
Tidak terasa malam kian larut, setelah kepulangan Melvin, Reynald kembali ke dalam kamarnya. Ia mendapati sang istri baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang membalut tubuh basahnya.
"Kamu mandi semalam ini?" Reynald melangkah menghampiri sang istri yang sedang mengeringkan rambutnya.
"Aku merasa badan pegal-pegal, berendam air hangat memang paling ampuh untuk melemaskan otot-otot. Melvin sudah pulang?"
"Hm, baru saja. Sepertinya dia menyukai Tasya tapi tidak bisa mengungkapkannya. Aku jadi ingat diriku sendiri waktu seumuran dengannya."
Ekspresi wajah Elisa tiba-tiba saja berubah menjadi menakutkan. "Apa tadi kamu baru saja membahas masa remaja mu saat bersama ular phiton itu?"
Reynald segera menggeleng cepat saat mendapati tatapan mengerikan istrinya. "Bu-bukan begitu aku hanya ingat saat itu aku juga orang yang tidak percaya diri." Reynald me dekat dan langsung memeluk istrinya. "Sudah ya jangan bahas itu lagi."
"Kamu sih mancing, aku jadi penasaran bagaimana keadaan dia sekarang. Sejak kamu sakit dan kembali sadar, aku sudah tidak pernah melihatnya lagi."
Reynald terdiam sejenak. Ia kembali mengingat jika belum menceritakan kejadian malam sebelum kejadian itu kepada Elisa, ia pikir istrinya itu mengetahui semuanya karena pada dasarnya itu semua sudah berlalu.
"Semoga dia juga sudah menemukan kebahagiaan lain di luar sana. Kamu tidak perlu khawatir karena semua yang ada pada diriku ini adalah milik kamu seorang, apapun yang terjadi aku akan terus bertahan. Reynald mengeratkan pelukannya. Ia mencium kepala sang istri, wangi shampoo yang begitu menggelitik indra penciumannya membuat hasratnya kembali bangkit.
"Rey, kamu tidak mau melepaskan aku, aku mau ke walk in closed, mau ganti baju tidur." Elisa mencoba melepaskan diri namun Reynald malah menciumi bagian punggung hingga membuka jubah mandinya sedikit.
"Akh, Rey geli. Jangan bilang kamu mau anu. Aku baru selesai mandi." Elisa berusaha melepaskan diri namun yang terjadi jubah mandinya malah terbuka sempurna.
Reynald menyusuri bagian tubuh sang istri dengan kedua tangannya. Tanpa basa-basi ia membawa Elisa ke atas ranjang dan kembali mengungkungnya. "Aku mau lagi dan lagi. Kamu tidak pernah membuat ku bosan sayang."
Akhirnya Elisa hanya bisa pasrah dan mengikuti permainan suaminya. Eluhan dan de*sahan kembali terdengar menggema di ruangan itu. Untung saja tidak menggangu tidur Baby R.
...**...
__ADS_1
Keesokan harinya, di depan rumah sederhana milik keluarga Viola. Jack sedang berdiri di depan pintu, rasanya begitu gugup karena ini adalah kencan pertama seorang Jack. Perlahan tangannya bergerak mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Klek.
"Eh Kak Jack sudah datang," ucap Viola yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu.
Namun Jack heran karena Viola belum bersiap-siap. "Kamu kok masih pake daster, kita jadi pergi kan?"
"Jadi kok jadi ... cuma aku kesiangan, biasanya kalau hari libur aku memang tidur sampai siang," jawabnya.
"Kalau begitu kamu bersiap-siap saja, aku tunggu di sini," ujar Jack.
"Tunggu di dalam saja Kak, di teras panas. Aku mandi cuma sebentar kok." Viola membuka pintu itu lebar-lebar. "Ayo silahkan masuk."
Jack nampak canggung karena baru pertama kali bertamu di rumah seorang wanita. "Ibu kamu tidak ada ya?"
