Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.97 (Memaafkan)


__ADS_3

Setelah makan siang bersama, Elisa dan yang lain kembali ke Mansion. Hari ini Masion terasa sepi karena tidak ada Bi Nini yang biasa menyambut mereka di depan dan juga Raffa.


Melvin, Elisa Tasya dan Tante Eva naik ke lantai atas. Sementara Reynald menghentikan langkahnya naik karena mendapatkan sebuah panggilan telepon. Saat melihat layar ponselnya ia mengerutkan kening karena tidak biasanya Niko menelpon. Kalau Niko menelpon pasti ada sesuatu yang penting.


Tanpa pikir panjang, Reynald melangkah menjauh dari tangga dan langsung menerima panggilan telepon itu. "Ya Hallo Nik?"


[Rey ... Sofia melahirkan.]


"Apa! Bukanya usia kandungannya masih tujuh bulan?"


[Iya, tapi tiba-tiba saja dia mengalami kontraksi dan ... ya begitulah.]


"Bagaimana dengan anak kalian?"


[Anak kami selamat dan sedang di dalam inkubator, Sofia juga baik-baik saja.]


"Jadi sekarang kalian masih di rumah sakit?"


[Hm, rumah sakit xx. Kemungkinan kami tiga hari di sini karena Sofia masih masa pemulihan dan anak kami juga masih harus di inkubator.]

__ADS_1


"Baiklah, besok aku dan Elisa akan kesana."


[Terimakasih, Rey. Kamu sudah sangat baik kepada kami, aku dan Sofia pasti akan mengikuti persidangan setelah masa nifas Sofia selesai kami tidak akan kabur kok.]


"Oh itu ... ya aku percaya kalian, sampai jumpa besok."


Reynald mematikan panggilan telepon itu dan kembali diam terpaku terpaku. Terkadang ia lupa bahwa Sofia harus melanjutkan masa hukumannya setelah melahirkan. Tetapi tiba-tiba saja ia merasa iba, bukan karena ia masih memiliki perasaan kepada Sofia tetapi bagaimana bisa ia memisahkan anak yang baru terlahir ke dunia dengan ibunya.


Tetapi meskipun ia ingin membebaskan Sofia. Bagaimana dengan Elisa, ia tidak ingin melukai perasaan istrinya itu. Lagi-lagi Reynald tiba-tiba menjadi gundah.


...**...


Menjelang tengah malam, Elisa masih nampak sibuk di ruang kerjanya karena tugas kantor yang menumpuk. Ya, ia hanya bisa mengerjakan semuanya saat Raffa sudah tertidur.


Suara pintu terbuka membuat fokus Elisa terlihkan. Ia tersenyum saat mendapati sang suami yang muncul dengan sebuah nampan di tangannya.


"Kamu masih belum selesai?' tanya Reynald seraya meletakkan nampan berisi jus buah ke atas meja.


"Sebentar lagi sayang, kenapa kamu ingin bermesraan dengan ku, hah?" tanya Elisa dengan tatapan nakal.

__ADS_1


"Aku bisa menyerang kamu kapan saja aku mau ... tapi kali ini sedikit berbeda," ucap Reynald yang sudah duduk di hadapan sang istri.


"Kenapa kamu serius sekali, sebenarnya ada apa?" tanya Elisa yang terlihat sangat penasaran.


"Begini, tadi Niko menelpon kalau Sofia sudah melahirkan bayi mereka," ujar Reynald.


"Bukannya usia kandungannya baru tujuh bulan?" tanya Elisa yang semakin penasaran.


"Niko bilang tiba-tiba saja Sofia mengalami kontraksi tapi bayi dan ibunya selamat," ujar Reynald.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Elisa yang nampak merasa lega.


"Tapi ... itu berarti, sebentar lagi Sofia akan melanjutkan persidangan kasus yang sempat tertunda kan. Aku tidak bermaksud apapun, kamu jangan berpikir aku masih memiliki perasaan kepadanya atau apapun itu, tapi aku merasa iba jika Sofia harus berpisah dengan anaknya, apa mungkin kamu--" Reynald tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Elisa langsung mengangkat jari telunjuknya.


"Jadi maksud kamu aku harus menarik kembali laporan itu dan membebaskan dia?" tanya Elisa dengan tatapan serius hingga membuat Reynald merinding seketika.


"Ehm, aku tidak bilang begitu. Semua terserah kamu saja. Aku hanya menyarankan bagaimana kalau kita menempuh jalan damai saja toh sekarang Sofia sudah banyak berubah. Aku bicara seperti ini hanya karena rasa kemanusiaan, bayangkan bayi prematur seperti itu harus berpisah dengan ibunya," jelas Reynald.


Elisa nampak berpikir. Ucapan Reynald ada benarnya. Ia seharusnya bisa berdamai dengan masalalu dan fokus kepada kebahagiaan keluarga. Sofia adalah bagain dari cerita hidup Elisa dan juga Reynald, memaafkan seseorang yang sudah menyesali perbuatan bukan sebuah kesalahan.

__ADS_1


"Baiklah, aku pikir kamu benar. Aku harus berdamai dengan masalalu ku dan termaksud Sofia juga," ucap Elisa kepada sang suami.


Bersambung πŸ’•


__ADS_2