Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.76 (Keputusan)


__ADS_3

Elisa membuka matanya perlahan, ia mengerutkan keningnya heran saat melihat sang suami yang memandanginya sambil berdiri tidak jauh dari ranjang. "Rey, kamu kenapa berdiri di situ."


Reynald segera tersenyum kepada Elisa dan melangkah mendekat. Ia kembali berbaring dan memeluk sang istri dari belakang. "Aku sangat merindukan kamu, sayang." Ia menciumi belakang leher Elisa hingga berkali-kali.


Elisa ingin berbalik,tetapi ada Raffa yang masih tertidur nyenyak. "Aku juga, tapi sekarang situasinya sedang tidak mendukung ... tunggu dulu, kenapa kamu tiba-tiba manja seperti ini?"


Reynald terkekeh kecil ketika mendengar ucapan sang istri. Ia sebenarnya ingin menyampaikan hal yang ia bicarakan dengan Niko tadi kepada, Elisa. "Kamu memang pintar menebak, aku memang ingin membicarakannya sesuatu, tapi nanti saja tunggu Raffa bangun.


"Aku jadi penasaran, katakan saja pelan-pelan."


"Ck, ya aku bisa mengatakannya dengan suara pelan, tapi aku yakin respon yang kamu berikan tidak akan bisa bicara dengan pelan, sabarlah. Nanti kita bicarakan berdua." Reynald kembali mengeratkan pelukannya dan menciumi leher jenjang sang istri.


"Sayang geli ...." eluh Elisa pelan, pada sang suami.


"Jangan memanggil ku sayang di saat seperti ini, bagaimana jika aku mau tapi kamu tidak bisa memberikannya." Reynald merasa sekujur tubuhnya menegang saat mendengar suara Elisa seperti itu.


...**...


Niko kembali kedalam ruang rawat Sofia setelah selesai bicara lewat telepon dengan, Reynald. Ia membuka pintu itu dan berhenti sejenak di ambang pintu. Nampak Sofia sedang duduk termenung di atas ranjang rumah sakit.


Meski masih kesal, tetapi Niko berusaha untuk menahan diri demi calon bayinya. Ia menghela napas panjang kemudian kembali melangkah mendekati Sofia. "Kamu kenapa termenung seperti itu?"


Sofia menoleh kearah sumber suara. Ia tertegun sesaat, menatap Niko yang kini sudah duduk di hadapannya. "Kamu dari mana saja?"

__ADS_1


Akhirnya Niko bisa tersenyum ketika mendengar pertanyaan Sofia padanya. "Ternyata kamu masih mencari ku ya ... aku kira kamu tidak mau bertemu aku lagi."


"Aku sudah tidak punya siapapun yang bisa di andalkan di saat seperti ini, apa kamu juga ingin lari dari tanggung jawab?" Sofia nampak masih terlihat segan kepada Niko, meski sebenarnya ia membutuhkan ayah dari calon bayinya itu.


Niko meraih tangan Sofia lalu di genggam dengan erat. "Aku tidak akan meninggalkan kamu, tapi aku mohon berubah lah dari sekarang. Hapus semua dendam itu, kita mulai kehidupan baru. Aku tau, aku juga bukan pria yang baik. Aku suka bermain perempuan, mabuk-mabukan. Tapi aku janji akan berubah. Ayo kita sama-sama menjadi lebih baik."


Sofia menatap mata Niko lekat. Ia bisa melihat jika pria yang ia anggap pelampiasan itu, sangat tulus kepadanya. Tatapan yang sama yang dulu pernah Reynald berikan kepadanya.


Akankah benar-benar ada cinta setulus Reynald dulu. Apa ini kesempatan kedua untuk ia bahagia, kata-kata itu terus terngiang-ngiang di dalam kepalanya, meski masih ragu tetapi itu adalah awal yang baik.


Karena meruntuhkan hati yang sempat membeku dan menaklukkan ego yang begitu besar tidak lah semudah yang di bayangkan. Pada dasarnya, untuk menumbuhkan cinta memang butuh waktu dan kesabaran.


"Kamu benar-benar menginginkan anak ini?" tanya Sofia tiba-tiba.


"Tentu saja, kamu harus menjaganya dan jangan pernah berpikir untuk mengugurkan anak itu ... kamu tau, tadi aku sempat kecewa karena kamu seolah tidak senang mengetahui jika kamu sedang hamil." Niko kembali tersenyum kepada, Sofia.


"Ayo kita menikah, Sof," ujar Niko tiba-tiba.


