
Jack melambaikan tangannya saat melihat Viola yang tengah duduk di salah satu kursi di samping jendela cafe. Ia melangkah menghampiri Viola dengan langkah yang lebih cepat. "Kamu sudah menunggu lama ya?" Jack mengambil posisi duduk di hadapan Viola seraya mencomot kentang goreng yang tersedia di atas meja.
Viola menghela napas panjang kemudian meneguk minumannya lagi. Ia meletakkan gelas yang sudah kosong itu ke atas meja lalu kembali menatap Jack. "Huh, hari ini aku lelah sekali. Tiba-tiba dapat tugas dadakan dari Nona Elisa."
"Tugas dadakan, apa itu?." Jack meraih minuman yang sudah di pesanku oleh Viola sebelum ia sampai. Ia terburu-buru saat hendak ke tempat itu hingga tenggorokannya terasa sangat kering, di tambah perut lapar yang membuat ia melahap semua yang ada di atas meja.
Viola menyodongkan tubuhnya kedepan, raut wajahnya nampak sangat serius kali ini. "Nona Elisa akan memberikan pesta kejutan untuk Tuan Reynald, besok malam." Ia kembali menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi. "Aku baru saja selesai mengurus gedung, katering dan juga dekorasi tempat pesta, lelah sekali."
"Wah Sultan memang beda ya, anniversary saja pake sewa gedung seperti acara nikahan saja." Jack menggerakkan tangannya mengusap lembut pucuk kepala Viola, "Kamu sudah bekerja keras, gadis baik."
Seketika wajah Viola kembali memerah. Aliran darahnya terasa begitu cepat hingga membuat bulu kuduk berdiri. "Ehm, ya aku memang orang yang perfeksionis dalam perkejaan." Ia terlihat salah tingkah sendiri, sampai-sampai ia kembali meraih gelas kosong itu. "Ah sudah habis ternyata." Ia kembali meletakkan gelas itu dan mencoba menormalkan diri.
Huh aku ini payah sekali, jelas terlihat jika aku sedang salting kan, batin Viola.
Jack berusaha menahan tawanya saat melihat tingkah Viola. "Kamu mau aku pesankan minuman lagi?"
"Tidak usah Kak ... oh iya untuk acara besok, Kakak bantu aku ya, acaranya akan di mulai besok malam jam tujuh di hotel X. Tapi sebelum acara di mulai Kakak datang untuk membantu aku mehandel acaranya."
"Siap bos. Kali ini kita sukses kan acara mereka lain kali acara kita yang di buat sukses, haha." Ucapan itu terlontar begitu saja hingga Jack akhirnya sadar jika sudah salah bicara. "Maksud ku bukan begitu ... aku berharap suatu saat nanti jika aku atau kamu punya acara bisa sukses juga, begitu."
"Ehm, ya semoga saja."
__ADS_1
"Oh itu, malam ini juga Reynald sedang membuat kejutan sederhana di ruko untuk Elisa tadi sebelum kesini, aku menunggu Elisa datang dulu makanya lama." Jack berusaha mengalihkan pembicara untuk mengusir rasa canggung antara mereka.
"Benarkah? Wah Nona dan Tuan memang pasangan yang serasi. Hidup mereka juga sempurna dengan hadirnya Raffa, kapan ya aku bisa merasakan hal seperti itu, kalau sekarang umur ku sudah dua puluh empat setidaknya aku juga harus menikah tahun depan, apa aku ikut kencan buta saja." Viola nampak berpikir namun sebenarnya itu adalah kode.
Ekspresi wajah Jack tiba-tiba saja berubah saat Viola mengucapkan kata kencan buta. "Ka-kamu masih muda, untuk apa ikut acara seperti itu, banyak orang yang tertipu dengan acara seperti itu. Jodoh itu tidak perlu di cari cukup lihat yang di sekitar mu saja, bisa jadi orang-orang di sekitar mu itu adalah jodoh mu."