"Ibu kan tinggal di Mansion, Ibu hanya libur dua kali dalam sebulan. Jadi aku tinggal sendiri di sini," Viola menghentikan langkahnya saat sampai di ruang tamu rumah itu. "Duduk dulu Kak, aku mandi sebentar."
~
Dua puluh menit berlalu....
Viola belum juga menampakkan batang hidungnya. Karena bosan Jack beranjak dari tempat duduknya, melihat bingkai foto yang terpasang di dinding. Ada banyak foto di sana, ia nampak terkesan saat melihat foto wisuda Viola di universitas Jepang dua tahun lalu.
"Ternyata dia wanita yang sangat berprestasi, bisa-bisanya aku yang cuma pria bau oli ini mengajak berkencan," gumam jack saat melihat foto dan piagam penghargaan Viola.
"Kak Jack sedang apa?" tanya Viola yang tiba-tiba sudah berada di samping Jack.
__ADS_1
Jack yang nampak kaget menoleh kearah Viola. "Kamu mengagetkan saja. Ini aku benar-benar tidak menyangka kamu lulusan universitas Jepang," jawabnya.
"Oh itu. Aku juga kuliah di sana karena beasiswa, sebenarnya aku di tawarkan pekerjaan yang bagus di sana saat baru saja lulus tapi Ibu meminta aku pulang untuk mendampingi Nona Elisa mengurus perusahaan," jelas Viola.
Mendengar hal itu, Jack semakin tidak percaya diri. "Oh begitu ya, kamu pasti akan menjadi orang yang besar suatu saat nanti."
"Semoga saja Kak. Oh iya coba tebak siapa orang di foto ini." Ia menunjuk foto besar yang terletak di dinding bagian atas."
"Em, sepertinya yang sebelah kiri itu Ibu kamu ya karena sangat mirip dengan mu tapi yang di sebelahnya ...." Jack terlihat kebahagiaan kebingungan melihat potret seorang wanita yang berdiri di samping Ibu Viola.
"Itu Mamanya Nona Elisa. Namanya Nyonya Arlita beliau meninggal saat Nona masih kecil ... meninggal karena frustasi sampai bunuh diri, Tuan Edo Eduardo berselingkuh dengan seorang wanita yang juga ibu sahabat Nona, kasihan sekali," tutur Viola.
Jack memandangi foto itu secara seksama. Akhirnya ia semakin mengerti kenapa Elisa begitu menjaga Reynald dari Sofia. Ternyata Papanya pernah selingkuh, pantas saja dia sampai meminta ku untuk menjadi mata-matanya."
...**...
"Lepaskan tanganku, kalian mau membawa saya kemana hah!" pekik Mama Sofia saat petugas dari panti Rehabilitasi khusus untuk pecandu alkohol menarik Mama menuju mobil petugas.
Sementara Sofia yang berdiri di depan teras hanya diam dan memandangi sang Mama yang berteriak histeris. Para tetangga yang berkerumun di depan halaman pun sudah tidak ia perduli kan.
Sudah cukup selama ini, sang Mama membuatnya frustasi. Ia sudah tidak perduli tentang pandangan orang-orang sekitar, yang penting Mamanya bisa sembuh dari kecanduan Alkohol yang saat ini di alami.
"Sofia cepat tolong Mama, Mama tidak mau di bawa ke panti. Kamu tega sekali, kamu membuang Mama hah!" Mama masih saja menolak untuk di bawa ke panti.
Sofia tidak juga bergeming. Sampai akhirnya para petugas itu berhasil membawa Mama masuk kedalam mobil dan tancap gas meninggalkan tempat itu
Sofia melangkah masuk kedalam rumah dan langsung mengunci pintu. Ia duduk di sofa ruang tamu dan mulai menangis tersedu-sedu. Sebenarnya begitu berat untuknya, namun kalau tidak seperti itu sang Mama bisa saja mencelakainya. "Sekarang sudah tidak ada lagi yang akan membuat ku frustasi, aku bebas."
__ADS_1
Bersambung π
Jangan lupa like+komen-vote ya reader terimakasih.