Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.80 (Perjalanan)


__ADS_3

"Untung saja poni kamu masih bisa di selamatkan, aku salut dengan keahlian hair stylist itu," ujar Reynald yang masih saja tertawa karena kejadian pagi tadi.


"Tidak salah salon itu menjadi langganan artis-artis ternama. Hufft, hampir saja aku membatalkan keberangkatan kita gara-gara poni sialan ini," ucap Elisa sambil memperhatikan poni barunya dari kamera ponsel.


"Lain kali jangan nekat, motong bawang saja kamu jarang, apa lagi motong rambut," ledek Reynald.


Elisa yang sejak tadi memperhatikan poninya mendadak menoleh kearah sang suami. "Hey, sekarang aku sudah bisa masak tau, lupa ya. Ya, meskipun cuma yang gampang-gampang."


"Haha, iya deh. Istriku sayang jangan ngambek lagi ya," ucap Reynald sambil mencubit pipi Elisa gemas.


"Aw sakit, sayang." Elisa mengusap pipinya yang di cubit Reynald. Setelah beberapa saat perjalanan, ia mengerutkan keningnya heran karena Reynald berbelok ke kanan, yang seharusnya tetap lurus ke depan. "Loh kita mau kemana, Rey?"


"Nanti juga kamu tau, kita besok akan pergi dari kota ini meski hanya sebentar setidaknya kita harus minta izin," ucap Reynald tanpa menoleh kearah Elisa.


"Minta izin ...maksudnya?" tanya Elisa bingung.


A few moments latter....


Reynald melangkah turun dari dalam mobil dan berdiri di samping sang istri yang tengah menatap nanar kearah depan. "Bisa-bisanya kamu ingat tapi aku malah melupakan hal sepenting ini," ucap Elisa seraya menoleh kearah sang suami.


Reynald tersenyum lalu merangkul sang istri. Saat ini mereka sedang berada di depan pemakaman keluarga Eduardo. Entah sudah berapa lama, yang pasti Elisa menyesal karena tidak berpikir untuk mengunjungi Mama dan Papanya sebelum pergi ke Melbourne.


"Aku belum pernah mengunjungi mereka secara resmi, sayang sekali Raffa tidak ikut. Lain kali aku akan ajak kamu dan Raffa berkunjung ke makam orang tua ku yang ada di luar kota. Ayo, masuk," Reynald menggenggam tangan istrinya lalu melangkah beriringan masuk kedalam area pemakaman.


Sambil terus berjalan menuju makam, Elisa menyeka air matanya tanpa di lihat oleh sang suami. Sungguh ia berterima kasih mempunyai pasangan seperti Reynald yang selalu mengingatkannya tentang banyak hal.


Mama, Papa aku datang bersama seseorang yang sangat aku cintai. Dia orang yang sangat baik dan bertanggung jawab. Aku yakin aku sudah menemukan cinta sejati ku dalam dirinya, batin Elisa.

__ADS_1


~


Hari ini adalah hari keberangkatan rombongan Elisa dan Reynald ke, Melbourne Australia. Semua berkumpul di Mansion untuk berangkat bersama ke bandara kota A. Ya, Private jet sudah menunggu mereka di lapangan terbang bandara kota tersebut.


Penerbangan kali ini akan memakan waktu sekitar enam jam hingga tujuh jam jika tidak terkendala cuaca buruk. Dua mobil Alphard yang membawa rombongan Elisa sudah sampai di depan bandara internasional kota A.


Setelah semua koper di ambil alih oleh petugas bandara, mereka di tuntun menuju sebuah pintu khusus menuju lapangan tempat private jet itu menunggu mereka. Saat pesawat high clas itu mulai terlihat, semua nampak terpana. Ya, tentu saja Elisa dan Tante Eva sudah biasa.


"Aku baru pertama kali melihat pesawat pribadi seperti ini, istri kamu memang luar biasa, Rey," bisik Jack pada Reynald. Sementara itu Reynald tidak bisa berkata-kata, karena ia pun baru pertama kali melihat pesawat seperti itu dan sekarang akan menaikinya.


Begitu juga dengan Bi Nini dan Viola. Jika Viola sudah biasa naik pesawat kelas ekonomi saat kuliah di Jepang, maka Bi Nini belum pernah merasakannya. "Vio, gimana kalau pesawatnya jatuh," bisik Bi Nini pada sang putri.


"Apasih, Bu. Berdoa saja semoga kita semua selamat sampai tujuan." Viola mempercepat langkahnya agar bisa berjalan beriringan dengan Jack. "Kak Jack, gugup ya, mukanya sampai pucat gitu?"


