mendekam di penjara, Sof," ujar Niko.
Sofia melangkah duduk di tepi ranjang. "Ya, aku hanya belum terbiasa. Setidaknya selama sembilan bulan ini aku bisa sedikit bernapas lega, sebelumnya akhirnya berkahir di penjara."
Niko menghela napas panjang kemudian ikut duduk di samping Sofia. "Tenang lah, aku akan selalu mendampingi kamu, aku yakin jika kamu mau berubah, Reynald dan Elisa pasti akan memaafkan kamu."
"Aku tidak mau berharap lebih, aku akan menjalaninya saja. Oh iya kamu tidak bekerja?" tanya Sofia tiba-tiba.
"Ya, kalau kamu sudah merasa baikan, aku akan ke kantor tapi kalau belum, aku akan temani kamu di sini," jawab Niko.
__ADS_1
"Aku sudah baik-baik saja. Karena sekarang aku sudah tidak bekerja, aku hanya bisa berharap sama kamu, Nik." Sofia menundukkan kepalanya, merasa benar-benar putus asa dengan keadaan.
Niko menggerakkan tangannya merangkul sang istri. "Kamu tenang saja, aku berjanji akan bekerja keras untuk kalian. Tapi aku minta satu hal sama kamu, belajarlah menerima keberadaan ku sebagai suami kamu dan juga janin yang ada di rahim kamu sekarang."
Sofia menoleh kearah Niko. Ya, ia bahkan tidak pernah mengucapkan kata cinta kepada suaminya dan saat di rumah sakit ia bahkan berkata tidak menginginkan anak yang ada di rahimnya. Wajar saja jika Niko sekarang memperingatinya.
Namun di luar semua itu. Sofia juga khawatir dengan kehidupan Niko, karena ingin bersamanya, suaminya itu rela di hindari keluarga. "Tapi Nik, bagaimana dengan keluarga kamu. Mereka pasti sangat syok saat mengetahui putranya akan memiliki anak dari seorang narapida."
"Kamu jangan pikirkan itu. Mereka hanya syok saja, lambat laun mereka akan mengerti dan menerima keberadaan kamu dan anakku." Niko bangkit dari posisinya. "Kalau begitu aku siap-siap dulu ya, aku harus ke kantor sekarang."
Sofia menganggukkan kepalanya perlahan. Ia punya waktu sampai bayinya lahir, untuk belajar mencintai Niko. Setidaknya ia harus membuka mata dan melihat seberapa besar usaha suaminya itu untuk membahagiakannya.
...**...
"Aaakkkkk!!!" pekik Elisa yang saat ini sedang di depan meja riasnya. Untung saja Raffa sedang bersama Bi Nini di lantai bawah.
Elisa berbalik menatap sang suami dengan wajah cemberutnya. "Lihat ini, di jidatku ada jerawat besar sekali."
"Astaga, sayang. Kenapa harus histeris sih, aku sampai lari keluar, padahal aku belum selesai mandi, lihat kepala ku saja masih berbusa." Reynald menunjukkan kepalanya kepada Elisa.
"Ini jerawat sangat besar loh, sayang. Kamu tau sehari lagi kita akan ke Melbourne. Masa aku pergi ke sana dengan wajah seperti ini, aku mau berkunjung ke asrama ku dulu, penampilan ku harus sempurna."
Reynald menghela napas panjang kemudian kembali berbalik, melangkah kembali menuju kamar mandi untuk melanjutkan aktivitasnya yang belum selesai. Ia yakin, jika ia terus berada di sana, Elisa akan membahas jerawat itu hingga berjam-jam.
"Sayang, kamu kenapa pergi aku belum selesai bicara!" seru Elisa namun tidak di gubris oleh Reynald.
"Huh sifat aslinya muncul lagi, untung aku sudah terbiasa mendengar teriakannya," gumam Reynald lalu meraih handel pintu toilet untuk masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
Elisa akhirnya menyerah dan kembali berbalik, duduk di depan meja rias untuk meratapi jerawat yang ada di jidatnya. "Aduh ini tidak akan kempes dalam waktu sehari ... apa aku tutupi dengan poni saja, ya aku akan membuat poni, mana gunting ku ya."
Akhirnya sebuah ide muncul di kepala Elisa. Ia membuka laci-laci meja riasnya untuk mencari gunting. Setelah beberapa saat akhirnya ia menemukan sebuah gunting dari dalam lacinya. "Oke, aku pasti bisa membuat poni sendiri." Elisa menyisir sedikit rambutnya di bagian depan.
Elisa terlihat sangat serius saat akan mengunting rambutnya, ia mengukur dengan teliti agar hasilnya tidak mengecewakan. Tetapi ya ekspetasi kadang tidak sesuai kenyataan. Elisa memejamkan matanya saat akan mengunting rambutnya, ketika sudah selesai ia membuka matanya perlahan.
"Aaakkkkk!!!!" pekik Elisa lagi saat dari pantulan cermin, ia bisa melihat poninya malah ke pendekkan.
"Kenapa lagi El?" tanya Reynald yang sudah keluar dari kamar mandi, jika sebelumnya ia belum selesai mandi, kali ini ia sudah benar-benar selesai.
Elisa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Perlahan ia berbalik, menjauhkan tangan dari wajahnya.
"Astaga, kamu potong rambut sendiri?" tanya Reynald yang terlihat kaget saat melihat poni sang istri yang kependekan.
"Iya, tapi malah kependekan, huaaaa." Elisa kembali menutup wajahnya dengan tangan seraya menangis seperti bayi.
Reynald mendekati sang istri lalu menepuk pundaknya perlahan. "Sudah tidak apa-apa, kamu sih kenapa nekat potong sendiri." Reynald berusaha menahan tawanya karena bentuk poni abstrak sang istri benar-benar lucu.
"Antar aku ke salon, sekarang!" teriak Elisa masih dengan menutup wajahnya dengan tangan.
"Siap sayang, sudah jangan nangis lagi ya. Poni kamu itu lucu kok," ucap Reynald.
Elisa mendongakkan kepalanya menatap sang suami. "Lucu apanya? Ini menyeramkan tau!" Elisa menunjukkan kembali poni abstrak itu kepada Reynald.
"Bahahaha," Akhirnya Reynald tidak bisa menahan tawanya, ia tertawa terpingkal-pingkal hingga terduduk di atas lantai kamar.
"Wah lihatlah suami ku, dia memang sangat senang melihat ku seperti ini," ucap Elisa sambil melihat Reynald yang tidak henti-hentinya tertawa. "Hey, berhenti tertawa!"
__ADS_1
Bersambung π