Lengkungan senyum terlihat menwarnai wajah manis Viola, ia menyodongkan tubuhnya dan menatap intens Jack yang ada di hadapannya. "Contohnya?"
Deg..deg..
Lagi-lagi irama jantung Jack tidak beraturan karena di tatap seperti itu oleh Viola. "Emm itu ... mungkin dia ... oh itu bisa saja tukang bubur yang ada di samping rumah mu atau tukan sate yang ada di depan rumah mu, sepertinya mereka menyukai mu loh, jodoh bisa datang dari mana saja, hahaha." Jack tekekeh sendiri melihat ekspresi wajah Viola yang tiba-tiba berubah cemberut.
"Kak Jack kau menyebalkan dan tidak peka, aku benci." Viola terlihat sangat kesal. Ia meraih tasnya dan beranjak pergi dari tempat itu.
Tanpa mereka sadari sejak tadi, di sebuah meja yang ada di belakang Sofia, ada orang yang memakai hoodie hitam duduk di sana dan mendengar semua yang Jack dan Viola bicarakan.
Orang itu membuka topi hoodie yang di pakainya, ternyata dia seorang perempuan. Ya, siapapun yang menebak jika itu adalah Sofia, maka jawabannya adalah benar.
Sejak kemarin ia memantau gerak gerik Elisa dan orang di sekitarnya. Ternyata keputusannya untuk mengikuti Viola benar-benar tepat. Ketika ia mengetahui besok malam Elisa akan membuat acara anniversary, ide jahat mulai menari-nari di kepalanya.
I be back, tunggu pembalasan ku, batin Sofia.
__ADS_1
Jack menoleh ke kanan kiri untuk mencari keberadaan Viola, ternyata orang yang ia cari sedang menyebrang jalan. "Vio tunggu aku!"
Viola tidak bergeming dan terus melanjutkan langkahnya. Mobilnya memang terparkir cukup jauh dari cafe karena cafe itu tidak mempunyai lahan parkir. Hal seperti itu memang sudah biasa terjadi di kota besar, lahan parkir yang semakin susah karena pemukiman penduduk yang semakin padat.
Di era globalisasi, polusi yang semakin menyesakkan dan manusia yang semakin keluar batas kodratnya. Begitu banyak tranportasi dan alat elektronik yang di ciptakan yang katanya untuk mempermudah namun pada kenyataan membuat manusia semakin malas, semua serba mesin dan praktis.
"Vio, kamu marah." Jack berhasil meraih tangan Viola yang hendak masuk kedalam mobil.
Viola terdiam sejenak, ia berpikir kenapa ia harus marah seperti sekarang kadang kata hati memang membuat orang kehilangan jati dirinya. "Huh, maaf kak sepertinya aku benar-benar lelah makanya jadi sensitif. Aku mau pulang dulu ya, sampai jumpa besok sore."
Viola melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Jack lalu masuk kedalam mobil. Jack hanya bisa bisa memandangi kepergian Viola tanpa bisa mengatakan apapun.
"Astaga, gini amat jadi jomblo. Mau dapat pacar aja nggak bisa ngungkapin, padahal tadi momennya lagi pas, payah..payah," gerutu Jack pada dirinya sendiri.
Setelah mobil Viola menghilang dari pandangannya, Jack kembali ke cafe untuk mengambil motornya yang terparkir di sana.
Namun saat akan naik ke atas motor, ia melihat wanita yang tidak asing baru saja keluar dari cafe itu. "Sofia." panggil Jack.
Mendengar suara itu, Sofia menghentikan langkahnya sejenak, ia menoleh perlahan saat melihat orang yang memanggilnya ada Jack ia segera berlari pergi dari tempat itu.
Jack mengerutkan keningnya saat melihat respon Sofia ketika ia memanggilnya. "Kenapa dia, aneh sekali," gumam Jack seraya memandangi kepergian Sofia.
__ADS_1
Bersambung π