
Pukul delapan pagi waktu Melbourne Australia pesawat yang membawa rombongan Elisa terbang meninggalkan bandara udara Melbourne.
Di dalam pesawat semuanya nampak lebih memandangi langit kota itu dari jendela untuk terakhir kalinya. Ya, entah kapan lagi mereka akan kembali ke sana, apa lagi bagi Elisa kota itu sudah menjadi bagian dari dirinya yang tidak bisa di lepaskan begitu saja.
Sementara Reynald sendiri merasa belum puas melepas rindu kepada Melvin selama satu minggu berada di sana. Tetapi dengan ilmu dan demi mimpi agar Melvin bisa lebih dari dirinya, ia ingin Melvin menjadi seseorang yang besar suatu saat nanti.
Lain di dalam pesawat lain pula didepan pintu keberangkatan Bandara. Di mana Melvin dan Tasya masih duduk di kursi tunggu yang ada di sana seraya terus merenung. Entah apa yang ia renungkan yang jelas pasti mereka merasa sedih karena harus kembali menjalani hari-hari tanpa keluarga.
Melvin menoleh kearah Tasya yang tiba-tiba saja menangis tersedu-sedu. "Tidak apa-apa, jangan nangis dong. Liburan ini kita juga akan pulang, tenanglah."
"Rasanya begitu singkat, Vin. Aku masih rindu mereka." Tasya memeluk Melvin dengan erat seraya terus melepaskan sesak di dadanya, ya bersedih itu wajar dan tidak boleh di pendam agar merasa lega.
~
__ADS_1
Di tempat lain, Niko nampak berdiskusi dengan para petugas keamanan yang menjaga rumah Sofia dua puluh empat jam. Sejak beberapa hari yang lalu, ayah Niko ingin sekali bertemu dengan Sofia, entah ini adalah satu jalan untuk restu tertunda atau apapun itu, yang pasti Niko ingin sekali membawa Sofia ke rumah sakit tempat sang ayah di rawat.
"Saya tidak bisa mengizinkan Tuan untuk membawa Nona Sofia tanpa izin dari Nona Elisa langsung," ujar salah seorang petugas keamanan.
"Tapi Elisa dan keluarganya sedang pergi ke Melbourne," ungkap Niko.
"Hari ini Nona Elisw dan keluarga akan pulang jadi tuan tunggu saja mungkin sore ini mereka sudah sampai di Mansion," ucap petugas keamanan itu lagi.
Niko menghela napas panjang dan berbalik kembali masuk kedalam rumah. Di kursi ruang tamu, Sofia sedang menunggu penuh harap. Namun saat melihat ekspresi wajah Niko Sofia yakin suaminya itu tidak mendapatkan izin.
"Mereka mau aku meminta izin kepada Elisa langsung, tapi Elisa kemungkinan akan sampai ke negara ini sore nanti. Semoga saja dia memberikan izin untuk kamu keluar, karena ayah ku benar-benar ingin bertemu dengan kamu," tutur Niko.
Sofia menundukkan kepalanya, ia tidak yakin Elisa akan memberikan izin setelah apa yang sudah ia lakukan kepada Elisa dan keluarga. "Aku tidak yakin, Nik. Tapi kamu bisa mencobanya, sungguh aku juga ingin sekali bertemu dengan ayah kamu."
__ADS_1
Niko bergerak duduk di samping Sofia dan langsung memeluknya. "Aku berjanji akan mendapatkan izin dari Elisa. Kamu jangan terlalu banyak pikiran nanti bisa stress efeknya ke anak kita juga." Ia mengusap lembut perut Sofia yang sudah sedikit membuncit.
Entah kenapa mendengar ucapan Niko membuat Sofia menjadi lebih tenang. Akhirnya ia bisa kembali tersenyum kepada sang suami yang mulai mencuri hatinya karena setiap tindakan Niko yang menggetarkan hati. "Kamu lapa tidak?"
Niko memasang wajah sendu seraya mengelus perutnya. "Hm, aku sangat lapar sayang."
"Kalau begitu aku mau masak dulu, kamu mau di makan apa hari ini, kulkas kita penuh dengan bahan makanan yang kamu beli kemarin."
"Apa saja, aku suka semua masakan kamu. Sambil menunggu kamu memasak aku mau pergi ke taman samping, kemarin aku lihat banyak sisa kayu di belakang, seperti bagus di buat kursi taman," ujar Niko.
"Memangnya kamu bisa?" tanya Sofia dengan ekspresi wajah meragukan.
"Kamu jangan meragukan ku, kamu pergilah ke dapur aku mau ke belakang," ucap Niko seraya membantu Sofia berdiri dari posisinya.
__ADS_1
Akhirnya mereka pergi untuk melakukan aktivitas masing-masing. Layaknya seorang pasangan suami istri biasanya, perlahan namun pasti mereka mulai berdamai dengan keadaan terutama, Sofia.
Bersambung π