Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.63 (Ketahuan)


__ADS_3

Menjelang pagi, saat matahari belum menunjukkan cahayanya. Mobil yang di kendarai Niko berhenti tidak jauh dari Mansion milik Elisa. Sofia nampak sangat kesal saat melihat begitu banyak pengawal yang berjaga di depan gerbang. "Kenapa pengamanannya jadi sekerat ini, sial!"


"Sof, sebenarnya kita ngapain ke sini hah? Kamu belum menjelaskan sebenarnya rencana kamu itu apa." Niko masih nampak ke bingungan dengan sikap Sofia.


Sofia menoleh kearah Niko yang sedang menunggu jawaban darinya. "Aku mau membalas dendam dengan orang yang tinggal di rumah itu. Tapi ternyata dia bergerak cepat juga untuk melindungi diri."


"Apa! Balas dendam?" Niko nampak terkejut dengan penuturan Sofia. "Sebenarnya kamu ada masalah apa sih sama yang punya Mansion ini?"


"Akan ku ceritakan di jalan sekarang antar aku pulang."


Niko kembali menyalakan mesin mobil lalu pergi dari tempat itu.


Sofia hanya termenung seraya menatap nanar kearah jendela. Baginya kini bukan lagi memikirkan cara untuk memiliki Reynald tetapi bagaimana caranya menghancurkan kebahagiaan mereka.


Kalian tidak berhak bahagia, aku tidak akan membiarkan kalian menari-nari di atas penderitaan ku, batin Sofia.


...**...


Di tempat berbeda, Viola baru saja bangun dari tidurnya dan tidak menemukan Jack di sampingnya. Malam ini benar-benar terlewati dengan aman, ia salut kepada Jack yang bisa bersikap seperti pria sejati meski berdua dengan seorang wanita di dalam kamar yang sama.


Viola keluar dari kamar untuk mencari Jack. Matanya membulat saat melihat Jack tertidur di atas sofa. Langsung saja ia menghampiri untuk membangunkan Jack. "Kak Jack bangun!"


Jack langsung terperanjat kaget saat mendengar teriakan tepat di kupingnya. "Vio, aku sampai kaget. Kamu sudah bangun."


"Kak Jack kepada kelihatan mengantuk sekali, semalam kurang tidur ya?" Viola mendekati Jack dan memperhatikan bagian matanya. "Tuh kan sampai hitam gitu lingkar matanya."


"Em itu ... ini karena efek kopi malam tadi iya karena itu. Aku akan masak sarapan sebentar kamu tunggu saja di sini." Jack melangkah dengan cepat meninggalkan Viola yang masih kebingungan.


"Kak Jack kenapa, aneh sekali." Sejenak Viola berpikir, hingga akhirnya menemukan satu kemungkinan yang terjadi hingga Jack tidak bisa tidur. Ia melangkah cepat menuruni tangga untuk menyusul Jack.


Sesampainya di dapur, Jack nampak sedang sibuk berkutat dengan panci yang akan ia pakai untuk membuat nasi goreng. "Astaga, sejak kapan kamu berdiri di situ." Jack kaget saat ia berbalik dan Viola sedang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Malam tadi, aku tidur mendengkur keras ya makanya Kak Jack tidak bisa tidur, aku memang kadang suka mendengkur saat kelelahan." Viola nampak merasa bersalah karena kunjungan pertamanya, dia sudah membuat orang lain susah.


Jack menghela napas panjang jika ia mengingat hal apa yang membuatnya tidak bisa tidur malam tadi.


Flashback on.


Lama Jack menatap Viola yang sudah terlelap hingga akhirnya ia juga mulai mengantuk. Ia memutuskan untuk tidur memunggungi Viola.


Malam semakin larut, jam di dinding sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Jack terbangun dari tidurnya saat merasa ada sesuatu yang membelenggunya. Ia kaget saat mendapati Viola sedang memeluk dan terberingsut hingga ke dadanya.


Dia ini bisa-bisanya memeluk ku seperti ini. Aku ini juga pria biasa yang bisa khilaf, batin Jack.


Perlahan tangan Jack bergerak hendak menyingkirkan tangan Viola dari atas perutnya.