"Ahaha, sedikit. Aku belum pernah naik pesawat jadi begitu lah," jawabnya.


"Iya, tenang saja, aku tidak takut kok hehe," ucapnya dan tetap mencoba tersenyum kepada Viola padahal ia sangat gugup.


"Ayo semuanya, naik," ajak Elisa kepada semua rombongan. Ia melangkah naik terlebih dulu lalu di ikuti yang lain.


Saat akan ikut naik ke pesawat, Reynald menghentikan langkahnya saat melihat Jack masih diam mematung di depan tangga. Ia pun akhirnya menghampiri sahabatnya itu. "Kamu ngapain?" tanya Reynald saat melihat Jack mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Oh ini, aku takut mabuk perjalanan. Jadi kemarin aku beli obat anti mabuk di minimarket dekat bengkel," ujar Jack sambil menunjukkan obat itu kepada Reynald.


Reynald menepuk jidatnya sendiri seraya menggelengkan kepalanya. "Astaga, jangan malu-maluin deh, nggak bakal mabuk, ini bukan angkot. Ayo naik ah." Reynald menarik tangan Jack naik ke pesawat itu.


Setelah beberapa menit persiapan, akhirnya private jet tersebut take off meninggalkan lapangan bandara internasional kota A. Jika tidak ada perubahan, mereka akan berada di Melbourne selama sepekan.

__ADS_1


Saat pesawat sudah sampai di ketinggian pesawat terbang 50.0 feet, dimana saat itu udara dalam keadaan stabil dan sudut penanjakan yang konstan. Elisa menoleh kearah Jendela, memandangi awan-awan yang terlihat begitu lembut dan putih seperti kapas.


Suara riuh dari kursi belakang membuat fokus Elisa terlihkan. Ia tekekeh melihat Jack dan sang suami mulai bertingkah konyol. Ia merasa senang akhirnya tidak lagi terbang sendiri, kini sudah ada keluarga yang menemani perjalanannya.


Satu tahun yang lalu, tepatnya saat ia mendapatkan kabar kematian sang Papa, ia juga terbang menggunakan pesawat itu, namun bedanya saat itu ia merasakan kehampaan, hanya ada pilot, copilot dan dua orang pramugari yang terasa begitu asing baginya.


Dulu ia pikir, hidupnya akan terus berada di lingkaran itu. Namun nyatanya takdir selalu menempatkan kebahagiaan di batas keputusasaan. Hari ini adalah pembuktiannya, ia bisa kembali ke Melbourne dengan di temani orang-orang terkasih tidak lagi sendiri.


Reynald yang sedang mengobrol dengan Jack dan yang lain, kembali duduk di samping Elisa yang terlihat hanya diam sejak tadi seraya menidurkan Raffa.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Reynald.


"Oh tidak apa-apa. Aku hanya senang, akhirnya bisa kembali ke Melbourne bersama kalian. Hampir separuh hidup ku aku habiskan di sana, sendiri tanpa teman apalagi keluarga," ujar Elisa lalu tersenyum kepada sang suami.


Reynald membalas senyuman Elisa, lalu memeluknya. "Kamu tidak akan pernah merasakan kesepian itu lagi, aku janji."


"Terimakasih, Sayang. Kamu tau sejak umur dua belas tahun, aku sudah tinggal di salah satu asrama sekolah wanita di Melbourne. Di saat semua orang punya teman sekamar, aku meminta untuk punya kamar sendiri, pribadi ku yang dulu ceria mendadak menjadi sosok yang introvert. Aku mengucilkan diri ku sendiri." Elisa nampak berkaca-kaca saat menceritakan kehidupannya di masa-masa sekolah.


Reynald mengecup kepala sang istri. "Seharusnya kita bertemu lebih cepat, kamu sudah begitu lama kesepian. Aku punya cara agar kebahagiaan kita semakin lengkap."


"Apa itu?" tanya Elisa heran.


"Selama di sana, kita harus berusaha keras untuk membuat Raffa punya adik. Aku yakin keluarga kita akan semakin ramai. Aku janji tidak akan sebanyak anak Gen petir, setidaknya empat anak sudah cukup," ucap Reynald berbisik hingga membuat Elisa membulatkan matanya.


"Kamu mulai lagi ya, Raffa lagi lucu-lucunya begini, nanti saja pokoknya," ucap Elisa seraya menatap tajam kearah Reynald.


"Hehe, aku hanya bercanda. Kamu serius sekali sih, sayang." Reynald kembali memeluk Elisa yang sedang menggendong Raffa di pangkuannya.

__ADS_1


Bersambung 💕


__ADS_2