
Di sebuah cafe yang ada di pinggir sungai Melvin dan rombongan Maura mulai terlihat kurang nyaman saat melihat Melvin dan Tasya yang secara terang-terangan bermesraan di depan kedua orangtuanya. Ia malu kepada orang tuanya karena pernah mengaku mempunyai perasaan kepada Melvin tetapi nyatanya Melvin sudah mempunyai pacar.
"Ehm, kalian sudah pacaran lama?" tanya Maura.
"Sebelum kuliah di Melbourne kami sudah saling jatuh cinta. Tapi dia menyatakan perasaannya saat kami sampai di Melbourne, kami juga tinggal bersama di sini," ujar Tasya mendahului Melvin.
"Oh seperti itu, ka-kalian terlihat sangat cocok sekali. Kapan-kapan kalau aku kembali ke tanah air, aku mau jalan-jalan sama kalian lagi. Mungkin libur akhir tahun ini," ujar Maura.
"Tentu saja, kami pasti akan sangat senang. Kembali lah jangan terbiasa dengan makanan bule sampai lupa dengan masakkan Nusantara," ucap Melvin yang terdengar sangat tulus dan juga tidak enak dengan Maura.
tringg...tringg.
Ponsel milik Tasya tiba-tiba berdering tanda panggilan masuk.
"Hallo, Ma kenapa?"
__ADS_1
[Sunscream Mama ketinggalan di tas kamu deh, bawa ke sini dong, Mama tidak mau terbakar matahari.]
"Nah tapi Mama kan di restoran sama Bi Nini dan Raffa."
[Pokoknya antar saja sekarang.]
Panggilan telepon itu terputus sebelum Tasya mengucapkan apapun lagi. Ia kembali meletakkan ponselnya di dalam saku celananya. "Sepertinya aku harus pergi sebentar, krim anti matahari Mama ketinggalan di tas ku. Aku cuma sebentar kok."
"Oke, aku tunggu di sini sama Maura. Karena kita sudah terlanjur memesan makanan jadi tidak bisa pergi," ujar Melvin.
"Iya tidak apa-apa, aku hanya sebentar saja." Tasya melangkah cepat meninggalkan tempat itu seraya mengenakan jaket, tas dan kacamatanya.
Melvin menegapkan kepalanya menatap Maura. "Hah, tidak kok. Aku hanya tidak enak saja karena Tasya sepertinya bersikap berlebihan sama kamu, maaf ya. Tapi sebenarnya dia orang yang baik kok."
"No problem, aku mengerti kok. Aku benar-benar tidak tau kamu sudah punya pacar, malam itu bahkan aku memeluk kamu di depan dia, wajar kalau di menganggap aku ancaman." Maura kembali menyeruput kopinya untuk merilekskan tubuh yang terasa tegang dan mengurangi sesak di dada.
__ADS_1
"Terimakasih, kamu wanita baik. Aku berharap kita berteman, baik itu aku, kamu dan Tasya."
Mendengar ucapan Melvin Maura diam sesaat. Dalam hati ia menginginkan lebih dari ini, berteman dengan Melvin dan Tasya hanya akan membuat ia semakin menderita. Tetapi apakah ia punya pilihan lain selain menerima tawaran Melvin? Tentu saja tidak. "Hm, aku senang bisa mempunyai teman seperti kamu dan Tasya, tapi ada satu hal yang harus aku sampaikan sama kamu, Vin."
Melvin mengerutkan keningnya heran, "Apa itu?"
"Sejak pertama kamu masuk ke kelas, aku sudah respect karena kamu satu negara dengan ku, tapi semakin lama aku mulai melenceng, aku menginginkan hal yang lebih, aku ... menyukai kamu, Vin."
Deg.
Melvin nampak kaget hingga menyadarkan tidak di sandaran kursi. "Ka-kamu tidak bercanda kan? Ini seperti mustahil sekali."
"Hm aku tidak bercanda, aku serius. Tapi tenang saja aku tidak meminta kamu menjawab perasaan ku kok. Aku tau kamu sangat mencintai Tasya. Aku hanya berpikir aku akan semakin tersiksa jika tidak mengungkapkannya sekarang. Hufft, sekarang aku sudah merasa lebih baik, kamu tenang saja aku akan baik-baik saja kok."
"Maafkan aku Maura. Kamu pasti sangat terluka. Aku akan tetap ada untuk kami sebagai teman, ingat jangan menjauh hanya karena ini, okey."
__ADS_1
"Okey." Maura berusaha tersenyum meski hatinya menangis. Cinta pertama memamg tak selalu tepat sasaran. Ada kalanya seseorang mencintai pacar orang lain bahkan ada pula yang mencintai suami orang lain. Cinta tidak pernah salah, tetapi jika seorang menggunakan logika maka ia akan berhenti sebelum menghancurkan dirinya sendiri.
Bersambung π