"Emmmm bonekanya hangat sekali enak di peluk, terimakasih, emuahh" Viola nampak sedang mengingau hingga mengucapkan hal aneh dan tiba-tiba mencium bagian dada Jack.


Deg...deg..deg.


"Kenapa bagian perut bonekanya keras seperti ini, tidak lembut," igau Viola lagi sambil meraba-raba bagian perut Jack.


"Astaga aku bisa gila jika terus seperti ini." Jack berusaha mengatur napas dan menormalkan diri. Ingin rasanya ia membangunkan Viola tapi tidur Viola nampak sangat lelap hingga bisa mengingau seperti itu.


Jack kembali memejamkan matanya. Ia pikir Viola sudah tidak mengigau lagi tapi ternyata.


"Benda keras apa ini, kenapa di pegang semakin keras." Viola kembali mengingau seraya menyetuh bagian sensitif Jack.


Ini tidak benar, aku harus segera keluar dari sini! pekik Jack dalam hati.


Secara spontan ia turun dari atas ranjang dan melangkah cepat meninggalkan kamar itu.


Flashback off.

__ADS_1


"Kak Jack kok bengong, ayo jawab aku. Tadi malam aku ngorok ya?" Viola kembali mengulang pertanyaannya.


"Ti-tidak terjadi apa pun, kamu tidur sangat nyenyak, tiba-tiba lampu hidup jadi aku pikir lebih baik aku keluar saja. Tapi ternyata aku sudah tidak bisa tidur lagi karena terlanjur bangun," jelas Jack panjang lebar untuk menutupi rasa gugupnya.


"Tunggu sebentar, wajah Kakak merah sekali." Tangan Viola bergerak menyentuh dahi Jack. "Tidak panas tapi kok muka Kak Jack merah sekali, bahkan telinga Kakak juga merah loh." Viola nampak khawatir namun ia tidak sadar jika tingkahnya malah membuat Jack semakin salah tingkah.


"Be-benarkah ... ahaha aku memang selalu seperti ini saat kurang tidur, bukan hanya mata ku saja yang merah tapi muka ku juga, haha. Kamu tunggu di kursi itu aku masak sarapan sebentar." Jack kembali fokus menyiapkan bahan-bahan.


Sementara Viola meski masih penasaran, ia tetap mengikuti perintah Jack untuk menunggu di kursi meja makan. Saat duduk di kursi meja makan, ia terus memperhatikan Jack yang berdiri memunggunginya.


Sejenak Viola terpana saat melihat betapa Cemara Jack saat memasak. Ternyata benar kata orang, karisma seorang pria itu terlihat semakin kuat saat dia berolahraga dan ketika dia memasak. Sepertinya kata-kata itu benar, ah kenapa aku jadi seperti ini. Apa aku menyukai Kak Jack ya, tapi bagaimana jika dia tidak menyukai ku, batin Viola.


~


Setelah selesai sarapan. Jack dan Viola keluar dari dapur dan hendak melangkah menuju lantai dua.


"Terimakasih sarapannya Kak, enak sekali. Masakan kakak memang paling best," ucap Viola seraya mengacungkan kedua jempolnya.


"Hehe, itu hanya masakkan khas anak kos, sejak dulu aku dan Reynald sudah terbiasa masak sendiri. Kami pernah buat warung nasi goreng di depan bengkel tapi sepi akhirnya bangkrut," tutur Jack.


"Benarkah, sayang sekali padahal enak. Mungkin tempatnya kurang estetik atau kurang promosi," ujar Viola.


"Entahlah, tapi sepertinya memang begitu. Ayo naik ke atas. Kamu mau ke kantor kan, aku akan mengantarmu ke rumah lalu ke kantor," ujar Jack.


"Baik sekali, terimakasih Kak Jack," ucap Viola seraya mencubit pipi Jack.


"Hey kalain berdua sedang apa?"


Mendengar suara itu sontak Jack dan Viola langsung menoleh. Betapa kagetnya mereka saat melihat Reynald dan Elisa sedang berdiri di ambang pintu ruko.


"Vio, ada apa dengan pakaian itu ... bukannya milik Kak Jack?" tanya Elisa seraya memicingkan matanya.

__ADS_1


Bersambung πŸ’•


__ADS_2