
Hari ini Elisa dan keluarga pergi berlibur ke salah satu destinasi kota Melbourne. Sesampainya di lokasi mereka sudah berjanji akan bertemu dengan maura dan keluarganya. Jika semua nampak senang, beberda dengan Tasya yang terlihat lemas.
Tasya masih belum melupakan kejadian kemarin, di mana Maura langsung memeluk Melvin. Ya, budaya barat memang berbeda, karena hal seperti itu sudah biasa, namun lagi-lagi jika menyangkut masalah hati, wanita selalu benar.
"Melvin!" pekik Maura dari kejauhan saat melihat kedatangan Elisa dan yang lainya. Ia dan kedua orangtuanya pergi menghampiri rombongan itu.
"Kami pikir Tante tidak jadi datang," ujar Elisa pada Mama Maura.
"Kami sudah berjanji, tentu saja kami harus datang," jawabnya.
Melihat kedatangan Melvin, Maura yang langsung melangkah cepat menghampiri Melvin. Namun nyatanya tidak semudah itu saat pacar posesif mulai overprotektif. Ya, Tasya bergerak lebih cepat mengalungkan tangannya di lengan Melvin.
__ADS_1
"Hy Maura, nice to meet you." Tasya mengulurkan tangannya kehadapan Maura yang nampak kebingungan. "Perkenalkan, aku Tasya PACAR Melvin, kita juga satu kampus aku jurusan manajemen bisnis."
Maura terlihat kecewa saat mengetahui bahwa Melvin sudah mempunyai kekasih. Namun ia tetap berusaha tersenyum dan meraih uluran tangan Tasya padanya. "Oh iya, nise to meet you to, Melvin tidak pernah cerita kalau dia punya pacar." Maura menatap Melvin penuh harap, entah apa yang ia harapkan dalam hatinya.
"Oh itu, aku memang tidak terbuka dengan kehidupan pribadi ku ... ehm bagaimana kalau kita jalan-jalan ke pinggir sungai sana." Melvin menoleh kearah Tasya kemudian meminta persetujuan anggota keluarga yang lain.
"Bibi sama Raffa mau di cafe itu saja, tidak kuat jalan lama," ujar Bi Nini.
"Baiklah kalau begitu kita saja, sepertinya pemandangan di jembatan di sana sangat indah," ujar Elisa seraya mengalungkan tangannya di tangan Reynald.
Tangan mereka saling menggenggam erat. Elisa menoleh kearah sang suami yang terlihat sangat bersemangat hingga tidak henti-hentinya tersenyum. Tiba-tiba Elisa menghentikan langkahnya tepat di tengah jembatan, membuat Reynald juga berhenti dan beralih menatap sang istri.
__ADS_1
"Kenapa kita berhenti di sini?" Reynald terlihat begitu penasaran karena ekspresi wajah sang istri sangat berbeda.
Elisa melangkah menuju besi pembatas bersama Reynald. Sejenak ia tertegun memandangi air sungai yang mengalir tenang. "Aku pernah berada di titik terendah dalam hidup ku, dan jembatan ini menjadi saksinya. Kamu tahu aku pernah mencoba untuk loncat dari jembatan ini karena depresi, tapi orang asing menghentikan ku dan membawa ku di rumah sakit."
"Dalam keadaan tidak sadarkan diri aku bermimpi Mama mengatakan bahwa suatu saat aku bisa melewati semuanya dan kebahagiaan itu akan datang. Aku kembali bangkit dan mencoba menjalani semuanya tanpa memperdulikan siapapun. Huft, sekarang aku lega semuanya sudah berakhir, aku punya keluarga yang menyayangi ku, punya suami yang mencintai ku dan punya anak yang melengkapi semuanya," sambung Elisa.
Reynald menatap wajah sang istri yang nampak lebih jelas karena rambutnya tertiup angin. Ia bisa melihat luka itu kembali yang tergambar jelas di wajah sang istri. Sungguh sebagai suami yang belum tahu banyak hal tentang sang istri, ia merasa bersalah karena tidak datang lebih cepat di hidup Elisa, ya ia tidak bisa menyalahkan waktu dan keadaan, ia hanya bisa berandai.
"Maaf aku," ujar Reynald tiba-tiba membuat Elisa menoleh kepadanya.
"Maaf? ... Untuk apa," tanya Elisa bingung.
__ADS_1
"Seharusnya kita bertemu lebih cepat, seharusnya kita saling jatuh cinta lebih cepat dan seharusnya kamu tidak perlu melewati cobaan yang begitu berat sendiri tanpa teman, keluarga dan pasangan, mulai sekarang aku berjanji sampai tua nanti aku tidak akan pernah berubah, jika Raffa adalah separuh jiwaku maka kamu adalah seluruh hidup ku, Elisa."
Bersambung π