"Menikah dengan narapidana? Hey kau gila ... tenang saja, aku akan melahirkan anak ini dengan selamat setelah itu kamu boleh mengambilnya dan urusan antara kita selesai."


Niko menatap Sofia tidak percaya, ia sedang mengusahakan yang terbaik namun Sofia seolah tidak menghargai semuanya. "Aku sedang membujuk Reynald untuk melepaskan kamu, begini saja jika kamu benar-benar lepas dari penjara, berikan aku waktu sampai anak itu lahir. Jika dalam waktu itu kamu belum juga mencintai ku, aku akan mundur dengan membawa bayi itu. Jadi sekarang menikahlah denganku, Sofia."


Sofia lagi-lagi di buat terpaku oleh ucapan Niko. Hatinya kembali tersentak, saat ia mundur satu langkah, Niko maju dua langkah. Setelah Reynald pergi dari hidupnya, Niko seolah kembali dengan perasaan yang sama seperti yang di tawarkan Reynald dulu, akankah Sofia kembali mengabaikan Niko sebagaimana Reynald dulu? ... Kalau memang iya, seharusnya dia tidak akan merasakan penyesalan yang sama.

__ADS_1


Setidaknya anak ini tidak boleh lahir tanpa papanya, apa aku harus memberikan kesempatan kepada, Niko ... kenapa hidup ku jadi seperti ini, batin Sofia.


...**...


Di sebuah Restauran yang ada di hotel tempat Elisa dan Reynald menginap.


"Apa! Bebas?" Elisa sampai berdiri dari posisi duduknya saat mendengar penuturan sang suami. Ia tidak menyangka jika Sofia akan hamil di saat terancam hukuman penjara.


Reynald mendongakkan kepalanya menatap Elisa lalu kembali menunduk seraya menghela napas panjang, ia sudah menduga Elisa akan merespon seperti ini. "Makanya aku tidak mau bicara di kamar tadi, aku sudah menduga kamu akan berteriak seperti ini."


Elisa kembali duduk di kursinya. "Maaf, aku benar-benar kaget. Aku bukannya tidak mau, tapi kamu tau sendiri kan, ular akan tetap menjadi ular meski dia sudah berganti kulit sekalipun. Aku tidak mau mengambil resiko jika menyangkut keselamatan keluarga kita," jelas Elisa.


"Iya aku tau, El. Tapi kamu tau sendiri kan, hamil itu sangat sulit apalagi di fase awal. Meskipun dia sudah melakukan kesalahan besar, tapi karena sekarang ada Niko di sisinya aku lebih tenang, aku yakin dia bisa kembali seperti dulu dan memulai hidupnya."


Elisa menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi. Sejenak ia mencoba berpikir keras, ia takut salah mengambil keputusan yang berakhir pada penyesalan. Sudah cukup kejadian malam tadi hampir membuatnya kehilangan semangat hidup untuk kesekian kalinya.


"Aku tidak mengerti kenapa kamu masih perduli kepada wanita itu, meskipun aku tau kamu tidak lagi mencintainya tapi apa dia begitu berharga?" tanya Elisa tiba-tiba.


Reynald kembali menghela napas berat. "Bukan seperti itu, sayang. Ini murni hanya karena rasa kemanusiaan saja. Aku tidak akan memaksa kamu, aku hanya menyampaikan permintaan Niko. Aku akan menyetujui apapun keputusan kamu sekarang."


Elisa kembali terdiam, mencoba memikirkan matang-matang sebelum memutuskan. Setelah beberapa saat ia kembali menatap sang suami. "Baiklah, dia tidak akan masuk bui. Tapi aku punya jalan lain agar dia tidak bisa melakukan hal macam-macam pada keluarga kita."


"Apa itu?" tanya Reynald.

__ADS_1


"Dia akan menjadi tahanan rumah, dia nanti di pantau oleh pihak kepolisian. Kalau perlu aku akan menyewa orang untuk berjaga-jaga di sekeliling rumahnya, ini hanya akan berlaku sampai ia melahirkan, setelah itu sidang kasus ini akan segera berlanjut, aku hanya mematuhi UUD tentang perlindungan wanita dan anak. Jika dia tidak ingin menginap di balik jeruji, hanya itu jalan satu-satunya," tutur Elisa lalu kembali menyeruput kopinya. Reynald sampai terperangah saat mendengar ucapan sang istri yang sudah seperti seorang pengacara.


Bersambung πŸ’•


__ADS_2